KDRT : Perempuan Harus Berani Bersikap

Gambar: Anneahira
Gambar: Anneahira

Late Post:

Pagi setengah siang kemarin. Tiba-tiba muncul di ruangan kerja saya, seorang teman yang sudah bertahun tak jumpa. Dia bisa dibilang akrab, namun bukan secara pribadi. Kami dekat sebatas tugas-tugas kantor yang mengkondisikan kami sering bertatap muka dan berdiskusi beberapa tahun lalu.

“Nggolek sopo mbak?” tanya saya dalam bahasa jawa. Artinya, mencari siapa, mbak? Masyarakat di daerah saya berbicara dalam tiga bahasa. Bahasa Indonesia, Jawa dan Madura. Dengan orang yang cukup akrab biasanya digunakan bahasa Jawa atau Madura. Oh, ya teman saya ini sebut saja namanya Mbak Ina.

Ternyata kedatangannya ke kantor saya adalah untuk menemui teman se-ruangan saya yang dulu pernah satu unit dengannya. Sebut saja namanya Mas jack. Jack kebetulan sedang tidak di tempat. Karena yang dicari tidak ada, akhirnya saya menawarkan dia duduk sejenak untuk ngobrol. Maklum, teman lama.

Diapun duduk di hadapan saya. Lalu kami ngobrol ngalor ngidul sejenak. Lalu tiba-tiba dia mengambil sebuah buku dihadapan saya, lalu menuliskan tiga angka diisana. Dalam hati saya mengomel. Widiiih buku gue, ngapain loe coretin?

“Bisakah saya pinjam,” segini? Tanyanya sambil menunjuk angka yang baru dia tuliskan
Kontan saya kaget, tapi saya berusaha sembunyikan keterkejutan saya. Saya tersenyum,
Ini bukan masalah berapa uang yang ada di dompet saya sekarang dibandingkan nominal yang ditulisnya yang memang tak seberapa.

Keterkejutan saya lebih ke sisi etika. Perempuan di hadapan saya, bukan orang yang akrab secara pribadi, ditambah lagi kami lama sekali tak bersua. Masa, ketemu langsung mau pinjam duit. Saya berusaha berbaik sangka, mungkin dia benar-benar kepepet. Kalau tidak ingat bahwa suami berpesan untuk berhemat, karena dua bulan ini kami sangat banyak pengeluaran tak terduga, mungkin saya sudah meminjaminya. Meski saya was-was juga meminjamkan uang kepada orang yang tidak terlalu dekat.

“Saya butuh banget”, dia memelas.
Saya menepuk punggung tangannya
“Maaf ya,mbak. Saya gak bisa bantu”, kata saya mencoba sehalus yang saya bisa. Saya sangat khawatir membuat dia tersinggung.

Setelah itu dia pamit. Saya mengantarnya hingga ke depan ruangan saya. Ternyata di kantin seberang ruangan ada orang yang tampaknya dia kenal. Matanya terlihat berbinar melihatnya.
“itu Om ku” serunya
Sambil menunjuk seorang bapak teman sekantor saya yang sedang ngopi di kantin
“Aku ke Om ku dulu, mbak”pamitnya
“Monggo” aku mempersilahkan.

Dia berlalu, saya kembali ke meja kerja. Menuntaskan pekerjaan yang tertunda karena kedatangannya yang mendadak dan tak terduga. Sejam dua jam bekerja saya keluar berjalan-jalan di koridor depan ruang kerja. Ini kebiasaan saya. Tak betah duduk lama. Tubuh butuh bergerak. Tiba-tiba langkah saya terhenti oleh panggilan seseorang. Ternyata bapak (sebut saja Pak Win), teman yang tadi diaku sebagai om teman saya.
“Ngapain Ina ke Mbak Wid?” Tanya Pak Win penuh selidik.
“Enggak ngapa-ngapain Pak.” Jawab saya. Nggak mungkin saya jelaskan bahwa dia tadi mau pinjam uang.
“Dia tadinya cari Mas Jack”, Jacknya nggak ada Pak, jadi ngobrol sama saya. Jelas saya.
“kalau dia datang mau pinjam duit, jangan kasih,” katanya tegas
Deg, ada apa ini? lalu pak Win, Sang Om bercerita.
“Rumah tangganya kacau, ATM nya dipegang suaminya, dia nggak dinafkahi”
Plas, seperti ditampar. Dan ada yang terasa perih di dada saya.

Wallahua’lam, entah benar atau salah yang dikatakan Pak Win. Kalaupun Ina tidak dekat secara pribadi dengan saya. Tetapi sebagai sesama perempuan rasanya ikut sakit. Ina teman saya terkenal sebagai sosok PNS yang sangat berdedikasi, kompetensi kerjanya harus diacungi jempol. Pendidikannya juga enggak ecek-ecek. Dia magister teknik dari salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia.

Kenapa? Kenapa mesti dia? Kenapa dia diam? Itu pertanyaan saya. Sekali lagi, wallahua’lam, saya tidak tahu persis apa yang diceritakan Om si Ina itu benar atau tidak. Hanya, rasanya dari sini banyak sekali pelajaran yang harus di ambil. Sering sekali saya melihat, membaca, mendengar kasus-kasus KDRT dan si perempuan diam, tidak melakukan pembelaan. Kenapa saya masukkan kasus Ina KDRT, padahal saya belum tahu persis kasusnya? Karena menurut saya, pernikahan telah membuat Ina berubah menjadi sosok yang jauh berbeda dari yang awal saya kenal. Berbedanya ke arah negatif. Dan menurut saya itu perubahan drastis. Dari seorang perempuan tangguh, pekerja berdedikasi menjadi sosok yang membela diri sendiri saja tak mampu.

Menyitir penjelasan yang banyak dikemukakan para ahli tentang bentuk KDRT. Bahwa bentuk KDRT yang sering terjadi dalam lingkup rumah tangga, selain kekerasan fisik juga kekerasan psikis kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Nah, ini persis seperti yang saya amati pada Ina. Apalagi kemudian saat Jack datang, dan saya sampaikan. “dicariin Ina”. Jack akhirnya bercerita. Bahwa ini sudah kali kesekian Ina meminjam uangnya, dan pembayarannya juga tak beres. Ini kan berarti, Ina seperti tak berdaya. Jack sendiri merasa prihatin (dibanding dengan saya, Ina jauh lebih akrab dengan Jack). Tetapi kami sebagai teman-temannya kan tidak bisa berbuat apa-apa. Pelajaran terbaik yang bisa saya ambil, bahwa PEREMPUAN MESTI BERANI BERSIKAP.

Terutama dalam kasus-kasud KDRT, jika si perempuan tidak ada niatan untuk membantu dirinya sendiri, maka akan sulit orang lain membantunya. Hingga hari ini, saya masih menyimpan husnudzon. Semoga Ina saat ini dalam tahap BERUSAHA MENOLONG DIRINYA SENDIRI. Semoga Allah memudahkan upayanya

Catatan: semua nama saya samarkan

4 tanggapan untuk “KDRT : Perempuan Harus Berani Bersikap

  1. KDRT memang bisa muncul dalam bentuk apa saja di rumah tangga ya ,Mbak
    baik fisik maupun psikis…
    setuju sekali dengan kalimat paling bawah di artikel ini ….
    bahwa kita tak dapat melakukan apa apa , jika si korban sendiri tak berusaha untuk menolong dirinya sendiri…

    salam

    salam kenal mbak,
    ini kunjungan perdana bunda disini 🙂

    Suka

  2. Bunda…wah senang sekali bunda berkunjung kemari #gelarredcarpet
    Salam kenal kembali Bunda
    sekali lagi selamat atas “Srikandi Lifetime achivementnya”
    sungguh Bunda telah menginspirasi kami 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s