Mengemas Potensi Wisata, “The Hidden Paradise”

Bondowoso, tak terasa, sebelas tahun sudah saya berada di kota ini. Tugas sebagai PNS lah yang telah menarik saya dari Surabaya, kota penuh hiruk pikuk nan dinamis, ke kota adem ayem berhawa sejuk ini.

Sejak awal berada di sini, sungguh harus saya akui, tak berlebihan tempat ini dijuluki “The Hidden Paradise”. Sebenarnya, kota ini terkenal dengan sebutan Kota Tape. Ya, kota kecil ini memang menjadi penghasil tape singkong nomor satu di Jawa Timur. Tape singkongnya yang top markotop surotopp… uenakk dan manis.

Selain, sebagai Kota Tape, Bondowoso juga kerap “dipanggil” kota pensiunan. Konon kota ini banyak sekali dihuni para pensiunan. Benar atau tidak, saya tidak tahu. He..he..karena belum ada data resmi mengenai hal ini.

Yang jelas, kota ini menyimpan potensi yang luar biasa. Salah satunya di bidang wisata. Meski saat ini sektor ini belumlah tergarap secara optimal. Namun saya melihat banyak hal, bukan hanya sekedar pemandangan indah, yang dapat dikemas menjadi paket wisata yang …. Wowwww!

Salah Satu Sunrise Ter-Indah di Dunia Ada di Sini
“Sun rise nya indaaahh…, itu salah satu sunrise terindah di dunia!”

Saya masih mengingat antusiasnya kakak semata wayang saya bercerita pengalaman pertamanya mendaki Kawah Ijen. Saat itu beliau masih duduk di SMA dan saya masih SD sepertinya. Berperjalanan ke Ijen untuk pertamakali atas undangan sahabatnya, yang merayakan ulang tahun di puncak kawah ijen. Asyik ya!

Ijen memang menjadi primadona wisata Bondowoso. Kalau saya perhatikan, setiap saya ada kesempatan ke Palm Hotel dan Ijen View Hotel, selalu saja menemukan turis mancanegara di sana. Dan itu, hampir bisa dipastikan, untuk menyambangi Kawah Ijen.

Salah satu kaldera terbesar, penambang belerang, blue flame, dan … sunrise yang aduhai, itu hanya sekelumit yang bisa kita nikmati dari Ijen. Masih buanyaaaakk hal lainnya.

Ijen memang mempesona, bukan hanya pemandangan di kawahnya. Namun segala yang ada di sekitarnya. Salah satunya adalah Agrowisata PTP Nusantara XII Jampit, masih satu kawasan dengan kawah ijen.

burning-fumarole-at-night  photo credit: Andi-Rosadi
burning-fumarole-at-night
photo credit: Andi-Rosadi
Beautiful Ijen Photo Credit : Jessy Eykendorp
Beautiful Ijen
Photo Credit : Jessy Eykendorp

Nah, kalau yang ini foto saya bersama rekan ketika bertugas di kawasan Ijen.

Kali Pait yang Airnya Asam
Kali Pait yang Airnya Asam

Perkebuan ini terletak di ketinggian + 900 M DPL, dengan luas areal berkisar 4000 Ha. Di sini wisatawan dapat menyaksikan panen kopi hingga proses pengolahannya hingga menjadi kopi yang siap saji.

Urusan akomodasi pun sudah cukup mendukung, meski memang masih harus banyak berbenah. Di kawasan ijen banyak tersedia penginapan. Mau menginap di kota Bondowoso pun, ok.

Yang menarik adalah keberadaan Guesthouse jampit. Sebuah bangunan tua peninggalan Belanda yg sudah dibangun sejak 1928. Wah… sama dg tahun lahir mbah putri saya. Menurut saya, bukan hanya bangunannya yang istimewa, suasananyapun sangat mendukung. Suasana pedesaan Eropa menurut saya cukup kuat di sini. Apalagi didukung taman bunga cantik dengan pohon-pohon tua yang sangat serasi. Suguhan kuliner di sinipun ala Belanda.

Batik Yang Meng-Internasional

Bondowoso bukanlah sebuah daerah yang memiliki latar belakang sejarah panjang dalam hal per-batik-an. Setidaknya hingga saat ini, begitulah yang saya amati dan baca di beberapa referensi. Tak seperti Yogja dan Solo yang sudah sangat tenar batiknya.

Meski demikian, saya melihat, perkembangan batik di Bondowoso cukup membanggakan. Di pasar high end, kini ada Yuke Yuliantaries, yang berhasil membawa “Batik Sumbersari” go internasional. Batik sumbersari, yang workshopnya berlokasi di Kecamatan Maesan, bagian selatan Bondowoso, kini sudah menjual produknya ke beberapa negara Eropa dan Amerika. Bahkan kini sudah memiliki gerai di Finlandia.

Salah Satu Koleksi Batik Sumbersari
Salah Satu Koleksi Batik Sumbersari

Untuk pasar menengah, ada Sofiah, perempuan belia yang sukses memberdayakan sekitarnya melalui Batik Lumbung. Usahanya kini sudah mendapat sambutan yang baik terutama di pasar nasional. Banyak daerah sekitar Bondowoso memesan batik untuk seragam dari Sofiah ini.

Nah, Kalau ini hasil karya Sofiah
Nah, Kalau ini hasil karya Sofiah

Dukungan pemerintah daerah pun, saya lihat cukup oke. Saat ini sudah ada SMK Tamanan, SMK khusus Kriya Tekstil yang concern pula memberi bekal pengetahuan batik pada anak didiknya. Bahkan menurut kabar yang saya dengan, saat ini SMK ini sedang mengerjakan order sekian puluh ribu lembar batik untuk seragam PNS se Bondowoso.

Saya melihat potensi yang siap diorbitkan di sini.
Yang perlu dipikirkan adalah meningkatkan kemampuan desain, memberi bantuan kemudahan permodalan dan peralatan.

Nah, batik ini bisa dikemas pula menjadi bagian dari paket wisata. Belajar membatik langsung di workshop batik, sekaligus memborong oleh-oleh kain batik tulis yang indah, pasti menjadi daya tarik tersnediri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Batik Sumbersari, milik Mas Yuke, sudah sering dikunjungi wisatawan. Workshop yang memang telah disetting sangat asri dengan nuansa etnis yang kental itu tak hanya menawarkan kepuasan berbelanja batik. Namun juga menikmati suasana dan menghirup “aroma” batik.

Batik-batik di sini adalah kualitas papan atas. Harganya pun bisa dikata lumayan. Termurah berkisar 400 ribuan. Dan untukbatik berbahan sutra dibandrol bahkan hingga tujuh digit. Sepadan dengan keindahannya.

“Menjual” Ke-Ndeso-an Bondowoso
Apapun dan bagaimanapun Bondowoso nantinya berkembang, harapan saya, Kota Tape ini tak kehilangan ke-ndeso-an nya. Whatt?

Iya, saya tidak pernah setuju menjadikan Bondowoso bak Kota besar dengan keriuhan dan mall-mall di dalamnya. Biarlah Bondowoso tetap menjadi desa. Suasana desa yang ramah. Alam desa yang tetap hijau. Karena justru ciri khas tersebut, saya yakin akan laku “dijual”. Seperti kata Thukul Arwana, Biar tampang katrok asal rejeki kutho… Ha..ha…

Eh, tetapi. Ada tapinya, nih. Meski ndeso, Bondowoso harus memiliki akses transportasi yang bagus dong. Juga berbenah menjadi tempat tertib, bersih dan tertata sehingga nyaman untuk dikunjungi.

Salam hangat dari “The Hidden Paradise”

 

7 tanggapan untuk “Mengemas Potensi Wisata, “The Hidden Paradise”

  1. Penasaran juga, mengapa Bondowoso disebut kota pensiunan. xixi….
    Ayo… tulis surat saran ke pemkot agar bisa memperbaiki infrastruktur Bonowoso agar tidak menjadi hidden paradise lagi mbak.🙂

    Suka

  2. Semoga mbak… saya sendiri bagian dari Pemkab Bondowoso. ha..ha… tetapi semua memang butuh proses mbk. Terimakasih sudah mampir mbakyu🙂

    Suka

  3. Iseng ketik “Bondowoso The Hidden Paradise” di pencarian Google, eh postingannya mbak Yuli nongol di urutan teratas.

    “Menjual ke-Ndeso-an Bondowoso”, okesip ini mbak🙂 macam desa wisata gitu ya mbak..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s