Jember Suatu Siang : Kisah Perjuangan Pak Sroedji dan Emosi Yang Teraduk-Aduk

0_thenovel2

Saya mendengar nama Sroedji beberapa tahun lalu pada masa-masa awal saya berada di Bondowoso. Tetapi, ya hanya sekedar tahu nama dan informasi bahwa beliau seorang pahlawan. Sudah, titik begitu saja informasi yang saya tahu.*please jangan bilang, ter la lu!

Eh, tiba-tiba beberapa bulan lalu, di kalangan teman-teman komunitas blogger beredar informasi, bahwa ada seorang teman blogger juga yang menulis buku tentang kisah kepahlawanan Pak Sroedji ini dalam bentuk novel. Lalu, muncul pula informasi tentang lomba resensi novel tersebut. Saya sangat tertarik, sayangnya untuk mendapatkan novel itu berarti saya harus ke Jember, karena pasti tak ada di toko buku manapun di Bondowoso. Ha… ha… nasib wong ndeso.Dan lagi, saat itu saja sedang sibukkejar beberapa deadline.

Beberapa minggu kemudian, satu demi satu teman blogger memposting liputan acara bedah novel tersebut. Waduh… saya ngiri tingkat dewa. Kapan saya bisa hadir di acara serupa. Pasalnya di Bondowoso, mana ada acara begituan.

Namun saya berharap dan saya yakin, bedah novel Sang Patriot pasti juga bakalan diadakan di Jember. Pasalnya di situlah Pak Sroedji gugur, dan menorehkan jejak perjuangannya yang demikian heroik.

Benar saja dugaan saya. Tak lama berselang, saya melihat undangan terbuka untuk menghadiri Bedah Novel Sang Patriot di RRI Jember. Langsunglah saya pesan seat ke Mak Priit Api Kecil. Meski terus terang saya galau, pasalnya acara tersebut bersamaan dengan acara kantor ke kota Malang. Yang penting dapat seat dululah, pikir saya.

Eh, dasar rejeki. Semua bisa diatur. Ternyata saya bisa menghadiri acara tersebut. Sebenarnya suami juga ingin hadir, namun siapa yang akan menjemput sekolah si sulung kemudian? Akhirnya saya harus menghadirinya sendiri.

Pukul delapan saya sudah berangkat, diantar Suami ke terminal. Bondowoso-Jember saya putuskan dengan naik bus saja. Sekalian bernostalgia, karena sudah bertahun saya tak naik bus. Perjalanan satu jam dengan bus, disambung setengah jam dengan angkot dan ganti becak, maka sampailah saya di RRI Jember.

Mak Priit dan Suami terlihat siap menyambut tetamu di pintu aula. Saya ucapkan salam dan menyapa mereka, memperkenalkan diri. Ternyata saudara-saudara, mereka berdua tak mengenali saya. Pangling kata Mak Priit. Mungkin karena kadar kecantikan saya sedang meningkat. *abaikan.

Cerita Proses Penggarapan Novel Yang Menggugah
Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam acara bedah novel ini. Pertama, tentu saja sang penulis novel itu sendiri, Mbak Irma Devita, yang cucu dari Pak Sroedji. Kedua Kang ilham, akademisi Unej dan budayawan Jember serta Pak Akhmad Hariyono yang juga seorang akademisi.

Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel "SAng Patriot"
Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel “SAng Patriot”

Bagi saya, cerita proses penulisan novel ini menjadi sangat menarik. Bagaimana Mbak Irma yang tadinya penulis buku-buku non fiksi, bergenre Hukum, tiba-tiba menyebrang ke genre novel. Ini sangat menarik.

Saya yakin, proses penggarapan novel ini pasti tak mudah. Apalagi ini menyangkut data-data dari tahun yang lampau. Coba, di Indonesia ini mencari data yang untuk saat ini saja seringkali susah. Apalagi ini data dari peristiwa yang sudah berpuluh tahun lampau.

Dalam kesempatan tersebut Mbak Irma juga menceritakan kondisi-kondisi berat yang harus dihadapi saat penulisan. Seperti misalnya yang terkait dengan DNA memory, yaitu ingatan yang diturunkan melalui DNA. Dimana pada bagian-bagian yang mencekam, sang penulis merasa seperti benar-benar hadir dalam situasi yang diceritakan. Merasakan ketegangan, ketakutan bahkan sampai pada gejala fisik yang sama dengan yang dialami tokohnya. Ini menurut saya bukan hal mudah.

Pengakuan Marjolein
Marjolein adalah seorang perempuan muda, Asal Belanda yang turut hadir dalam kesempatan tersebut. Dia bercerita bahwa kakeknya adalah seorang marinir yang ditempatkan di jawa Timur pada masa penjajahan.

Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional
Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional

Kalau saya tak salah menangkap (bahasa Indonesia marjoleine sedikit kurang jelas), dia mengungkapkan penghargaannya khususnya terhadap keluarga Mbak Irma, bahwa setelah apa yang telah dilakukan nenek moyangnya ternyata keluarga Mbak Irma masih menerimanya dengan baik tanpa dendam.

Marjolein mengungkapkan bahwa di Belanda, para pejuang kita yang di sini kita sebut pahlawan, di Belanda masih saja dikenal dengan sebutan extrimist. Dan dia benar-benar heran, bagaimana orang yang bertanggungjawab terhadap serangkaian kekejaman perang yang sungguh brutal, di Belanda sono justru mendapat medali penghargaan. Jangan nggumun Marjo, inilah SUDUT PANDANG, kata saya dalam hati.

Emosi Teraduk-aduk
Tadinya saya pikir, saya sedang cengeng, mengapa sepanjang acara ini saya harus berkali-kali membesut air mata. Padahal saya tidak sedang PMS.

Saya tak mampu menahan airmata berjatuhan, ketika Bintang,seorang anak berprestasi cemerlang yang baru saja memenangi lomba storytelling, membacakan puisi. Puisi yang ditulis Mbak Irma dan terdapat pada bagian akhir novel Sang Patriot.
Air mata saya lagi-lagi tak tertahan ketika ditayangkan Film Dokumenter tentang perjuangan pak Sroedji ini. waduh… padahal saya lupa tak bawa saputangan. Untung ada face paper, lumayanlah buat sekedar membesut air mata.

Ternyata, tidak ada yang salah dengan diri saya. Bahkan Mbak Ety, sang MC acara berkali-kali terlihat termehek-mehek. Sampai-sampai pada akhir acara sempat kehilangan kata-kata. Speechless…
Saya pribadi merasa berada dalam kondisi terkocok-kocok. Antara kengerian mendengar cerita kekejaman kaum penjajah masa itu, rasa pedih seperti ikut merasakan ketakutan dan siksaan para pendahulu masa itu, dan seperti ribuan rasa lain yang berkecamuk.

Sungguh, dibanding mereka, para syuhada … saya bukan apa-apa. Lalu pantaskah kita sekarang ini sedikit-sedikit mengeluh? Pantaskah kita bekerja setengah-setengah? Pantaskah kita…. bahkan sekedar beda pilihan ca(wa)pres saja sudah membuat kita saling hujat.
No… oh, no!

Please wake up. Banyak… amat banyak hal yang harus kita kerjakan, daripada hanya sekedar meributkan sekedar secarik kertas yang nongol dari balik jas salah seorang capres.

Bertemu Teman-teman
Salah satu alasan mengapa saya bela-belain ingin sekali datang ke acara ini, selain tentu karena novel itu sendiri adalah karena kenginan bertemu teman-teman blogger.Sebagai newbie di dua komunitas blogger (Warung Blogger dan Kumpulan Emak Blogger) saya sama sekali belum pernah kopdar dengan teman-teman. lokasi geografislah salah satu alasannya.

20140612_124244

Alhamdulillah, acara ini mempertemukan saya dengan beberapa teman blogger. Mak Priiit dan suaminya Mas RZ Hakim juga Mak Lianny. Di sini juga saya bertemu Mbak Ety, penyiar RRI yang sebenarnya sudah cukup sering on air bersama, namun karena saya via telepon, maka kami belum pernah bertemu muka.

Meski hanya beberapa teman blogger yang bisa saya temui, next time insyaa Allah bisa ketemuan yng lebih seru ya teman-teman …

4 tanggapan untuk “Jember Suatu Siang : Kisah Perjuangan Pak Sroedji dan Emosi Yang Teraduk-Aduk

  1. Rugiiii …… wkwkwk.*Kompor panas.
    Sepertinya yang di SUrabaya keren berlipat-lipat deh Mbak. Aksi tearikalnya itu sebnernya aku pengen nonton. Apadaya, Bondowoso-Surabaya 6 jam perjalanan, mean, PP = 12 jam. Hi…hi…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s