Absennya TV Di Rumah Kami

Sudah banyak yang mengulas perihal plus minus televisi, terutama menyangkut anak-anak kita. Saya tergelitik untuk menulis dari sisi saya. Tetapi tulisan ini tak hendak menyorot bahaya layar berbentuk persegi yang kita sebut TV. Hanya sekadar berbagi cerita saja, ya. Karena pasca (eh, belum kelar sebenarnya) deadline bertubi-tubu beberapa tulisan, tampaknya kepala saya sedang mengalami sedikit lola. Haishhh apaan yak?
————-

sumber:dreamstime
sumber:dreamstime

Seorang kerabat menelepon sore ini
“saksikan saya di *****TV ya” pintanya di ujung sana
“Wah, kami tak ada TV, eh… maksud saya TV rusak sengaja belum diperbaiki”, jawab saya.
“Lho, gimana?” ujarnya bingung.
“he..he..” saya hanya nyengir.

Sejak awal menikah hampir sepuluh tahun lalu, televisi memang tidak pernah masuk dalam whislist kami berdua. Setelah kelahiran Raniah, si gadis nomor dua, kami baru memiliki TV. Itupun tak disengaja. Ceritanya waktu itu ada minimarket baru di kota kami, mereka promo dengan mengadakan undian berhadiah. Ndilalah, dari tidak begitu banyak kupon yang saya masukkan, saya dapat dua hadiah. Sebuah TV dan jam dinding. Walaupun tak merencanakan untuk memiliki TV, tetap senang, dong dapat TV gratisan. Ah, namanya juga emak-emak. Sesuatu yang greetong memang demikian memabukkan. Ha…ha…ha…

Sekitar enam tahun TV gratisan tersebut kami pakai (jarang-jarang tepatnya).TV mulai tak enak ditonton, tepatnya mulai merengek “minta adik” dia. Saat yang sama, antena parabolanya juga bermasalah pasca kami pindah akibat membangun lantai 2 rumah kami. Klop sudah. Ya sudah, dasar emang tak begitu napsu sama hiburan satu ini. Akhirnya TV setengah hidup setengah wafat tersebut dianggurkan juga.

Sebenarnya, secara sadar atau tidak, saya meniru almarhum bapak (semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang indah). Dulu waktu saya SD, saat teman-teman sudah menonton siaran TV swasta, saya masih juga hanya menonton TV. Dengan televisi hitam putih, pulak. Di daerah saya, waktu itu untuk dapat menangkap siaran Indo****, R***, SC** itu harus memasang antena tambahan. Saya tidak yakin bapak tidak memasangnya hanya karena alasan nominal rupiahnya. Kami toh, tak kere-kere amat waktu itu. Ha..ha… sialnya (atau justru untungnya?) ini baru saya sadari baru-baru ini. dulu sih, saya berpikir, bapak tak punya uang maka tak pasang antena itu. Uhukkk…lugu banget ya? Namanya juga anak SD.

Masa SMP saya juga masih (hanya) nonton TVRI. Bayangin, buoo….saat teman-teman nonton segala macem sinetron, telenovela, etc. Saya tetap setia nonton kelompencapir, Ria Jenaka, Dari Desa ke desa Ha..ha…etapi waktu itu enggak protes kok, pada bapak. Heran juga, kenapa ya? Nah, saat saya SMA. Televisi akhirnya wafat. Saya juga enggak pernah ribut minta bapak beliin yang baru. Kenapa ya saya dulu anak penurut amat? *abaikan

Pengalaman saya tentang televisi di masa SD hingga SMA itulah mungkin yang menginspirasi kami. Saat TV rusak dan parabola juga rewel, bukannya segera diperbaiki atau ganti yang baru. Kami berdua malah bersyukur. Bersyukur karena tak perlu repot mengawasi dan mengatur tontonan anak yang berasal dari TV. Ha..ha…modus…modus.

Peristiwa televisi rusak ini sudah terjadi lebih setahun lalu. Dan baru sore tadi saya sadar bahwa kondisi ini ternyata mengherankan buat orang lain. Ah, kami sudah terlalu terbiasa tanpa televisi. Bukan tak mengikuti informasi, sih. Berita toh, mudah di akses di internet. Hiburan? Nonton youtube atau streaming aja deh, kayaknya. Toh, kami tak punya waktu terlalu banyak untuk nonton TV. Anak-anak, seperti halnya saya dahulu, tak pernah protes pada kami karena absennya televisi. Alhamdulillah… Bundanya bisa kipas-kipas. Tak perlu menganggarkan beli TV baru, deh. Ganti, buat beli berlian sajalah duitnya. Ha…ha…

14 tanggapan untuk “Absennya TV Di Rumah Kami

  1. Di rumah saya banyak televisi, boleh digondol satu
    karena memang jarang sekali dinyalakan :))
    saya lebih milih liat tv saya sendiri (baca: laptop)

    Suka

  2. Aku jarang nonton TV nasional mbak. Sejak anak-anak bayi berlangganan tv kabel.Sama aja sebenarnya tidak nyaman.Meskipun emaknya gak pernah nonton sinetron bertahun-tahun , anaknya jadi kecanduan film kartun Disney.Hiks..susah ngilanginnya. setelah 7 tahun berlangganan, tahun lalu sempat berhenti langganan tv kabel.Eh ayahnya yang kelimpungan gak bisa nonton National Geography dll.Sama aja…sebenarnya kami kecanduan TV berbayar

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s