“Salah Jalan” dan Terjatuh di Lawang Sewu

Lawang Sewu Sejarah, Keindahan dan Horor
Lawang Sewu Sejarah, Keindahan dan Horor

Lawang Sewu adalah salah satu landmark kota Semarang. Bangunan ini boleh jadi makin beken karena kerap angkat sisi horornya. Hiyyy…. Letaknya di pusat Kota Semarang, persis berseberangan dengan Tugu Muda. Bangunan ini berdiri kokoh dengan anggunnya. Dari kejauhan saya memandangnya, menurut saya lebih dominan sisi artistik dan kekunoannya daripada unsur horornya. Tapi kenapa, ya justru sisi horor ini yang sangat sering dibicarakan.

Kunjungan ke Lawang Sewu, sebenarnya sudah menjadi keinginan sejak lama. Sayangnya pada beberapa kunjungan sebelumnya ke kota loenpia saya belum sempat memenuhi keinginan ini. Akhirnya ini menjadi bagian dari liburan kami sekeluarga, di akhir tahun 2013 lalu. Hayuk ah, ke Lawang sewu. Ibaratkan ibu ngidam, jangan-jangan ngiler jika tak keturutan. Maka siang itu, setelah melihat-lihat Klenteng Sam Poo Kong, berangkatlah kami ke Lawang Sewu.

Tiketnya murah saja (horeee…) sepuluh ribu saja buat orang dewasa. Setelah mendapat tiket, masuklah kami. Kesan pertama, tamannya tertata apik, melengkapi penampilan bangunan secara keseluruhan. Baru sampai di halaman depan, si sulung yang sangat cinta transportasi khususnya bisa dan kereta api, langsung ribut. Rupanya dia melihat lokomotif tua yang berada di bagian pojok kanan depan halaman Lawang Sewu. “Okelah gak papa, kita ke sana dulu”, kata suami. Padahal arah lokomotif itu berada berlawanan dengan arah jalur masuk. Itu artinya jika kami kesana, kami akan melawan arus pengunjung lainnya. Tapi, daripada si sulung ribut, maka kami turuti saja kemauannya.

Asa, anak lanang kami yang sulung, begitu antusias melihat lokomotif tua. Riangnya mereka (anak-anak dan ayahnya) bermain di atasnya. Saya menonton saja dari bawah. Kebetulan saat itu sedang ramai, banyak pengunjung terutama ABG, berfoto narsis di loko tersebut. Suami melambai, minta saya mendekat dan minta difoto. Okelah, maka saya foto. Disinilah awalnya …. Jreng…..jreng….*Sound eek ngeri.

Tak lama setelah saya memotret mereka dan ganti suami yg memotret saya dan anak-anak, si Kecil berniat turun. Saya melihat dia kesulitan, maklum loko tersebut lumayan tinggi. Saya pun mendekat menawarkan bantuan. Tanpa saya prediksi, si adek meloncat ke gendongan saya. Saya tak siap, oleng… lalu terjatuh. Untungnya, si adek aman di gendongan saya, hanya kaki kanan saya yang jadi korban. Keseleo dan memar, saya jadi kesulitan melanjutkan perjalanan yang bahkan baru saja dimulai. Kami putuskan duduk dulu sampai kaki saya agak terasa nyaman, lalu dengan dipapah, kami lanjutkan mengitari bangunan.

Karena kondisi kaki yang demikian nyeri, saya mencari tempat nyaman untuk duduk kembali, sementara anak-anak dan suami bisa melihat bagian lain dari gedung ini. Aha…saya menemukan tempat yang perfect. Di bawah pohon rindang, dan tepat didepan saya tersaji musik Keroncong yang membuai.

Tempat duduk yang sempurna!
Tempat duduk yang sempurna!

Ya, tempat yang sempurna! Dari sini, saya melihat dan menikmati musiknya. Tepat di depan saya, di bawah pohon besar nan rindang, satu grup musik keroncong bermain, menghibur pengujung. Pengunjung yang berminat dapat ikut bernyanyi atau berfoto bersama mereka. Salah satu lagu mereka yang sangat berkesan yaitu “You raised me Up” nya Josh Groban.  Ternyata lagu itu dengan versi keroncong malah jauh lebih “mengena”, lo!

Sedang enak-enaknya menikmati musik keroncong, eh ternyata anak-anak dan suami sudah selesai berkeliling. Setelah foto-foto lagi sejenak, kami putuskan untuk pulang saja. Maka dengan dipapah dua krucils, saya berjalan tertatih menuju area parkir. Benar-benar perjalan yang berkesan. Bangunan yang Indah, musik keroncong, daaan… karena cedera akibat jatuhnya, baru pulih sekitar sebulan sesudahnya . Ha…ha…. Saya masih ingin kembali ke sini, mungkin liburan yang akan datang. Karena sebenarnya saya cukup “gatal” untuk ikut menyanyi bersama orkes keroncong di bawah pohon itu. Sayangnya kaki nyeri saya waktu itu, membuat saya hanya cukup puas menjadi pendengar, nun di kejauhan. Lawang Sewu…I’ll be back!

Markipul sajalah naak, dipapah duo krucils tertatih menuju area parkir
Markipul sajalah naak, dipapah duo krucils tertatih menuju area parkir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s