TB dan HIV: Tantangan Kita Bersama

TB dan HIV? Jujur ini membuat kening saya berkerut di awal mendengarnya. Berhari-hari saya browsing dan “mengunyah” perlahan-lahan. Ternyata saya tak sendiri, banyak teman-teman yang juga bahkan baru mendengar “persekutuan” dua hal serius ini.

tuberkulosis sendirian saja, sudah menjadi masalah serius. Demikian juga HIV sendiri. Lalu bagaimana jika keduanya kompak bersatu?

Makhluk Bernama HIV Itu …
Seorang dosen bertanya, “ apa kepanjangan dari HIV-AIDS?”
Saya masih ingat, itu adalah awal-awal mata kuliah mikrobiologi, ketika saya berkuliah di Jurusan Teknik Lingkungan-ITS. Seisi kelas mengkeret. Tak ada yang bisa menjawab kecuali seorang teman yang memang terkenal super cerdas di antara kami.

Kejadian di atas dapat memberi gambaran, betapa HIV sebenarnya belum begitu dipahami oleh banyak masyarakat di Indonesia. Wong, kepanjangannya saja nggak paham?

Mungkin logika saya terlalu sederhana. Tapi nyatanya, di masyarakat kita masih banyak kesalahpahaman tentang HIV yang masih saja terus diyakini.

Contohnya saja, ketakutan akan penularan HIV karena masyarakat belum paham, sebenarnya lewat jalan apa HIV menular? Akibatnya, banyak ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) yang kemudian dikucilkan.

Nah, agar kita dapat lebih memahami TB dan HIV, yuk simak dahulu apa dan bagaimana si HIV ini.

Apakah HIV itu?
HIV, atau lengkapnya Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyebabkan rusak/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini, termasuk family retroviridae dan genus lentivirus.

Bagaimana HIV bisa Merusak Sistem Kekebalan Manusia ?
Sel-sel kekebalan kita digunakan oleh HIV untuk berkembang biak. Perumpamaan sederhananya begini. Setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak, virus ini akan merusak mesin fotocopynya. Akibatnya, lama-kelamaan jumlah virus menjadi sangat banyak. Sebaliknya, sel kekebalan kita habis.

Bagaimana HIV berkembang menjadi AIDS?
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang mudah menular dan mematikan. Banyak orang, termasuk saya tadinya, rancu membedakan antara HIV dan AIDS.

AIDS, atau (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah, sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh HIV atau Human Immunodeficiency Virus perjalanan HIV hingga menjadi AIDS berjalan dalam tahap-tahap sebagai berikut

Pertama, periode jendela. Ini adalah tahap HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuk antibodi terhadap HIV di dalam darah. Tidak ada tanda-tanda yang khusus, penderita HIV nampak sehat dan merasa sehat. Test HIV pun belum bisa mendeteksi keberadaan virus pada tahap ini, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan

Tahapan kedua, HIV Positif (tanpa gejala). Tahapan ini rata-rata selama 5-10 tahun, HIV berkembang biak dalam tubuh. Masih tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak dan merasa sehat, namun test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang. Umumnya tetap terlihat sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun).

Tahap yang ketiga adalah HIV Positif (muncul gejala). Saat ini, sistem kekebalan tubuh makin menurun, mulailah muncul gejala infeksi oportunistik (infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme, biasanya infeksi ini tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan kekebalan tubuh normal, tetapi dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk), misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, flu, diare terus menerus. Ini umumnya berlangsung lebih dari satu bulan, atau tergantung daya tahan tubuh.

Sedangkan tahap keempat adalah AIDS. Pada kondisi ini sistem kekebalan tubuh sangat lemah,berbagai penyakit lainnya (infeksi oportunistik) akan makin parah.

Apa gejalanya?
Gejala HIV terdiri dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (gejala yang umum terjadi) dan gejala Minor (gejala yang tidak umum terjadi). Gejala Mayor, semisal: penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis lebih dari 1 bulan, demam lebih dari 1 bulan, demensia/ HIV ensefalopati, penurunan kesadaran dan gangguan neurologis. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ilustrasi di bawah ini:

Ini adalah gejala mayor

GEJALA HIV MAYOR

Nah, kalau ini gejala minor
GEJALA HIV MINOR

Bagaimana Cara Mendiagnosanya?
Seperti dijelaskan diatas, pada tahap-tahap awal masuknya HIV ke dalam tubuh seseorang, tidak dirasakan gejala. Maka untuk memastikan apakah seseorang telah terkena virus HIV, harus dilakukan pemeriksaan darah dengan tes khusus dan berkonsultasi dengan dokter.

Sebelum melakukan tes HIV, seseorang seyogianya melakukan konseling. Gunanya agar dapat memperoleh informasi sebenar-benarnya tentang HIV AIDS dan menjadi siap dengan apapun yang didapatkan dari test nantinya.

Pemeriksaan terhadap HIV umumnya dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan serologis yang bertujuan mendeteksi keberadaan natibodi HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan virus HIV itu sendiri.

Bagaimana HIV Menular?
Karena virus HIV terdapatnya di dalam cairan tubuh ODHA, maka seseorang dapat tertular melalui kontak dengan cairan tersebut. HIV menular melalui hubungan seks tanpa pengaman sehingga cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV dapat masuk ke dalam tubuh pasangannya

HIV terdapat pula dalam air mata, air ludah, cairan serebrospinal dan urine, namun cairan tersebut tidak terbukti berisiko menularkan HIV karena kadar virus HIV sangat rendah di dalamnya.

Ibu hamil yang positif HIV juga berpotensi menularkan HIV pada bayi yang dikandungnya. Demikian pula dalam masa menyusui. HIV juga sangat mudah menular dengan penggunaan jarum suntik secara bersama-sama, misal di kalangan pemakai narkoba suntik.

Mitos Penularan HIV
Banyak sekali miskonsepsi tentang penularan HIV-AIDS. Ini sama sekali bukan kabar baik dalam upaya penanggulangannya. Hanya menimbulkan ketakutan-ketakutan di masyarakat. Bahkan yang ada kemudian, ODHA yang sangat butuh support malah dijauhi dan dikucilkan karenanya.

Berikut ini mitos tentang penularan HIV yang sangat penting untuk diluruskan:

mitos

TB dan HIV = persekutuan yang berbahaya?
HIV sendirian saja sudah menjadi persoalan serius. Demikian pula dengan TB. Bagaimana jika keduanya hadir bersama? Kondisi seperti apa yang diakibatkannya?

Berawal dari TB Latent….
Marilah kita mengingat kembali cerita tentang TB laten. Yaitu saat seseorang memiliki bakteri tb dalam tubuhnya namun bakteri tersebut dalam tidur atau pasif. Apa hubungannya dengan HIV?
Ketika orang dengan TB laten tersebut kemudian terinfeksi HIV, bakteri yang tadinya tidur atau pasif tersebut akan bangun atau menjadi aktif.

Di antara orang-orang dengan tuberkulosis laten yang tidak positif HIV, 10% nya akan berkembang menjadi TB. Sedangkan jika orang dengan TB laten tersebut juga positif HIV, maka 60% nya yang akan berkembang menjadi TB aktif. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ko-infeksi dengan HIV, secara signifikan meningkatkan risiko TB.

TB Selama Perjalanan Infeksi HIV
TB dapat terjadi kapan saja selama perjalanan infeksi HIV. Semakin melemah kondisi tubuh maka makin meningkat pula risiko berkembangnya TB. Orang yang telah terinfeksi HIV memiliki risiko 10 kali lipat lebih besar daripada orang yang tidak terinfeksi.

Dampak Pada Pengendalian TB
Pada prinsipnya, pengendalian TB tetap sama, meski banyak ditemukan pasien ko-infeksi TB-HIV. Namun demikian, pada populasi yang banyak ditemukan ko-infeksi TB-HIV, layanan kesehatan harus berjuang untuk menanggulangi meluasnya serta meningkatnya pasien TB.

Konsekuensi yang ditimbulkan adalah sebagai berikut:
Pertama, Overdiagnosis atau diagnosis yang berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis TB paru BTA negatif . Ini disebabkan karena kesulitan dalam mendiagnosis.

Kedua, kebalikannya, underdiagnosis TB paru BTA positif. Underdiagnosis adalah kegagalan untuk mengenali atau mendiagnosa dengan benar penyakit atau kondisi terutama dalam proporsi yang signifikan dari pasien. Bisa terjadi, misalnya karena beban kerja petugas laboratorium.

Kemudian, pengawasan terhadap Obat Anti TB yang tidak adekuat, angka kesembuhan TB yang rendah, angka kesakitan yang tinggi selama perawatan, tingginya angka kematian, juga tingkat kegagalan yang tinggi akibat efek samping, angka kekambuhan yang juga tinggi, serta adanya peningkatan penularan TB kebal obat pada pasien HIV positif pada lingkungan yang padat misalnya di rumah tahanan. Wah… enggak main-main ya, konsekuensinya.

Dari tulisan di atas kiranya dapat dipahami bahwa sangat penting untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi TB ataupun HIV. Kasus yang diketahui secara dini tentu memiliki peluang lebih besar untuk diatasi.

Bagaimana Indonesia Mengatasi TB-HIV?
Pelaksanaan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia dilakukan dengan strategi seperti berikut ini.

Pertama, dengan membentuk mekanisme kolaborasi: membentuk kelompok kerja, melaksanakan surveilans HIV pada pasien TB, melaksanakan perencanaan bersama TB-HIV, melaksanakan monitoring dan evaluasi.

Kedua, Menurunkan beban TB pada ODHA, yaitu dengan: Mengintensifkan penemuan kasus TB dan pengobatannya, menjamin pengendalian TB pada layanan kesehatan dan tempat orang terkumpul, misalnya lapas.

Ketiga, Menurunkan beban HIV pada pasien TB : menyediakan konseling maupun tes HIV, pencegahan HIV dan IMS, pengobatan preventif dengan cotrimoxazole dan IO lainnya, Perawatan, dukungan dan pengobatan ARV (anti retroviral) untuk HIV-AIDS.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
Saya tersentuh sekali ketika membaca sebuah quote berikut ini: When a virus (HIV) and a bacteria (TB) can work so well togather, Why Can’t We? (Michel Sidibe)

Gambar : citizen-news.org
Gambar : citizen-news.org

Ya, jika mereka saja sanggup berkolaborasi begitu kompaknya, mengapa kita tidak? Lalu apa yang bisa kontribusikan untuk mengatasi TB dan HIV? Sebagai masyarakat biasa, banyak kok yang bisa kita lakukan.

Pertama tentu upaya preventif, menghindari keduanya. Pencegahan HIV harus kita lakukan dengan berbagai cara, misalnya : tidak berganti-ganti pasangan, setia pada satu pasangan, menghindari narkoba, dsb.

Gambar  aidsindonesia.or.id
Gambar aidsindonesia.or.id

Pencegahan TB kita lakukan misalnya dengan menjaga kondisi tubuh selalu prima agar daya tahan tubuh senantiasa terjaga. Menjaga kontak dengan penderita, misalnya dengan masker. Menjaga kondisi lingkungan, sehingga kuman TB tidak bertahan lama di sekitar kita, misalnya dengan mengatur agar sinar matahari cukup masuk ke ruangan kita.

Memberi dukungan kepada orang-orang terdekat yang terkena TB, HIV atau TB dengan HIV. Dukungan semangat, dan juga memberikan informasi secara akurat yang mungkin saja belum mereka ketahui.

Speak up! Jika diam adalah emas, maka berbicara bisa jadi adalah platinum. Jangan simpan sendiri pengetahuan kita ttg TB, HIV ataupun HIV TB, share pada teman dan kerabat, baik melalui obrolan-obrolan santai, tulisan, penyuluhan atau ….. hmm menulis diblog seperti ini, rasanya akan menjadi sebuah kontribusi yang berguna pula.

yuk atasi TB HIV

Nah, yuukk bergandengan tangan atasi TB dan HIV, enggak mau kan kalah sama virus dan kuman? Saya enggak mau kalah ah sama kuman, maluuuu …:D

=================================================================
Referensi :
www,vdh.state.va.us/epi/tb
www,aidsindonesia.or.id/
www,tbindonesia.or.id/
health,detik.com/read/2014/03/03/182539/2514116/763/ini-lho-hubungan-antara-tb-dengan-hiv-aids
www,tanyadok.com/kesehatan/bagaimana-cara-mendiagnosa-hivaids

Ilustrasi By wyuliandari
Gambar-gambar : shutterstock

=================================================================

14 tanggapan untuk “TB dan HIV: Tantangan Kita Bersama

  1. Ha..ha…bisa saja dirimu ini Mak. Mumpung liburan nihh. Ini “ngunyahnya” lamaaaa mak. udah drafting hampir seminggu. Baru selesai. ha..ha…aamiin…aamiin. Punya Mak juga keyennn, suka aku ide2nya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s