Beban Ekonomi dan Kematian Akibat TB

Hingga saat ini, Tuberculosis masih menjadi masalah kesehatan bagi dunia. Kasus TB diperkirakan 8,6 juta kasus di dunia. Negara kita, menduduki peringkat keempat di dunia untuk jumlah kasus TB terbanyak. Peringkat satu sampai tiga diduduki oleh India, Cina, dan Afrika Selatan.

0

Sedangkan angka kematian yang diakibatkan penyakit menular yang satu ini di dunia mencapai 1,3 juta jiwa per tahun. Berkorelasi pula dengan HIV, sebanyak 1,1 juta Orang yang terinfeksi HIV juga menderita Tuberculosis. Belum lagi kasus TB resistan obat, dari 450.000 kasus, 170.000 diantaranya meninggal.

Bagaimana kondisi di Indonesia? Sama memprihatinkannya. Tiap tahun terdapat 67.000 kasus kematian akibat TB. Jika diambil rata-rata, berarti sekitar 186 orang per hari meningga akibat tuberculosis.

Bahkan TB telah menjadi pembunuh nomor satu diantara penyakit menular. Tuberculosis juga menjadi peringkat 3 dari 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia.

Apa artinya statistik di atas? Apa hubungannya TB dengan ekonomi? Saya akan berusaha mengupasnya dalam tulisan ini.

Pengeluaran Negara Untuk TB
Mencermati angka-angka kejadian penyakit serta kematian akibat TB yang sungguh memprihatinkan, mungkin akan timbul pertanyaan, berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk mengatasinya?

Apalagi jika melihat kebijakan obat TB gratis, saya membayangkan nominal anggaran yang juga pasti tidak kecil. Ternyata benar, tahun 2014 saja, Rerata biaya pengobatan kasus TB adalah 228 USD.
Sedangkan untuk biaya pengobatan kasus MDR-TB pemerintah memperkirakan akan menghabiskan hingga 10.027 USD. Jauh lebih besar, mengingat obat TB resistan itu jauh lebih mahal daripada obat anti TB biasa. Lama pengobatan pun bisa mencapai dua tahun.

Lebih rincinya, kira-kira begini: Nilai tengah atau median biaya untuk seorang pasien TB adalah sebesar Rp.339.000,- untuk fase diagnosis; Rp.509.000,- fase pengobatan intensif dan Rp.790.000,- untuk fase kelanjutan pengobatan.

Sedangkan untuk kasus TB MDR seperti ini : Rp.450.000,- Untuk fase diagnosis, Rp.10.453.000 untuk fase pengobatan intensif, dan Rp.11.893.000,- untuk fase kelanjutan pengobatan MDR-TB.

Kerugian Ekonomi Bagi Penderita Dan Keluarga

0_Kerugian Ekonomi TB

Ada ungkapan klasik, “sehat itu mahal”. Saya percaya enggak percaya dengan ungkapan ini. Menurut saya menjaga kesehatan justru dapat dilakukan dengan cara mudah dan murah. Justru kalau terlanjur sakitlah yang kemudian berbiaya mahal.

Seperti halnya jika terkena TB. Tujuh puluh lima persen pasien TB, sampai-sampai harus berhutang untuk biaya pengobatan dan biaya sehari-hari. Kalau untuk obat, memang pemerintah sudah menyediakan gratis. Namun bagaimana dengan biaya untuk peningkatan gizi penderita, biaya transportasi ke tempat pelayanan kesehatan, dan biaya-biaya lain yang masih belum bisa terkover program pemerintah?

Repotnya lagi ketika penderita adalah tulang punggung keluarga, yang akibat TB, kemudian harus beristrahat dan tak dapat bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa 3 atau 4 bulan masa kerja akan hilang karena seseorang sakit TB. Hal itu berpotensi menyebabkan hilangnya 20-30% pendapatan rumah tangga dalam setahun. Lima puluh persen pasien tuberculosis mengalami penurunan pendapatan per tahunnya. Ini, ibaratkan kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Lebih menyedihkan lagi kalau kemudian terjadi kematian akibat TB. Apalagi jika yang meninggal adalah kepala keluarga yang menafkahi seluruh anggota keluarga. Maka keluarga yang ditinggalkan tentu akan kehilangan sumber nafkah mereka dan sangat boleh jadi akan terjerumus dalam kemiskinan.

Bahkan hal ini pernah diteliti. Hasilnya, jika seseorang yang merupakan kepala keluarga meninggal akibat TB, maka keluarga yang ditinggalkannya akan kehilangan sekitar 13-15 tahun penghasilan.

TB dan Kemiskinan, Lingkaran Tak Berkesudahan
Berbicara masalah penyakit dan kemiskinan, mungkin seperti sebuah lingkaran tak berkesudahan. Bahkan TB disebut-sebut sebagai “Giant Poverty Producing”.

Seperti sebuah lingkaran, akibat kemiskinan orang menjadi kurang gizi, tempat tinggalpun tak memenuhi kriteria kesehatan, dan tak dapat melakukan pemeliharaan kesehatan yang baik. Akibatnya, kemudian jatuh sakit. Kerena miskin, mereka tak bapat berobat sebaik-baiknya, penyakitpun makin parah, mereka pun makin miskin.
Saya sangat yakin, sebenarnya kondisi ini sangat bisa diatasi. Terkadang berbicara masalah kemiskinan, bukan semata-mata “ketiadaan” harta. Saya sering menjumpai masalah kemiskinan yang sangat terkait dengan masalah mindset.

Contohnya saja di daerah saya. Kalau dilihat dari kondisi rumah dan konsumsi sehari-harinya, banyak masyarakat sekitar saya yang saya pikir bisa kita katagorikan miskin. Tapi pada waktu-waktu tertentu, mereka “mampu” mengelurkan sejumlah besar pengeluaran untuk hal-hal yang mereka yakini penting. Misalnya saja untuk acara pernikahan, khitanan, peringatan-peringatan hari besar yang dirayakan dengan besar-besaran, berbiaya hingga ratusan juta rupiah.

Rokok, Beban tambahan tersendiri

0_rokok dan tb

Berbicara masalah rokok, saya kok berkeyakinan bahwa benda ini membawa tekanan tambahan masalah TB dan tekanan ekonomi akibatnya. Kok bisa?

Iya, rokok dapat memberi beban tambahan, setidaknya melalui dua jalan. Pertama, korelasinya dengan Tubuh dan TB itu sendiri, kedua kontribusinya dalam mencipta kemiskinan.

Rokok disebut-sebut sebagai sesuatu yang dapat mengganggu daya tahan atau imunitas tubuh. Tentu, ketika daya tahan tubuh berkurang, tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi TB (juga penyakit infeksius lainnya). Rokok juga membuat seseorang lebih mudah terkena TB.

Bagi pasien TB yang masih nekad tetap merokok, rokok ternyata dapat mengurangi efektifitas obat anti TB. Nah, lo. Padahal obat TB mahal, lho. Berarti benar-benar nekad kalau sudah didiagnosa TB tetapi masih merokok.

Rokok juga berkorelasi dengan kemiskinan. Rokok disebut-sebut sebagai penyebab kemiskinan nomor dua di Indonesia. Artinya? Saya melihat peluang yang sangat besar bagi pemberantasan kemiskinan yang akhirnya juga berkorelasi dengan penanggulangan TB melalui jalan memerangi rokok.

Contoh mudahnya begini, andai saja sehari seorang kepala rumah tangga yang perokok itu berhenti merokok, mungkin bisa menghemat anggaran sepuluh hingga limabelas ribu. Nah, penghematan tadi bisa dialihkan untuk biaya gizi atau hal lain yang terkait dengan kesehatan.

Nah, itu baru sehari. Jika berhenti merokok sebulan bisa menghemat Rp.300.000,- sampai Rp 450.000,-. Seandainya sebagian dana tersebut ditabung, bisa lho untuk merenovasi rumah sederhana saja,namun memenuhi syarat kesehatan. Ternyata, hanya dengan stop rokok saja ada peluang besar kan, untuk mengatasi TB.

Tekanan Ekonomi Bagi Semua
Berbicara masalah tekanan ekonomi akibat penyakin TB, Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan FKMUI menyatakan kerugian ekonomi akibat TB dapat dilihat dari 4 aspek.

Pertama adalah Health consumption effect, yaitu kerugian dalam bentuk berkurangnya konsumsi barang atau jasa kesehatan akibat sakit atau meninggal.

Aspek kerugian yang kedua adalah Social interaction and leisure effects, yaitu kerugian akibat terhambatnya interaksi sosial dan kurangnya waktu luang untuk santai.

Ketiga, Short term production effects, misalnya berupa keluarnya biaya untuk berobat dan hilangnya hari kerja produktif maupun turun atau hilangnya kesempatan mengurus keluarga dan rumah tangga secara baik. Yang terakhir, Long term production consumption effect, dalam bentuk efek demografis konsumsi serta suplai tenaga kerja

Apa Yang Harus Kita Lakukan?
Mencermati statistik TB di bagian awal tulisan ini, juga melihat dahsyatnya kerugian ekonomi yang ditimbulkannya, kiranya perlu upaya-upaya serus dalam menanganinya.

Dalam hal ini “mengatasi TB” kemudian bukan sekedar “mengobati pasien TB”. Harus lebih dari itu. Yakni mulai dari upaya pencegahan TB, Mendiagnosa hingga menyembuhkan pasien TB, mengatasi kerugian akibat TB. Dan ini kemudian seyogianya tak hanya menjadi bagian pemerintah saja. Namun juga bisa pihak swasta melaui program CSR mereka, NGO, dan seluruh stakeholder terkait termasuk masyarakat luas, lho!

Berikut ini paparan ide-ide saya untuk mengatasi TB termasuk tekanan ekonomi akibat TB.

1. Sinergitas Program
Ini bisa dilakukan pemerintah atau pihak-pihak lain yang memiliki program yang bisa disinergiskan dengan penanganan TB. Mensinergiskan Pogram pemberantasan TB dengan program-program lain yang bisa saling mendukung saya rasa akan sangat baik hasilnya.

Misalnya, ada program untuk pemugaran renovasi rumah kurang layak huni menjadi rumah sehat. Nah, program ini bisa dimanfaat dengan pemilihan sasaran misalnya sekian persen untuk rumah pasien TB yang kondisinya masih belum layak. Atau bisa juga diperuntukkan bagi daerah-daerah dengan banyak kasus TB.

Tentu dana pemerintah belum mampu menjangkau semua, maka upaya edukasi masyarakat tentang rumah dan lingkungan sehat menjadi sangat penting. Ketika masyarakat sudah berpikir, bahwa rumah sehat itu adalah sesuatu yang mendasar, maka pemenuhannya juga akan menjadi prioritas.

2. Edukasi Lingkungan Sehat
Juga perlunya masyarakat diedukasi, bahwa rumah sehat tak masti mahal dan mewah. Rumah sederhana asal berventilasi dan mendapat sinar matahari cukup dan berlantai plester, cukuplah sudah.

Sangat membantu pula jika misalnya masyarakat yang belum menikmati tempat tinggal yang layak bisa didorong secara berkelompok misalnya dalam bentuk paguyuban. paguyuban ini nantinya didorong dalam sebuah program pemberdayaan yang akhirnya dapat mengusahakan secara mandiri tempat tinggal yang sehat secara mandiri.

3. Edukasi Gizi
Masyarakat harus dipahamkan, bukan saja mengenai apa-apa yang seharusnya mereka konsumsi. Tetapi, edukasi masyarakat tentang bagaimana pemenuhan gizi dengan anggaran mereka yang terbatas, menurut saya itu hal sangat krusial.

Masyarakat harus tahu, bahwa gizi yang baik, tak mutlak harus mahal. Mengapa saya katakan ini menjadi hal penting? Karena saya masih sering mengamati masyarakat kurang pas menata prioritas dalam menggunakan anggarannya. Sudahlah duit pas-pasan, makanan yang dibeli masihlah makanan instant, atau jajanan sembarang yang sangat tak jelas nilai gizinya.

Padahal jika bisa smart sedikit saja, alihkan saja anggaran sepuluh dua puluh ribu yang biasa digunakan membeli bakso, aneka es, serta aneka snack kosong gizi lainnya. Gunakan dana tersebut untuk membeli buah dan sayur serta sumber protein yang murah meriah.

Dengan asupan gizi yang baik, masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang sehat dan kuat. Daya tahan tubuh akan bekerja sebagaimana mestinya dan tak mudah terinfeksi TB maupun penyakit infeksius lainnya. Sedangkan bagi yang terlanjur sakit, pemenuhan gizi yang baik tentu akan menjadikan proses sembuhnya menjadi lebih cepat.

4. Sekali lagi, Sosialisasi TB
Sosialisasi TB masih dan memang harus terus berlanjut. Dalam berbagai bentuk dan media, sosialisasi tentang TB sangat penting mendapat perhatian. Faktanya masih banyak, lho yang belum mengetahui hal-hal penting tentang TB.

Misalnya, sebagai blogger, hampir setiap hari saya blogwalking minimal ke 5 rumah maya teman-teman saya. Nah, masih saja saya dapati komentar : “jadi TB bisa sembuh?” atau “ oh, baru tahu kalau obat TB gratis …”, pada blogpost tentang tuberculosis.
Lha, kalau di kalangan melek internet saja informasi tentang TB ternyata masih belum sepenuhnya dipahami, bisa dibayangkan bagaimana masyarakat kebanyakan memahaminya?

Sosialisasi TB harus dapat menyentuh segala lapisan masyarakat. Artinya, ini harus dilakukan dengan berbagai cara. Diajarkan di sekolah, dikampanyekan di surat kabar, majalah, media-media online, disampaikan di acara perkumpulan Ibu-ibu, dan lain sebagainya.

Dan jangan lupa, kita semua adalah bagian dari kekuatan. Kekuatan untuk membebaskan Indonesia dari TB. Yuuuk …

12 tanggapan untuk “Beban Ekonomi dan Kematian Akibat TB

  1. Infonya bagus mbak. Kemiskinan memang dijadikan kambing hitam, padahal udah banyak puskesmas gratis. Harusnya TB bisa dicegah, atau paling tidak diketahui lebih dini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s