Mentor Tercinta

Akhir tahun ini saya memasuki periode baru dalam menulis. Ya, saya memutuskan bangkit dan menulis lagi, setelah agak lama kurang aktif menulis. Tidak bisa dibilang vakum, sih, karena saya masih tetap menulis setidaknya untuk beberapa blog bisnis kami (saya dan suami), juga beberapa note di facebook. Saya hanya tak lagi menulis untuk media massa dan blog pribadi saya. Nah, beberapa bulan lalu, saya menemukan semangat kembali menulis, dan bertekad, tahun depan saya harus sudah menulis buku.

Impian ternyata tak semudah saat membayangkannya.Terasa terseok-seok saya mewujudkannya.Ada saja sebabnya, mulai tugas kantor yang juga adakalanya menyita tenaga, urusan rumah dan anak-anak, belum lagi urusan bisnis.Meski kesemuanya, sebenarnya tak dapat dijadikan alasan. Tapi, tanpa bisa ditahan, saya stuck di satu titik. Didepan laptop seakan tulisan tak mau mengalir, maka berjam-jam duduk, hampir tak ada yang dihasilkan.

Ditengah kondisi buntu menulis, sibuk di kantor pula, suami memberi saya “tugas”. “Buat empat artikel, Bun. Berbeda judul tapi tetap satu tema yang saling dukung!” Katanya. Hah, apa pula nih? Pikir saya, orang stuck bukannya diajak jalan-jalan, kek. Eh, malah dikasih order tulisan. “Sudah, kerjakan saja. Bisa”, katanya mantap.

Malam itu juga, saya langsung kerjakan pesanan beliau. Empat judul, langsung saya riset, dan saya buat kerangkanya. Done! Besok akan saya selesaikan, pikir saya. Lalu besoknya kami liburan, mengunjungi Ibunda saya.

Sepanjang perjalanan, sambil beliau menyetir, kami berdiskusi. Topiknya masih tentang menulis.Sepanjang perjalanan, saya seperti sedang menghadiri seminar motivasi. Suami tak henti-henti memberikan semangat untuk menulis. “Pasti bisa menulis, dulu menulis skripsi bisa kan? Tebal pula” Beliau juga berkata,
“Kuncinya hanya terus menulis, tidak ada cara yang lebih baik meningkatkan kemampuan menulis, selain “menulis saja”

Malamnya, seusai mengunjungi ibunda saya, saya berniat menyelesaikan satu artikel pesanannya. Namun ditengah pekerjaan menulis tersebut, saya tergoda membuka file naskah, dimana saya stuck sebelumnya.Tiba-tiba saja kebuntuan itu mencair, tak disangka, saya selesaikan bagian tersebut.

Di saat yang sama, saya juga tergoda untuk menulis di blog, yang sudah agak lama dan sangat jarang saya isi.Hanya beberapa menit, saya posting sebuah tulisan disana. Artikel pesanan suami, akhirnya terselesaikan juga meski diselingi menulis dua tulisan yang berbeda.
20130303_174927
Ah,tampaknya saya sekarang punya mentor. Saya simpulkan, kenapa beliau memberi saya order menulis empat artikel, tak lain untuk refreshing dari tulisan yang sedang buntu. Beralih dari satu tulisan di saat stuck, ke tulisan lain yang lebih segar dan ringan, ternyata menjadi satu terapi kebuntuan yang sangat mujarab. Tak sekedar refreshing, tulisan yang ringan itu juga relatif mudah diselesaikan, sehingga akan memompa kembali rasa percaya diri. Keuntungan lainnya, jika tulisan dimana kita stuck dan tulisan ringan tempat kita “lari” adalah tema yang sama, ternyata kita terstimulasi untuk mengatasi penyebab stuck tersebut dengan cara yang lebih mudah.

Nah, Sekarang saya tahu, kemana saya harus lari ketika stuck! Thanks Ayah!

5 tanggapan untuk “Mentor Tercinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s