Memilih Caleg Perempuan Untuk Indonesia Lebih Baik

Era demokrasi sekarang ini berhasil memunculkan banyak wanita menjadi pajabat publik, baik menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, pemimpin daerah maupun pejabat pemerintah. Di sektor swastapun , banyak puncuk pimpinan perusahaan dari kalangan perempuan. Jumlah perempuan yang menjadi profesionalpun meningkat. Tampilnya perempuan di wilayah yang sebelumnya di dominasi kaum pria memunculkan harapan positif atas semakin baiknya nasib kaum hawa.

Harapan positif-pun hadir di Indonesia. Apalagi, Rasio jumlah perempuan dibanding laki-laki menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2013 yang berjumlah 237.641.326 jiwa, perbandingan populasi pria dengan perempuan hampir sama 1000: 986. Di bawah usia 15 tahun, 1000 : 943, usia antara 15 – 64 tahun, 1000 : 989, Namun, untuk usia di atas 64 tahun, perbandingannya cukup mencolok, 1000 : 1. 235. (sumber : statistik.ptkpt.net).

Dengan rasio yang hampir sama, wajar jika ke depan perempuan Indonesia akan berperan sama dengan kaum pria.

Sensus Penduduk 2010 berdasarkan gender
Distribusi Penduduk bedasarkan 3 kelompok umur besar tahun 2010. (sumber buku : Profil Kependudukan Dan Pembangunan Di Indonesia tahun 2013 oleh BKKBN , hal. 18 )Klik gambar untuk melihat ukuran besar

Kondisi Pendidikan Dan Tenaga Kerja

Saat ini, jumlah perempuan yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah pria yang bekerja. Dari data Bank Dunia, jumlah perempuan di dunia yang bekerja hanya 40 persen dengan pendapatan 20 persen lebih rendah dari pria.

Di Indonesia, jumlah perempuan yang bekerja sebagian besar berpendidikan rendah. Faktor ekonomi adalah faktor terbesar alasan perempuan tidak bisa berpendidikan tinggi. Faktor ekonomi pula yang mendorong orang tua menikahkan anak perempuannya pada usia dini. Data dari UNICEF, sebanyak 24 % perempuan Indonesia menikah usia dini.

Fakta di atas juga menjawab pertanyaan mengapa prosentasi perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi semakin menurun . Data statistik Kesejahteraan Rakyat 2011 menyatakan rata-rata lama usia sekolah di atas usia 15 tahun, untuk laki-laki 8,3 tahun, untuk perempuan 7,5 tahun. Perempuan yang mencapai jenjang SMK / SMK sebanyak 18,59% , jenjang diploma 2,74% , dan jenjang universitas 3,02% .

Saat yang sama, perempuan Indonesia juga memiliki tanggung jawab memikul beban ekonomi keluarga, terlepas apakah sudah menikah atau belum, terutama bagi keluarga dimana pendapatan kepala keluarga tidak mencukupi. Sehingga tidak heran, pasar tenaga kerja yang terserap dengan kondisi kualitas pendidikan seperti di atas adalah lapangan kerja yang membutuhkan sedikit keahlian , seperti pembantu rumah tangga, sektor informal dan buruh.

Sensus penduduk tahun 2010 memberikan informasi tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki 81,2 % dan perempuan 46,8 % dengan tingkat pengangguran terbuka laki-laki 2,0 % dan perempuan 3,6 %. Beranjak dari data ini maka perlu dorongan kuat dari banyak pihak agar perempuan Indonesia semakin terlibat dalam pekerjaan secara layak. Dikatakan “secara layak ” karena banyak faktor yang mengakibatkan mereka bekerja dengan bekal apa adanya dan bahkan menjadi pengangguran.

Menyoroti Capaian Pembangunan dan Ketimpangan Gender

Capaian pembangunan dalam bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan dinyatakan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Meskipun IPM Indonesia mengalami peningkatan 1,3 persen pertahun, dari 0,422 (tahun 1980) menjadi 0,629 (tahun 2012), angka IPM Indonesia masih dibawah rata-rata IPM dunia sebesar 0,694. Pada tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat 121 dari 187 negara. Di tingkat ASEAN peringkat Indonesia nomor 6.

Peringkat IPM Indonesia di ASEAN
Peringkat IPM Indonesia dibandingkan beberapa negara ASEAN (sumber buku : Profil Kependudukan Dan Pembangunan Di Indonesia tahun 2013 oleh BKKBN , hal. 39 )Klik gambar untuk melihat ukuran besar

Mengapa IPM Indonesia termasuk kecil ? Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pembangunan yang belum merata dan ketimpangan gender yang cukup besar.

Sekarang kita lihat Indeks Ketimpangan Gender (IKG) yang mencerminkan ketimpangan dalam bidang kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja.

Kesehatan reproduksi diukur dari dua indikator yaitu tingkat kematian ibu dan tingkat kesuburan remaja. Pemberdayaan diukur dari proporsi parlemen yang dipegang laki-laki dan perempuan serta capaian pendidikan tinggi menurut gender. Pasar tenaga kerja diukur dari partisipasi perempuan dalam lapangan kerja.

Melalui IKG bisa diketahui sejauh mana aspek pembangunan manusia yang hilang akibat ketidaksetaraan gender. Jika IKG bernilai sekitar 0 maka perempuan dan laki-laki kehilangan kesempatan yang sama. Namun, jika bernilai 1 maka perempuan kehilangan lebih banyak dari laki-laki.

Dari data yang dikeluarkan UNDP, IKG indonesia menunjukkan penurunan yang berarti ketimpangan gender semakin kecil. Hal ini diperlihatkan dari Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang semakin membaik dari tahun ke tahun, meskipun peringkat Indonesia termasuk yang bawah di kawasan ASEAN.

Perbandingan IKG Indonesia di ASEAN
Perbandingan IKG Indonesia di ASEAN dengan posisi masih di bawah (sumber buku : Profil Kependudukan Dan Pembangunan Di Indonesia tahun 2013 oleh BKKBN , hal. 40 )Klik gambar untuk melihat ukuran besar

Beberapa Agenda Menjadikan Nasib Perempuan Indonesia Lebih Baik

Dari data-data di atas jelaslah bahwa pilihan pembangunan dengan meng-arus utama-kan gender akan menjawab permasalahan pembangunan di Indonesia. Perbaikan IKG dan IPG akan menaikkan IPM Indonesia di tingkat ASEAN dan dunia.

Beberapa agenda yang harus dilakukan adalah :

Perlindungan Tenaga Kerja

Menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan banyak lapangan kerja di dalam negeri yang diimbangi oleh jaminan keselamatan kerja. Saat ini posisi tenaga kerja perempuan sangat lemah dihadapan pemilik perusahaan atau majikan. Misalkan, kondisi buruh dan tenaga kerja sektor domestik atau swasta yang bekerja pada lingkungan yang tidak sehat.

Kondisi tenaga kerja perempuan
Buruh wanita di salah satu pabrik rokok di Bondowoso tanpa perlindungan masker dan alat keamanan lain. Kondisi yang telah berlangsung bertahun-tahun ini jelas membahayakan kesehatan pekerja ( Sumber gambar : dokumentasi pribadi)

Perlindungan Perempuan
Akhir-akhir ini berita perampokan, pemerkosaan bahkan disertai pembunuhan terhadap perempuan dalam berbagai usia sering hadir di media massa. Bahkan, kejadian tragis tersebut hadir di fasilitas publik, seperti transportasi umum.

Perlu upaya serius dari pemerintah untuk menciptakan rasa aman, termasuk memperbaiki berbagai fasilitas umum yang layak dan aman. Selain itu, perlu bentuk hukuman yang berat bagi pelaku kejahatan. Dalam hal ini adalah adanya keberpihakan undang-undang terhadap perempuan.

Peningkatan Kesehatan
Angka kematian Ibu akibat komplikasi kehamilan dan kelahiran anak cukup tinggi. Beberapa tahun lalu, angka kematian menurun sebanyak 307 (tahun 2003), 228 (tahun 2007), lalu meningkat di tahun 2012 sebanyak 359 per 100.000 jiwa.

angka kematian ibu hamil
Grafik angka kematian kehamilan dan ibu melahirkan.(Sumber buku : Profil Kependudukan Dan Pembangunan Di Indonesia tahun 2013 oleh BKKBN , hal. 35 )Klik gambar untuk melihat ukuran besar

Upaya meminimalisir jumlah kematian dengan meningkatkan jumlah rumah sakit/puskemas dan jumlah dokter serta bidan. Saat ini, rasio jumlah dokter 24,7 dan bidan 51,5 per 100.000 jiwa. (sumber : Porfil kesehatan Indonesia,2011)

Peningkatan Kesempatan Belajar
Tingginya tingkat putus sekolah perempuan di jenjang pendidikan tinggi perlu dicarikan solusi dengan memberikan bantuan pendidikan yang berpihak pada perempuan yang berprestasi tetapi minim dukungan dana. Sisi lain, perlu diciptakan lembaga pendidikan yang bersifat lifeskill setingkat SMK dan akademi yang bersifat gratis yang akan meningkatkan aspek prefesionalitas tenaga kerja perempuan.

Langkah Perubahan : Pilih Caleg Perempuan !
Menuju perubahan Indonesia yang lebih baik dari sudut pandang pembangunan yang lebih berpihak pada kaum perempuan adalah dengan menyuarakan aspirasi kita melalui pemilihan umum. Memilih caleg perempuan adalah solusi (mudah) yang bisa kita lakukan.

Anggota Legislatif (Aleg) perempuan nantinya bisa menyuarakan kepentingan kaum perempuan dan mewujudkan pembangunan yang berkeadilan gender.

Lalu, caleg perempuan seperti apa yang harus kita pilih sedangkan banyak sekali pemilih yang tidak mengenal caleg yang terbaik dari puluhan ribu caleg yang ada.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menentukan kriteria caleg perempuan ideal ,yaitu :
1. Berasal dari dari daerah pemilihan, karena caleg ini akan lebih memahami permasalahan yang ada
2. Memiliki kepribadian yang baik yang dibuktikan dengan tidak terlibat pada kejahatan, amanah dan jujur serta terbukti telah mengabdi kepada masyarakat. Kita bisa menilainya dari sisi kegiatan masyarakat yang telah dilakukan dan kepeduliannya untuk memperjuangkan kepentingan perempuan.
3. Memiliki keluarga yang harmonis. Keluarga adalah aspek terpenting dalam masyarakat. Dengan keluarga yang harmonis dan anak-anak terdidik dengan baik itu telah membuktikan bahwa caleg perempuan tersebut adalah sosok teladan dalam keluarga. Ini berlaku untuk caleg perempuan yang telah berkeluarga.
4. Cerdas. Menjadi anggota legislatif yang berhadapan dengan banyak persoalan yang kompleks. Caleg perempuan adalah sosok yang cerdas. Hal ini bisa dibuktikan dengan jenjang pendidikannya yang bagus dan berasalal dari institusi pendidikan yang baik.
5. Bertakwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi religiusitas caleg yang kita pilih adalah yang bertakwa pada Tuhan.

Informasi bisa kita dapatkan dari.
1. Informasi dari lingkungan terdekat , kenal pribadi, tanya ke teman dan handai taulan serta media massa baik cetak maupu online.
2. Informasi resmi dari KPU / KPUD. Informasi yang kita peroleh bersifat formal, bisa menggambarkan secara garis besar kondisi caleg yang ada. Atau situs lain, seperti jariungu.com/
3. Informasi dari lembaga lain yang memiliki reputasi bagus. Contoh, situs bersih2014.net/ yang berisi daftar caleg yang memiliki integritas yang diakui.

Dengan preferensi bahwa caleg yang akan kita pilih adalah perempuan, maka lebih mudah dikarenakan jumlah caleg perempuan hanya 30 persen dari total caleg yang ada.

Jadi, tunggu apa lagi. Ayo, tentukan pilihan kita dengan mencoblos caleg perempuan pada 9 April ini !

2 tanggapan untuk “Memilih Caleg Perempuan Untuk Indonesia Lebih Baik

  1. Cerdas sekali Mak, lengkap dengan data. Memang benar sih, prempuan memang (seharusnya) paling tahu kepentingan kaumnya. Sayangnya ya tak semua caleg perempuan mengerti. Mencarinya yang kapable pun rada2 sulit.

    Tapi tulisan mak Widya ini merupakan pencerahan buat kaum perempuan. Thank you for sharing 🙂

    Suka

  2. Betul Mak Niar, rasanya di ranah manapun, bagi saya sendiri tulisan ini seperti sebuah self reminder. bahwa kita harus “memantaskan” diri untuk apapun yg ingin kita lakukan. Itu rasanya adalah pe er pertama kaum perempuan ya Mak, sebelum kemudian keluar menyuarakan “kesetaraan”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s