My Unforgettable Journey: Dengan Deg-Degan Kami Menuju Ijen ….

Saat itu, kondisi lokal di Kabupaten Bondowoso, sedikit terasa aura kegawatan. Kawah ijen yang terletak tak begitu jauh dari kota kami menunjukkan aktifitasnya. Perjalanan mendadak ini akhirnya menjadi salah satu perjalanan paling mengesankan buat saya. Bukan karena unik atau indahnya destinasi. Bukan pula karena jauhnya berperjalanan. Namun justru karena suasana tegang, antara takut tiba-tiba terjadi erupsi (parno ya) dengan kata hati untuk tetap berangkat demi sebuah amanah. Begini ceritanya …

Ijen Siaga Tiga!
Pagi itu pimpinan instansi kami mengumpulkan beberapa pejabat struktural di bawahnya, termasuk saya. Sebuah surat di tangan Bapak Pimpinan, beliau terlihat serius. Ternyata itu adalah surat perintah dari Bapak Sekretaris Daerah (Sekda).

“Kita harus naik ke ijen, ini perintah Bapak Sekda”, kata beliau.
“Hari ini juga!” Beliau menambahkan.

Sebagai pelayan masyarakat kami langsung bersiap. Ternyata Pak Sekda ingin kami memastikan kondisi segala sesuatu siap jika memang terjadi erupsi nantinya. Salah satunya saya harus mengecek kualitas sumber air yang nantinya akan menjadi sumber air bagi pengungsi.

Saya langsung mengkomando teman-teman laboratorium untuk mengkalibrasi peralatan dan mengemasnya, siap untuk sampling mendadak. Peralatan disiapkan. Semua alat ukur yang membutuhkan kalibrasi telah selesai dikalibrasi. Pernik-pernik kecil pelengkap sampling juga sudah siap.
Semua siap, kami pun berangkat, dengan perasaan campur aduk. Antara kesadaran untuk menunaikan tugas dengan sedikit ketakutan, bagaimana kalau saat kami naik, terjadi erupsi dengan tiba-tiba? Idih…paranoid banget yak?

Oh ya, sekilas tentang Kawah Ijen…
Gunung Ijen yang lebih di kenal dengan Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif. Berketinggian ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 m. Gunung ini pernah mengalami 4 kali letusan yaitu di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936.

Ijen Tampak Dari Kejauhan
Sumber : bondowoso kab.go.id

Ijen merupakan satu komplek gunung kawasan ini terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Nah, di Ibukota Kabupaten Bondowoso itulah saya tinggal, sekitar enam puluh kilometer dari Ijen.

Nah, sudah cerita ijennya.
Sekarang kembali ke perjalanan heroik nan deg-degan …*apasih?
Kami menuju Ijen. Mobil dinas yang sehari-hari biasa menjadi kendaraan Bapak kepala instansi kami, penuh sesak. Driver, bapak pimpinan sendiri, semua kepala bidang, saya dan rekan petugas pengambil sampling. Ditambah peralatan sampling kami, mobil jadi penuh sesak.

Menuju Ijen Dengan Mobil Yang Full Ini
Menuju Ijen Dengan Mobil Yang Full Ini

Perjalanan menuju Kecamatan Sempol, dimana Ijen berada, melewati jalan khas pegunungan. Berkelok-kelok, curam dan rusak di beberapa bagian. Setelah perjalanan sekitar satu setengah jam, sampailah kami di lokasi. Hari beranjak siang ketika kami tiba. Tanya sana-sini, akhirnya kami temukan sumber air yang menjadi tujuan kami.

Kami mulai gelar lapak. *eh? Peralatan maksudnya. Kami mengambil beberapa sampel air di sini. Yang sangat mengagumkan adalah, sumber ini debitnya begitu besar maaak. Satu sumber dibagi menjadi beberapa pipa berdiameter kurang lebih sejengkal. Dan menurut beberapa ibu yang kami temui disini, sumber air ini adalah satu-satunya sumber air di daerah ini. nah, ini beberapa foto saat saya bernarsis ria mengambil sampel.

Sadar Kamera Meski lagi On Job....
Sadar Kamera Meski lagi On Job….
Airnya Segarrrr....
Airnya Segarrrr….

Beres ambil sampel, teman-teman menunaikan sholat dhuhur. Kebetulan dekat lokasi sampling ada sebuah masjid. Saya lagi berhalangan, jadi libur sholat. Saya putuskan berjalan-jalan di sekitar lokasi.

Yang saya kagum adalah, rumah-rumah warga disini. Hampir semua warga disini adalah pekerja PTPN. Rumah mereka sederhana, semi permanen malahan. Namun asri berkat aneka tanaman hias dikombinasikan dengan tanaman sayur di halaman mereka. Semua rumah punya taman sayur di halamannya. Asri! Disini juga sangat bersih, tak ada sampah berceceran.Tempat sampah berderet-deret di sepanjang jalan.

Tempat Sampah Dari Barang Bekas
Tempat Sampah Dari Barang Bekas

Selesai sholat duhur, perjalanan dilanjutkan. Pimpinan kami mengusulkan,kami mengambil sampel juga di Kali Pait. Kalau tidak salah, kali ini alirannya berasal dari kawah. Dan hanya terletak radius 5 km dari kawah. Waduhhh…. Makin deg-degan nih!

Namun kali inipun harus disampling. Menurut berita di media massa, air di sini sangat asam. Keasamannya bahkan dipersamakan dengan air aki. Wah…kami harus ekstra hati-hati.

Menuju kali pait, ternyata kami melewati pos penjagaan. Portal ditutup dan ada tulisan dilarang memasuki kawasan…bla…bla… wah jadi tambah deg-degan nih. Ternyata kondisi lumayan gawat ya…ya iyalahhh gunung api ini mah…lagi beraktifitas pula! Petugas yang berjaga disana mempersilahkan kami melintas saja. Gak pa pa, kata mereka.

Kami teruskan perjalanan dan akhirnya menemukan kali pait. Tempatnya indah. Dengan batu-batu super besar dan aliran air berwarna kekuningan. Air kali ini berasal dari kawah yang mengandung belerang, jadi warnanya juga kekuningan.

Saya dan rekan yang memang spesialis pengambil sample, melakukan pekerjaan dengan hati-hati. Kami sangat ingat dengan keasaman air disini. Tapi ternyata driver kami, yang sangat ingin membantu, melakukan sedikit kecerobohan. Dia menyentuh air asam itu. Tentu saja tangannya menjadi panas dan gatal, katanya.

Selesai ambil sampel, kami berfoto-foto disini. Pemandangan bagus euyy! Tak boleh disia-siakan untuk ber-narsisun alaihim. Padahal tadi sempat deg-degan memikirkan status gunung ini ya.

Kali Pait yang Airnya Asam
Kali Pait yang Airnya Asam

Tugas selesai, kami kembali ke kantor. Sampel langsung kami masukkan ke lemari pendingin. Sebuah prosedur pengawetan untuk sampel yang tak bisa langsung kami analisa. Maklum hari sudah sore ketika kami tiba di laboratorium kami.

Perjalanan tadi sangat berkesan dan tak mungkin saya lupakan. Selain kondisi serba khawatir sepanjang perjalanan, juga ada hal lain. Ya, sesudahnya saya harus berkali-kali mengunjungi dokter langganan akibat gangguan di telinga. Ini baru pulih setelah berminggu-minggu.

Dokter mengatakan, kondisi saya saat naik kurang fit. Dan pada dasarnya saya memiliki masalah di area THT, maka…terjadilah…telinga berdenging dan nyeri nyut-nyutan berminggu-minggu. Ah… harga yang pantas untuk “membayar” pengalaman yang mengesankan! Saya ikhlas.

6 tanggapan untuk “My Unforgettable Journey: Dengan Deg-Degan Kami Menuju Ijen ….

  1. Baru tahu saya mak ada gunung namanya Ijen. *ketahuan jarang nonton n baca berita
    Wah, air seasam air aki tuh gimana parahnya ya mak?

    Suka

  2. ha…ha…padahal wisatawan mancanegara banyak yg sudah kesini lo mak:). asam super deh maaak. pH meterku menunjukkan angka sekitar 1.

    terimakasih sudah berkunjung ya mak.silahkan dicicipi kudapan dan teh hangatnya🙂

    Suka

  3. ha…ha….kalau mau ke ijen ntar2, kabarin aku ya mak. siapa tahu bisa kopdaran disana sambil metik-metik stroberi. uhuyyy….. tapi kalau mau naik sampai kawah, jangan sama si kecil mak, jalan kakinya lumayan banget 3 jam. itu dg catatan jalan ngejos tanpa berhenti dan tracknya nanjak terus. etapi kalo maknya mau ngegendong si kecil juga gapap diajak ya …iqiqi…

    Suka

  4. ha..ha…hayuk emak blogger ngopdar disini ya… kurleb 300 km dari surabaya. Ples jalan kaki 3 jam, dijamin pulang2 pada langsing maaak:D

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s