Temukan dan Sembuhkan Pasien TB : Kasus-Kasus TB Di Sekitar Saya

Hingga saat ini, tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi perhatian dunia. Data “World Health Statistics 2013” menunjukkan tingginya angka prevalensi penyakit tersebut per 100.000 penduduk di beberapa negara ASEAN dan SEAR.

Tiga negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN adalah Kamboja dengan 817 per 100.000 penduduk, Laos dengan 540 per 100.0000 penduduk, dan Myanmar dengan 506 per 100.000. Singapura merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis terendah yaitu sebesar 46 per 100.000 penduduk. Indonesia berada di posisi keenam untuk prevalensi tuberkulosis dengan 281 per 100.000 penduduk.

Sedangkan angka kematian akibat penyakit tersebut di atas di Indonesia merupakan peringkat kelima diantara 10 negara di ASEAN (27 per 100.000 penduduk) sejalan dengan prevalensi tuberkulosis. Ini sudah tentu bukanlah sebuah “prestasi” yang membanggakan. Pada tahun 2012 dilaporkan bahwa terjadi penurunan angka prevalensi menjadi sebesar 185/100.000 penduduk. Dan mortalitasnya mengalami penurunan sebesar 75 persen. Walau demikian, TB tetap menjadi sesuatu yang harus diatasi bersama. Baik oleh pemerintah maupun masyarakat.


Ada TB di Rumah Kos Kami
Rumah kos itu terletak di bagian timur Kota Surabaya. Tepatnya di sebelah timur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, institusi teknik paling bergengsi di Indonesia timur. Meski termasuk rumah kos berharga murah meriah, fisik bangunannya tak mengecewakanlah! Lantainya keramik, dindingnya kuat dan tercat rapi, setiap kamar ada jendela yang lumayan besar. Penghuninya sekitar enam mahasiswi, semua berjilbab, salah satunya adalah saya.

Suatu saat rumah kos itu gempar. Pasalnya salah satu penghuninya, sebut saja Indah, baru saja terdiagnosa TB. Beberapa minggu sebelumnya memang Indah mengeluh badannya meriang (demam ringan) dan sedikit batuk-batuk. Kami semua mengira, paling-paling hanya masuk angin atau kecapaian. Maka berbagai cara dilakukan untuk mengatasinya, contohnya kerokan. Maklum, kantong anak kost, jadi selalu mencari yang murah meriah.

Sayangnya, cara mudah tersebut tak kunjung menampakkan hasil. Dari hari ke hari, Indah terus mengeluh. Batuknya sih, tidak seberapa hanya demam dan dia mengeluh dadanya panas, itu yang menyiksa. Seorang teman yang memiliki keahlian pengobatan dengan cara pijat dan bekam, menawarkan bantuan. Indah dan kami semua oke saja. Pertimbangannya ya itu, masalah dana.

Cara kedua ini pun tak menampakkan progress yang melegakan kami semua. Dari hari ke hari, teman kami ini makin terlihat kurus, wajahnya kuyu, kulitnya kusam. Pipinya yang dulu gembul bak bakpao, menjadi tirus. Akhirnya diputuskan, Indah harus periksa ke rumah sakit. Salah satu dari kami mengantarnya.

Dan malam itu kami berkumpul, membicarakan diagnosa Indah (kami seperti sekeluarga waktu itu, segalanya dibicarakan dan dilakukan bersama). Seseorang dari kami berbicara.

“Indah terdiagnosa TB”
“Haaaa ?”

Sontak lainnya melongo. Sungguh kabar yang tak terduga. Bagaimana bisa Indah yang sehat dan ceria terkena penyakit itu? Rumah kos kami juga sangat cukup terventilasi, lantai pun selalu bersih. Darimana ia dapatkan kuman itu?

Tapi, sudahlah. Toh sudah terlanjur kena. Malam itu pula diputuskan Indah menjalani pengobatan, kami semua mensupport. Paling tidak, selalu mengingatkannya untuk cukup istirahat dan makan bergizi serta tak lupa minum obatnya. Untuk yang lain juga melakukan tindakan preventif. Bahkan saking takutnya kami tertular, alat makan Indah pun sepakat kita pisahkan dari yang lain. (Sekarang ini saya baru tahu, bahwa penyakit tersebut tak menular melalui alat makan).

Gambar Jendela lebar yang sehat
Bukan Jendela Kos Kami Lho… Tapi Begini Kira-Kira-Kos Kami Berlimpah Sinar Matahari. Sumber: sejutaartis.com
Pasien TB juga harus mendapat Gizi yang baik - Sumber : Thinkstock
Pasien TB juga harus mendapat Gizi yang baik – Sumber : Thinkstock

Untungnya rumah kos kami maksimal ventilasi. Sebelum berangkat kuliah pagi hari, semua tirai selalu kami buka lebar-lebar. Tirai ruang tamupun kami buka. Maka berlimpahlah rumah kos kami dengan sinar matahari. Pikiran kami waktu itu, semakin banyak sinar dan udara segar masuk, semakin kecil pula ada kuman yang “bergentayangan” di dalamnya.

Singkat cerita, setelah menjalani pengobatan berbulan-bulan lamanya, Indah dinyatakan sembuh. Wajahnya sudah kembali ceria. Pipi bakpaonya juga sudah kembali seperti sediakala. Cerewet dan lucunya juga sudah normal kembali. Luar biasa leganya kami semua kala itu.

Mengenal TB Lebih Dekat
Seingat saya, bahasan tentang TB selalu diberikan dalam mata pelajaran kesehatan (penjakes) sejak SD hingga SMA. Namun mengapa ya, saat berhadapan dengannya seperti pengalaman di atas, saya masih seperti nggumun (heran), kenapa dia? Padahal TB bisa terjadi pada siapa saja, meski kelompok-kelompok tertentu memiliki risiko lebih.

Walaupun sudah diajarkan di sekolah-sekolah (tapi entah kalau sekarang?) rasanya masih selalu dibutuhkan terus dan terus edukasi tentang TB ini. Pasalnya, penyakit ini angka kejadian dan kematiannya termasuk tinggi.

Apakah TB> itu? TB atau Tuberculosis yang dahulu biasa disebut TBC, adalah penyakit yang cukup serius yang bahkan dapat mengakibatkan kematian jika tak ditangani dengan benar. TB disebabkan suatu bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Umum diketahui bahwaTB menyerang paru-paru, namun sebenarnya TB dapat pula menyerang bagian-bagian tubuh yang lain misalnya ginjal, tulang dan otak.

Bagaimana TB ditularkan? TB tersebar melalui udara saat seorang penderita TB berbicara, batuk ataupun tertawa. Perlu diketahui bahwa TB tidak menular melalui: bersalaman dengan pasien TB, alat makan, menyentuh tempat tidur ataupun toilet seat pasien.

Siapa yang bisa terjangkit? Siapa saja memiliki risiko tertular TB. Meski terkadang pandangan umum masih sering menganggap >TB identik dengan penyakit kelas bawah. Ini tak selalu benar, ada teman saya yang super keren pun terkenaTB. Jadi, TB memang tidak pandang bulu, ya.

Meski demikian, ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, antara lain: Orang-orang yang terinfeksi HIV, Orang-orang yang terinfeksi TB dalam 2 tahun terakhir, Bayi dan anak-anak, Orang tua, Orang yang sedang sakit sehingga kekebalan tubuhnya melemah.

Apa sih Gejala TB? Pertama demam, gejala ini sering dikira demam flu atau masuk angin. Namun bisa pula suhu tubuh mencapai 40-41ºC.

Gejala TB - DEMAM - Sumber: Wikihow
Gejala TB – DEMAM – Sumber: Wikihow

Kedua, batuk atau batuk disertai darah. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Gejala inipun tak mesti sama. Misalnya, pada kasus Indah teman se-kos saya tadi. Batuknya tidak kekel (parah), biasa-biasa aja batuknya. Makanya kami sempat “kecolongan” tak mengira bahwa dia kena TB.

Gejala TB-BATUK-BATUK DARAH- Sumber: Wikihow
Gejala TB-BATUK-BATUK DARAH- Sumber: Wikihow

Gejala selanjutnya adalah sesak nafas. Pada penyakit yang ringan belum dirasakan sesak nafas. Sesak. Seperti pada kasus teman saya tadi, dia tidak mengalami sesak. Sesak nafas biasanya ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. Gejala lain adalah nyeri dada, gejala inipun agak jarang ditemukan.

Gejala TB -  BB TURUN - LETIH - TIDAK NAFSU MAKAN- Sumber: Wikihow

Gejala yang kelima adalah penurunan berat badan secara signifikan tanpa sebab yang jelas atau tidak sedang diet misalnya. Gejala ini dialami oleh Indah, teman kos saya. Gejala lainnya adalah, mudah lelah, tidak nafsu makan dan berkeringat di malam hari.

Tanda Mata Dari TB Tulang
Ini “pertemuan” kedua saya dengan kasus TB. Ini terjadi pada suami dari seorang teman kantor saya (sebut saja Hayu). Karena kasus inilah saya baru tahu, ternyata TB tak hanya menyerang paru. Tulangpun menjadi sasarannya.

Malangnya, kejadian ini menimpa ketika sang istri sedang hamil tua. Jadi dengan kondisi kehamilan yang sudah membuatnya lekas capai, Hayu masih mendampingi suaminya menjalani pengobatan bahkan hingga dua kali operasi. Dan ketika tiba waktu melahirkan, dia hanya bisa ditemani ibunya, karena di tempat lain justru sang suami juga tengah berjuang melawan sakitnya.

Hayu pernah bercerita, awal gejalanya sungguh tidak membuatnya curuga bahwa sang suami (sebut saja Pak Ihsan) mengalami TB. Gejalanya mirip yang dialami Indah teman se-kos saya tadi. Hanya, minus batuk. Gejala lain adalah pegal-pegal disertai rasa lelah pada sore hari.

Dalam kondisi pasrah, akhirnya Pak Ihsan menurut saja ketika dibawa ke pengobatan dengan unsur klenik oleh keluarganya. Kondisi bukannya membaik, malah sebaliknya. Akhirnya, Hayu memaksa beliau untuk berobat ke rumah sakit.

Setelah melalui berbagai pemeriksaan diantaranya foto rontgen, diketahuilah bahwa TB sudah menggerogoti tulangnya. Saya lupa pastinya sudah berapa ruas tulang yang rusak. Yang jelas, Pak Ihsan akhirnya segera dioperasi untuk membersihkan bagian tulang yang rusak dan memasang pen pada ruas tulang belakangnya.

Pasien TB Tulang - Sumber: Kompasiana
Pasien TB Tulang – Sumber: Kompasiana

Yang saya ingat, pasca dua kali operasi tersebut, Pak Ihsan menjalani pengobatan lebih dari enam bulan. Dan sekarang ini, sekitar 9 tahun sesudah operasi pertama dan kedua, beliau masih harus menjalani operasi kembali. Entah untuk mengambil atau memperbaiki posisi pen-nya, saya kurang jelas. Kejadian itu meninggalkan bekas permanen pada pasien. Beliau kini mengalami perubahan postur, menjadi (maaf) sedikit bungkuk.

Sungguh sebuah tanda mata yang tidak manis. Duhai…kejamnya TB Tulang.

Kabar Baiknya Adalah….
TB dapat disembuhkan dan dicegah. Bagaimana pengobatan dari seorang pasien TB? Kira-kira begini ceritanya. PasienTB akan mendapatkan sejumlah obat, diantaranya antibiotik. Obat-obatan tersebut harus diminum sesuai aturan dan tepat sesuai waktunya pula, sesuai anjuran dokter atau paramedis.

Obat-obatan tersebut biasanya harus dikonsumsi setidaknya 6 bulan. Pasien harus tetap mengkonsumsi obat secara teratur sesuai jadwalnya meski mereka merasa tubuhnya mulai lebih baik. Jika obat-obatan tersebut tidak dikonsumsi sebagaimana mestinya, pasien akan menderita sakit yang lebih lama bahkan lebih serius jika tidak mengkonsumsi obat-obatannya tepat sesuai petunjuk dokter.

Tak jarang ditemukan pasien TB tak kunjung sembuh. Pengobatan berbulan-bulan sekan tak menuai hasil. Ada apa? Salah satu hambatan dalam penyembuhan TB adalah keberadaan obat yang cepat resisten di tubuh pasien. Faktor resistensi obat ini merupakan salah satu hambatan besar bagi pemerintah dalam mengatasi TB di Indonesia. Gizi yang kurang baik di dalam tubuh akan membuat tubuh pasien tidak merespons dengan sempurna penyerapan obat tersebut. Maka dalam perawatan pasien TB peranan makanan bergizi adalah sangat penting.

Selain Obat-obatan, Pasien TB harus mendapat Kecukupan Gizi-Sumber: Photobank
Selain Obat-obatan, Pasien TB harus mendapat Kecukupan Gizi-Sumber: Photobank

Faktor lingkungan juga cukup penting dalam pemberantasan TB. Lingkungan yang lembab, gelap dan tidak sehat akan mendukung perkembangbiakan Mycobacterium Tuberculosis. Basil Mycobacterium merupakan BTA(basil tahan asam) yang dapat berkembang biak apabila ada di tempat yang gelap dan lembab. Dia akan mati jika terkena sinar matahari langsung.

Temukan dan Sembuhkan Pasien TB Yuuukk ...Sumber: TheGlobalFund.org
Temukan dan Sembuhkan Pasien TB Yuuukk …Sumber: TheGlobalFund.org

Nah, ternyata peluangnya besar untuk memerangi TB. Tentunya peran serta masyarakat termasuk para blogger juga penting dalam upaya edukasi tentang TB. Jadi mari kita Temukan dan Sembuhkan Pasien TB.

11 tanggapan untuk “Temukan dan Sembuhkan Pasien TB : Kasus-Kasus TB Di Sekitar Saya

  1. Benar mak, saya tahunya juga baru dari referensi pas nulis. tadinya paranoid banget kalau sampai alat makannya dipakai bersama dg penderita TB. Salam hangat

    Suka

  2. Wah, trimakasih informasinya, Mak, runtut dan lengkap. Jadi tau lebih banyak nih tentang TB, semoga masyarakat kita semakin tercerahkan dengan informasi2 ini ya, Mak. Sukses untuk ngontestnya.🙂

    Salam, Alaika

    Suka

  3. Wah, ada Mak Alaika. Terimakasih kembali Mak atas apresiasinya dan kunjungannya. Salam hangat dari Bondowoso-“The hidden paradise”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s