HP Pertama Yang Tertunda

Penampakan HP Pertama - Sumber : mphone.co.uk
Penampakan HP Pertama – Sumber : mphone.co.uk

Kalau harus menulis tentang HP pertama, wah jadi isin … Pasalnya saya ini termasuk orang yang sangat, sangat telat memiliki HP. Dan saat pertama memilikinya, saya sangat gagap menggunakannya. Huh dasar gaptek kowe! *ngomel sendiri.

Tahun 97-an saat awal kuliah di ITS itu pertama kalinya saya mengenal HP. Catat, mengenal thok lo ya, bukan memiliki. Masa itu di antara teman-teman seangkatan, hanya satu dua orang yang memilikinya. Hanya mahasiswa-mahasiswa dari kalangan berada yang bisa menikmati kemudahan komunikasi dengan HP.

Waktu itu rasanya pingin juga gitu lho punya HP. Kan keren! *Self toyor. Etapi ya nggak mungkin sih dapat memilikinya. Lha, duit transferan bulanan aja Cuma dua ratus lima puluh ribu. Sementara harga HP 2-3 jutaan ya masa itu.

Bisa sih kalau aku memaksakan beli. Dengan catatan, duit transferan ditabungkan semua. Lha trus aku makan opo? Sama juga bohong. Memang aslinya nggak mampu beli , wis titik. Gitu aja kok susah mau ngakuin. Bhahahaha….

Waktu aku ngekos di perumdos ITS, beberapa teman dari kalangan berada juga telah memiliki HP. Wah, kalau melihat mereka asyik bertelepon dengan keluarganya, rasanya asyik ya kalau saja saya punya juga. Huss… itu semua Cuma bayangan yang terlalu ndakik. Lha wong buat biaya TA/Skripsi saja aku harus pakai trick ini itu.

Tahun 2002, setelah saya lulus dan menjadi PNS di Bondowoso, cita-cita pertama buat beli HP. Namun saya juga harus cermat mengatur agar bisa menabung untuk biaya pernikahan. Maklum, anak yatim… hiks….hiks…

Beberapa bulan bekerja, saya melihat rekening tabungan sudah ada di atas dua juta. Wah… sudah ancang-ancang mau beli HP yang kayak apa ya? Mata ini sudah jelalatan mengamati berbagai type yang ada. Dan sepertinya saya jatuh cinta pada HP yang tipis-tipis gitu, salah satunya keluaran Sonny Ericson T sekian gitu. Rasanya enteng banget ngebawanya, bisa dibuat liontin kalung juga kalee.. *norak

Tetapi tiba-tiba ada pengumuman di kantor bahwa saya harus mengikuti diklat prajabatan, sebagai syarat dari CPNS menjadi PNS. Diklatnya selama dua minggu di Kota Malang. Bukan masalah di luar kotanya, atau lamanya. Masalahnya adalah biayanya, sodara-sodara…

Hu…hu…ternyata diklat ini berbayar dan harus ditanggung sendiri oleh peserta, bukan biaya dinas. Gleks….buyar sudah harapan menimang HP super tipis yang amat manis  tabungan mesti terkuras untuk biaya diklat tersebut. Nasib…nasib…

Usai diklat tersebut, harapan terbesar adalah segera menerima SK pengangkatan dari CPNS menjadi PNS. Iya dong, karena sebagai PNS itu gaji yang diterima hanya 60 %, akan menjadi 100% jika sudah diangkat menjadi PNS. Ya harapannya segera bisa nabung lagi, bayangan si slim masih jelas dalam ingatan.

Nyatanya si SK tak kunjung datang. Diklat yang saya ikuti Oktober 2003 hingga awal 2004 bahkan SK tak muncul juga. Hwuaahh… padahal juga sudah menjadwalkan menikah di bulan Juli tahun yang sama. Musnah sudah harapanku.

Karena perhatian sudah terpusat pada persiapan menikah, maka impian punya HP dengan sendirinya terlupakan. Padahal teman kantor sudah pada protes, kata mereka susah mengontak saya sewaktu-waktu. Hiks…melas ya, padahal udah kerja kok beyumm punya ha pe.

Baru teringat kembali cita-cita memiliki HP, suatu saat menjelang persalinan anak pertama. Waktu itu terpikir, harus nih segera punya HP, minimal buat kontak-kontak Bidan saat mulai kontraksi gitu.

Maka saat itu juga segera mencari HP. Karena kondisi keuangan yang harus diprioritaskan buat biaya kelahiran, maka waktu itu pilihannya adalah membeli HP second saja. Soal type sudah tak menjadi persoalan. Lupa sudah pada si tipis langsing.

Maka beberapa hari sebelum persalinan saya sudah menimang si cantik Nokia 2650 Lumayan, harga secondnya 600 ribu. Wih, biar second ternyata masih ngalahin biaya lahiran di Bidan yang hanya tiga ratus ribuan masa itu.

HP pertama ini lumayan awet, meski second ia masih saya gunakan sampai anak yang kedua lahir 1,5 tahun kemudian. Hape pertama ini lumayan cantik. He..he.. maklum hape pertama sih, jadi belum begitu kepikiran soal fitur-fiturnya. Wis sing penting bisa telepon, bisa sms, dan bisa nampil gayah… *dikeplak.

Setelah satu setengah tahunan hape pertama ini saya pakai, Suami membelikan saya sebuah hape baru, kali ini motorolla. Hape pertama ini selanjutnya digunakan oleh suami. Dan disinilah nokia cantik ini menemui takdirnya *halah

Saat itu kami baru pindahan rumah. He..he…maklum kontraktor. Lahiran sebulan udah “diusir” sang empunya rumah. Terpaksa deh, pindahan. Saat sibuk pindahan itulah, HP oleh suami ditaruh di saku celananya. Tak sadar, saking sibuknya, ternyata saku bolong. Olala… berakhir sudah cerita HP pertama ini.

Dia baru sadar dua hari setelahnya. Dicari ke mana-mana tak ada bekasnya. Hape pertamaku pun kunyatakan raib entah ke mana…. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun….

9 tanggapan untuk “HP Pertama Yang Tertunda

  1. mengelikan ya mak….saya pertama pake hp nokia 3110 tahun 2003. walah senenge pol….kayake pegang hape keren banget, mpe nelfon aja ndredek…soale yang ditelfon dosen pembimbing pas mau ujian skripsi, hpne juga dapat minjam punya mbak ku….hihihi

    Suka

  2. Waahh – seru juga kisah hidupmu, cepat lulus kuliah, cepat jadi CPNS, cepat nikah, cepat dapat momongan … itu berkat cerita hape pertamamu …. Nice😉
    Oo ya, kok diklat prajabatan CPNS – PNS bayar sendiri sih …? Gak seragam ya, saya gratis tuh😛

    Suka

  3. He..he..iya. Alhamdulillah Pak Soeman Jaya🙂

    Iya nih, di tpt saya hingga sekarangpun bayar sendiri. Kacian yaa…

    Trimakasih sudah berkunjung Pak🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s