PEMULUNG LANGGANAN

Pemulung Langganan-Pernah melihat papan peringatan bertuliskan: PEMULUNG DILARANG MASUK, atau dengan redaksional berbeda namun maksud senada? Nah, gambar-gambar di bawah ini misalnya.

Dari yang agak halus... Sumber:GeloraSriwijaya.Blogspot
Dari yang agak halus…
Sumber:GeloraSriwijaya.Blogspot
Hingga yang agak keras ... Sumber:Kompasiana.com
Hingga yang agak keras …
Sumber:Kompasiana.com

Sebenarnya saya merasa agak bagaimanaaaaa… gitu melihat tulisan semacam ini. Profesi pemulung menurut saya adalah profesi yang penting ditinjau dari sisi lingkungan. Namun munculnya tulisan peringatan semacam di atas memang bukan tanpa alasan.

Sering diceritakan, hal tersebut dilatarbelakangi pengalaman warga yang kehilangan barang-barang akibat ulah, entah pemulung yang nyambi maling atau maling yang menyaru sebagai pemulung atau bukan ulah keduanya, namun kemudian disini pemulung menjadi “tertuduh”. Atau juga akibat pemulung yang serampangan memungut sampah sehingga sampah yang sudah “aman” di tempat sampah justru jadi berceceran.

Pentingnya kehadiran pemulung sangat membantu kami dalam mengelola sampah kering di rumah kami. Maklumlah, di lingkungan sekitar kami belum ada bank sampah. Sementara untuk membuang begitu saja sampah kering, sering membuat saya merasa bersalah. Betul, bersalah karena telah menyebabkan timbunan sampah yang makin meninggi di TPA (Tempat Pengolahan Akhir) di kota kami.

Peningkatan jumlah penduduk diiringi perubahan gaya hidup, telah menyebabkan lingkungan menderita menanggung beban sampah. Sungai tercemar dan tersumbat sampah. Tanah tercemar dan rusak strukturnya akibat sampah plastik dan bahan berbahaya beracun (B3). Pun udara menjadi tercemar akibat pembakaran sampah.

Pada kondisi begini, menurut saya pendekatan pengelolaan sampah hanya dengan sekedar “membuang sampah di tempatnya”, sudah tidak memadai lagi. Perlu usaha lebih smart untuk mengurai permasalahan sampah. Salah satunya adalah dengan konsep 3R, Reduce-Reuse-Recycle (kurangi timbulan sampah, pakai ulang daur ulang).

Nah, sebelum muncul tren bank sampah, bukankah pemulung ini yang berada dalam lini terdepan dalam proses collecting, yaitu mengumpulkan sampah yang reuseable maupun recycleable. Tentang pemulung ini, kami sekeluarga punya cerita unik, begini ceritanya.

Gambar : Cak Ripin- Panoramio.com

“Badha….badha…?”
Suara seraknya begitu akrab bagi kami sekeluarga. Tak begitu paham bahasa Indonesia, dia selalu menggunakan bahasa Madura, bahasa masyarakat lokal di kota kami, untuk berkomunikasi. Sapaan sekaligus pertanyaannya di atas, dalam bahasa Indonesia berarti “ ada?”. Itu adalah caranya menanyakan adakah sampah kering yang bisa dia bawa?

Mbah Min, namanya. Namin, nama panjangnya. Lelaki tua bertubuh kurus kecil itu sudah bertahun menjadi pemulung langganan kami. Kebetulan di lingkungan kami belum ada bank sampah. Sebelumnya saya kebingungan, bagaimana mengelola sampah kering di rumah kami?

Membuang sampah, meski dalam tempat sampah terpisah di TPS depan rumah kami, jelas bukan solusi. Banyak pemulung sering mengambil gampangnya saja. Mengobok-obok tempat sampah, mengambil apa yang bisa diambil dan membiarkan sisanya berserakan di sana.

Nah, yang jadi masalah sekarang adalah sampah kering kami. Jika sekedar dibuang lalu tertimbun di TPA, maka ini tidak memenuhi prinsip yang ke dua dan ketiga dari 3R: Reuse-recycle. Artinya sama saja dengan kami memindahkan masalah dari rumah kami ke tempat lain bernama TPA. Hanya memindahkan masalah. Bukan menyelesaikannya!

Suatu saat, suami berinisiatif untuk memberikan sampah kering kami pada pemulung langganan. Sebenarnya kami punya dua pemulung langganan. Hanya, satunya tak segigih Mbah Min, yang selalu datang nyaris tiap hari. Pemulung langganan yang lain (saya tak tahu namanya), paling hanya datang satu dua kali dalam seminggu.

Oh, ya. Saat tak ada sampah kering yang bisa dia bawa dari rumah kami, Suami biasanya memberi sedikit uang pada mbah min. Sebagai ganti ketiadaan sampah itu, hitung-hitung bonus juga baginya. Saat diberi uang, biasanya mbah Namin akan berbinar-binar dan barbasa-basi. “ini buat beli rokok ya?” katanya. Suami saya hanya tersenyum dan menggeleng “beli sabun aja mbah” kata suami.

Nah itu cerita tentang pemulung langganan kami. Maka, jika dilingkungan Anda belum ada bank sampah, silahkan segera meng-hire pemulung langganan, ya. Demi bumi kita yang lestari.

Oh ya, kata orang sih, no picture =hoax. Namun biarlah, saya tidak bisa memasang foto Mbah Min disini, ya. Selain untuk melindungi privasinya, juga untuk melindunginya dari para pembajak. Ha..ha…

Let’s Go Green!

Cerita Pemulung Langganan Ini ikut Meramaikan Lomba Blog #IngatLingkungan

banner

2 tanggapan untuk “PEMULUNG LANGGANAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s