Teh, Sebuah Tradisi …

Gambar

Teh adalah tradisi, setidaknya di keluarga kami. Saya tidak tahu (lupa nanya ama nyokap) kapan tradisi ini bermula. Seingat saya, sejak saya duduk di bangku sekolah dasar, teh selalu tersedia saat sarapan pagi. Waktu itu seingat saya, ibunda fanatik dengan merk Ban**lan, sebelum kemudian beralih ke Goel**ra.

Tradisi ngeteh tetap terpelihara, bahkan saat saya kuliah dan harus nge-kos. Meski uang bulanan amat rasional (baca:pas-pasan), tradisi ngeteh takkan pudar. Tsaaah…. Di tempat kos kebetulan, teman-teman juga suka ngeteh. “Yuk mbak, jepang-jepangan”, begitu biasanya kalau yunior di kos mengajak untuk ngeteh. Biasanya di sore atau malam hari, biasa, untuk me-refresh pikiran. “jepang-jepangan” istilah kami untuk ngeteh. Ha..ha…

Saat sudah bekerja lalu menikah, teryata suami juga membawa tradisi ngeteh dari keluarganya. Klop sudah! Bedanya, di keluarga saya teh hanya dihidangkan pagi dan sore hari. Di keluarga suami lain lagi, teh selalu tersedia sepanjang hari. Nah, lo. Boros amat, ya.

Saking cintanya pada teh, sampai-sampai kami punya aneka resep the. Black tea plus green tea dengan sedikit aroma jasmine,itu favorit kami. Dan, kami fanatik pada satu merk waktu itu s*sro Premium (yang kemudian berganti menjadi”heritage”). Kami juga punya “aturan” khusus, misalnya teh hijau disandingkan dengan lemon/jeruk nipis, The hitam dengan cinnamon, jahe, serai, dsb. Waduh, tradisi makin berakar nih. Bahkan putra sulung kami juga punya selera teh yang cukup baik. Misalkan diberikan teh yang rasanya tidak sebaik yang biasa kami konsumsi, biasanya dia menolak. “Enggak enak”, katanya.

Fanatisme pada merk tertentu ternyata merepotkan. Suatu saat di kota kami kesulitan mendapat merk teh kesayangan kami, sampai akhirnya kakak yang tinggal di kota sebelah yang mensuplay untuk saya dan ibu. Wah, segitunya ya. Begitu pula saat di kota kakak yang tengah sulit mendapatkan teh favorit, maka saya yang akan menyuplaynya. Fanatik amirrr…

Begitu cintanya pada teh, tak pernah terpikir untuk meninggalkan teh. Sampai akhirnya suami yang punya bakat diabetes (halah, sakit kok bakat sih), mulai terpikir mengurangi konsumsi teh juga makanan minuman manis lainnya. Saya sendiri sejak berfood combining juga mulai berupaya mengurangi konsumsi teh dan kopi.

Awalnya saya kira akan sulit berpisah dari teh. *Ciee… karena kebiasaan yang sudah berpuluh tahun, lagi pula saat itu saya bisa menghabiskan tiga mug teh sehari. Haduh… sekarang kalau ingat jadi geleng-geleng sendiri. Memang sih, awalnya anak-anak protes. “Kenapa tidak bikin teh sih, Bun?” kata mereka, saya jelaskan alasannya, dan mereka jarang protes lagi.

Bagi saya pribadi juga, mengurangi kebiasaan minum teh juga tidak mudah. Meski sudah saya niatkan. Sampai saya berpikir, sepertinya saya tidak akan bisa hidup tanpa the. Uhuyyy…ternyata pikiran saya salah, seiring waktu saya ber-food combining, semakin sehat saya makan, semakin berkurang dorongan untuk ngeteh. Nah, rupanya rem tubuh saya sudah mulai pakem nih.

Apakah saya menjadi anti teh? Oh, tidak “sesadis” itu juga ya. Saya masih minum teh, sesekali, barang seminggu sekali. Kalau bertamu dan disuguhi teh juga masih saya minum, kok. Yah,untuk menghormati tuan rumah, dan eman-eman rejeki kok ditolak. Ini sih asli alesan! Hahayy…

Satu tanggapan untuk “Teh, Sebuah Tradisi …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s