World Autism Awareness Day : Empati Untuk Individu Autistik

AUTISME - SUMBER : mentalhelp.net
AUTISME – SUMBER : mentalhelp.net

“Autis, Lu!”
Beberapa kali saya dengan kata-kata di atas, atau saya baca di status teman di media sosial. Jujur, telinga saya panas mendengarnya . Saya memang bukan orangtua atau saudara dari individu autistik. Namun menurut saya kata-kata demikian kurang pantas dijadikan bahan candaan. Tidak ada istilah “produk gagal” bagi ciptaan Tuhan. Hanya kita yang terkadang belum bisa melihat dengan lebih jernih.

Sekitar tiga tahun yang lalu (lama amat maaak), saya pernah menulis pengalaman saya dengan seorang gadis cilik yang menerima diagnosa sebagai individu autistik. Cerita getir gadis yang (jangan-jangan) mengalami misdiagnosa pernah saya tulis disini:

Apakah itu autisme?
Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Akibat gangguan ini anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Individu autistik seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Istilah ‘penderita’ untuk menggambarkan individu autistik dinilai kurang tepat. Mengapa? Anak-anak ini tidak sedang menderita. Lebih bijak jika kita mengacu pada ‘perbedaan individual’ setiap anak dan atas dasar melihat ciri-ciri unik setiap anak tersebut. Menyebut mereka sebagai ‘individu autistik’ dipandang lebih tepat.

Apa saja sih, gejalanya?
Gejala individu autistik yang harus muncul (salah satu atau kesemuanya) adalah gangguan interaksi kualitatif, gangguan komunikasi yang tidak diusahakan diatasi dengan kemampuan komunikasi non-verbal, dan perilaku repetitif terbatas dengan pola minat, perilaku dan aktifitas berulang.

Dalam melihat ciri-ciri ini, saya sering menemukan kasus masyarakat terlalu cepat melabel dan tidak melihat lebih dalam. Misalnya gangguan komunikasi. Ada anak mengalami terlambat bicara, serta-mertalah masyarakat menyebutnya autis. Padahal bisa jadi kasus terlambat bicara akibat kurang stimulasi misalnya.

Pun soal kesulitan kontak mata, yang sering dijadikan penanda individu autistik. Soal ini, anak saya pernah menjadi “korban” salah “label. Ceritanya saat itu dia usia 3 tahun, sangat aktif dan jarang membuat kontak mata dengan orang asing. Kalau dengan saya, ayahnya dan keluarga terdekat, sih, tidak ada masalah. Nah, hanya satu ciri ini yang juga dilihat sangat permukaan, kemudian diterjemahkan guru playgroupnya sebagai autistik. Saya dan suami sempat adu argumen, dan sang guru yang lulusan psikologi keukeh dengan pendapatnya. Akhirnya, tak mau ribut, kami bawa anak kami ke ahli perkembangan saja untuk mendapatkan assesment. Singkat kata, ahli perkembangan tidak menemukan satupun gejala autisme pada anak saya, barulah si guru percaya akan pendapat saya.

Pengalaman kami di atas, juga kisah getir gadis cilik tadi menggambarkan betapa masih minimnya informasi yang dimiliki masyarakat tentang autisme.

Hari Peduli Autisme Sedunia-SUmber: Wikipedia
Hari Peduli Autisme Sedunia-Sumber: Wikipedia

Nah, hari ini 2 April, diperingati secara internasional sebagai World Autism Awareness Day, atau Hari Peduli Autis Sedunia. Peringatan ini dimaksudkan untuk menggugah kepedulian masyarakat akan individu autistik.

Bagaimana seharusnya kita bersikap?
Keluarga dengan individu autistik sejak anak masih balita sudah mengalami banyak tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Penyesuaian dengan perilaku individu autistik yang membutuhkan kesabaran, belum lagi menghadapi tuntutan masyarakat, tingginya biaya penanganan juga sulitnya mendapatkan kesempatan pendidikan juga merupakan tantangan yang tidak mudah bagi orangtua.

Saya sendiri memiliki beberapa teman dengan putra-putri individu autistik. Saya juga punya teman seorang kepala sekolah khusus autis. Saya sering melihat betapa hebat perjuangan mereka.

Maka dari itu, seyogianya kita sebagai masyarakat bisa memberi dukungan, bukan malah mencemooh atau menjadikan bahan olok-olok. Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memberi support:

• Lebih ber-empati terhaadap perjuangan mereka, memahami
perjuangan mereka.
• Tidak mengolok-olok perilaku individu autistik
• Memaklumi dan tidak menyalahkan orangtua bila individu
autistik bersikap tidak seharusnya (menurut pandangan umum)
• Keluarga dengan individu autistik membutuhkan pengertian
dan kesempatan, bukan belas kasihan ataupun umpatan.

Nah, ” SELAMAT HARI PEDULI AUTIS SEDUNIA 2014″ kepada seluruh individu autis dimanapun Anda beserta keluarga. Saya menyampaikan simpati dan kekaguman, bahwa Anda semua adalah pejuang sejati. Kepada teman-teman semua yang tidak memiliki keluarga individu autistik, yuk kita tumbuhkan empati dan support terhadap mereka.

2 tanggapan untuk “World Autism Awareness Day : Empati Untuk Individu Autistik

  1. Benar mbak Fita Chakra. Seperti halnya Dita ini. Menurut saya dia memiliki potensi yang luar biasa. Sayangnya masyarakat kita seringkali “kurang adil” terhadap individu-individu yang sedemikian unik ini. Terimakasih sudah berkunjung. salam hangat🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s