PNS, Edukasi Publik dan Indonesia Move On

Berbicara tentang stigma negatif PNS, mungkin sudah menjadi hal biasa. Bahkan ada yang mengatakan PNS itu adalah kependekan dari Pegawai Negeri Santai. Saya sebagai PNS harus menerima dan mengakui hal itu. Sudahlah, legowo saja.

Namun, legowo bukan berarti selalu nrimo mengikuti arus kemana arus membawa. Ada sebuah cita-cita untuk tetap mengabdi dengan memberikan hal terbaik, meski harus disadari seringkali kondisi seringkali tak kondusif.

Hal tersebut di atas bukan hanya keinginan saya, namun banyak lho, PNS lain rekan-rekan saya yang memiliki cita-cita serupa. Jadi, jika Anda masih gebyah uyah memandang semua PNS sama lambannya, sama santainya, sama tak berdedikasinya? Tunggu dulu, baca cerita saya ini dan Anda akan mengerti kondisi sebenarnya.

Banyak sebenarya orang di kalangan PNS sendiri yang ingin move on. Kami ingin segera Indonesia Move On! Tidak berputar-putar pada masalah sistemik yang tak jua selesai beberapa dekade.

Tak Bercita-cita Jadi PNS
Kiprah sebagai PNS dimulai sejak akhir 2012. Sungguh, menjadi PNS tadinya bukan cita-cita saya. Banyak sekali pertimbangan, ketika akhirnya memutuskan mengikuti test CPNS dan lalu diterima. Dan saya tak pernah menyesali keputusan saya.

Sesuatu yang lumayan menantang dimulai pada medio 2007, ketika itu institusi tempat saya bekerja mendapatkan dana dari pusat, yaitu berupa Dana Alokasi Khusus Bidang Lingkungan Hidup.

Goal di tahun pertama ini adalah menyediakan fasilitas untuk dapat melakukan pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air. Maka tahun pertama dibangunlah laboratorium lingkungan lengkap beserta segala sarana penunjangnya.

Yang menjadi masalah kemudian, setelah gedung selesai dibangun dan segala peralatan dibeli adalah, siapa yang akan “menghidupkan” laboratorium tersebut? Memang, sih, di institusi kami ada beberapa teman yang memiliki basic pendidikan yang sesuai untuk amanah tersebut, tapi tak mudah menemukan kandidat yang tepat.

Beberapa teman lelaki, secara halus seperti menolak tugas tersebut, entah dengan alasan apa. Waktu itu, yang tertinggal hanya saya dan seorang rekan berbasic pendidikan teknik kimia, berbeda jurusan dengan saya yang teknik lingkungan, namun masih se-almamater.

Singkat cerita, akhirnya pimpinan mengamanahkan pada saya untuk dapat membuat lab tersebut beroperasional. Rekan yang teknik kimia tadi ditugaskan membantu saya, di tambah seorang lagi staf kontrak lulusan SMEA.

Kondisi, tidak begitu ideal. Tapi ya sudahlah. Saya bismillah saja mengawali tugas berat tersebut. Saya cukup beruntung dibantu dua teman, yang etos kerjanya tak perlu diragukan.

Beberapa bulan kemudian, laboratorium kami sudah mulai bisa beroperasi. Meski masih untuk sebatas melayani kepentingan internal institusi kami. Yang menjadi pikiran kami kemudian adalah, bagaimana unit baru ini bisa memberi manfaat optimal? Tentu saja tujuannya untuk memberikan pelayanan kelas premium kepada masyarakat.

Lalu suami saya memberi ide. Bagaimana kalau digarap juga sisi edukasi publiknya? Awalnya saya hanya mengernyitkan dahi. Ini sebuah lab, job descriptionnya adalah menghasilkan data lingkungan. Titik! Lha bagaimana mau mengemas menjadi edukasi?

Wah, teryata saya terlalu lugu menafsirkan uraian tugas. Setelah dipikir-pikir ternyata, itu sangat mungkin bahkan justru wajib dilakukan. Maka rencana-demi rencana kami susun. Bagaimana soal dana? Bukankan diinsttusi pemerintah ada prosedur yang tidak bisa sembaragan dalam menganggarkan sebuah kegiatan?

Iya memang, dana itu penting tapi tidak mutlak. Kami berusaha mengedepankan kreatifitas dan juga keikhlasan dalam bekerja. Jadi, kegiatan-kegiatan yang akan kemi ceritakan lebih lanjut ini memang tidak ada pendanaannya. Bahkan overtime, jika memang diperlukan, semua dilakukan dengan modal ikhlas saja.

PNS dan Dunia Literasi, Apa Hubungannya?
Berbicara masalah edukasi publik, tentu banyak hal yang bisa dilakukan. Banyak sarana dan media yang bisa dimanfaatkan. Salah satu hal yang menurut saya penting adalah, rekan kerja saya harus bisa menulis! Minimal bisa membuat mading yang bisa dibaca tetamu yang berkunjung ke institusi kami. Syukur-syukur nantinya kami bisa menulis secara lebih profesional di blog pribadi mereka atau website lembaga kami misalnya.

Saya berpandangan, sudah seharusnyalah, seorang PNS mampu mengedukasi sekitarnya, minimal untuk bidang yang dia geluti.Entah itu bidang kesehatan, pendidikan, sosial, lingkungan, dll.

Menurut saya, bukan jamannya pemerintah hanya memberikan ini itu kepada masyarakat, menyuapi masyarakat tanpa ada aspek pemberdayaan. Nah, edukasi publik inilah yang saya harapkan akan menjembatani antara job description saya sebagai PNS dengan pemberdayaan masyarkat.

Mading Karya Teman-teman
Mading Karya Teman-teman

Kebetulan suami seorang penulis. Saya meminta tolong beliau untuk mengajari teman-teman di lab, tentang kepenulisan. karena sayang, bahwa kegiatan bermanfaat ini hanya diikuti kami bertiga, maka saya mengundang siswa-siswa SMA anggota kelompok ilmiah remaja (KIR) untuk ikut.

Kenapa siswa KIR? Bukankah mereka di kelompoknya biasanya sudah mendapatkan pelatihan membuat karya tulis (ilmiah)? Saya ingin mereka mampu menulis naskah ilmiah populer. Saya pikir, naskah yang ngepop akan menarik minat sebaya mereka untuk membacanya.

Edukasi Lingkungan Melalui Kegiatan Asyik
Ada saat dimana harus mengajarkan banyak hal pada teman-teman saya. Masa itu, saya yang diamanahi memimpin mereka menghidupkan laboratorium lingkungan, unit baru kami. Padahal, semua belum tahu apapun tentang lab.

Saya kembali mempelajari mulai seluk beluk sampling, menggunakan alat hingga metode pengujian untuk berbagai parameter kualitas air. Saya kembali membuka diktat-diktat kuliah dan mencari informasi tambahan diinternet. Oh, iya, juga bertanya kepada teman-teman semasa kuliah yang menggeluti bidang laboratorium.

Meski masa kuliah saya mendapatkan mata kuliah laboratorium lingkungan sebanyak 3 sks, dan sempat pula menjadi asisten lab, tapi waktu itu kami hanya tinggal menggunakan lab. Nah, sekarang saya harus mempersiapkan semua dari awal. Rasanya sungguh berbeda.

Tentunya, kemudian perlu pelatihan kecil-kecilan untuk transfer ilmu dari saya ke teman-teman. Sekali lagi, acara inipun sangat kami sayangkan jika hanya diikuti teman-teman internal lab. Sayapun kembali mengundang siswa-siswa KIR tersebut. Undangan ini, alhamdulillah bergayung sambut. Guru pembimbing sangat senang karena kami melibatkan siswanya.

Kegiatan Meneliti Bisa Menjadi Hal Yang Asyik
Kegiatan Meneliti Bisa Menjadi Hal Yang Asyik

Usai kegiatan ini kami menantang para anggota KIR ini untuk dapat mengkombinasikan kedua pelatihan yang sudah kami berikan ke dalam satu karya. Kebetulan waktu itu tengah ada kompetisi yang diselenggarakan Media massa terkemuka di tanah air di bidang penulisan.

Siswa-siswa yang sudah kami latih teknis laboratorium hingga penulisan, ternyata antusias. Dan semangat mereka ternyata berbuah manis.Meski belum membuahkan kemenangan, namun diapresiasi oleh penyelenggara dengan dimuat di media tersebut.

Sukses ini membawa kami satu lab makin bersemangat tentang edukasi publik ini. Sekali lagi, jangan tanya dana. Kami sudah tidak mau bergantung pada satu itu. The show must go on! Ada atau tidak ada dana.

Untuk menyiasati ketiadaan dana ini, kami menawarkan pada sekolah-sekolah untuk swadaya. Jadi sekolah yang berminat yang menyediakan tempat, konsumsi dan lainnya. Kami datang membawa materi dan bahan-bahan yang akan diajarkan. Atau terkadang mereka yang bertandang ke tempat kami, konsumsi mereka bawa sendiri. Itu saja!

Meraih Hati Mereka Dengan Bingkisan Sederhana
Meraih Hati Mereka Dengan Bingkisan Sederhana
Menginspirasi Dengan Media Film
Menginspirasi Dengan Media Film
Terbatasnya Sarana Tak Menyurutkan Antusiasme Itu,Klesotan Di Lantaipun Jadi!
Terbatasnya Sarana Tak Menyurutkan Antusiasme Itu,Klesotan Di Lantaipun Jadi!

Seusai Sebuah Acara Aksi  : Makan Nasi Bungkus di Pinggir Jalan, Kenapa Harus Gengsi?
Seusai Sebuah Acara Aksi : Makan Nasi Bungkus di Pinggir Jalan, Kenapa Harus Gengsi?

Acara ini sukses, tak kurang sepuluh sekolah bekerja sama dengan kami. Kegiatan-kegiatan bersama dunia pendidikan ini sebagian besar pernah saya tulis di blog ini.

Pengalaman ini membuat saya yakin. Sebenarnya jika PNS mau sedikit saja lebih kreatif, maka banyak hal yang bisa diperbuat. Semua komponen masyarakat bisa diberdayakan dan akhirnya bersinergi pada berbagai bidang. Seperti dalam bidang lingkungan yang kami lakukan bersama-sama para siswa ini.

Mari rekan-rekan PNS ku, kita Move on terlebih dahulu untuk Indonesia Move On!

16 tanggapan untuk “PNS, Edukasi Publik dan Indonesia Move On

  1. Jleebbhh. Honestly, aku termasuk yg menggebyah uyah gitu, Mak😦 SOalnya kemarin sempat ngalamin sendiri kerja bareng PNS kok nggak mengenakkan. Tapi begitu baca tulisan inih, jadi malu ati… Aku terlalu menggeneralisasikan yak. Hiks..

    Suka

  2. Waaakkkkakak…jangan bayak-banyak mak uyahnya. Ntar hipertensi lo😀. Secara jujur, emang harus diakui sih mak. banyak yang perlu dibenahin dalam sistem kita terutama masalah kualitas SDM PNS.Tapi masih banyak kokmak PNS yang baek hati jujur, ramah tamah suka menolong, rajin menabung, kayak eykeh ini. *ditoyor

    makasih udah berkunjung ya Mak🙂

    Suka

  3. Bahaha jangaaann sampe hipertensi, bisa kantong kering nanti😀
    Generalisasi kayak gini tuh udah bejibun banget ya, Mak. Ada lagi satu anggapan yg aku percayai yg kayaknya juga generalisasi yaitu ‘Kalo polisi lalin yg suka nyegat motor di jalan pasti matre semua’ hahahahaha. Nggak tau kenapa awalnya bisa mikir gitu. Kepengaruh dari temen2 juga sih yg kebetulan pernah ditilang trs dimintai duit. *Maaf kalau ada yg punya anggota keluarga polisi lalin, nggak bermaksud menyinggung ya, peace* :))

    Suka

  4. wahhh…mungkin sering kejadian Mak. Tapi pernah ada dua teman ketangkep polisi lalin, trus macak melas, ngomong kalo lagi kehabisan bensin trus ga punya duit. Lah malah dikasih duit lo. suer! ha..ha…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s