Pengendalian TB: Ayo Ikut Berperan!

Halo Teman-teman, kembali membicarakan TB alias Tuberculosis nih! Semoga masih semangat, saya saja yang nulis masih semangat, kok. Menurut saya, berbicara soal TB sama dengan sedang membicarakan tantangan. Ah, saya tak suka pakai istilah beban atau hambatan. Kata “tantangan” terasa lebih bersemangat.

Saya sebut tantangan, bahkan tepatnya mungkin sebuah tantangan yang sangat besar, pertama karena tingginya angka kejadian TB beserta angka kematiannya. Empat ratus enam puluh ribu kasus baru setiap tahunnya serta 67.000 kasus meninggal karena TB juga setiap tahun.

Nah, tingginya angka kejadian dan kematian akibat Tuberculosis ini tentunya juga membawa konsekuensi ekonomi. Negara harus menggelontorkan dan yang besar untuk pengendaliannya, padahal masalah kesehatan tak hanya TB, Lho. Begitu juga masyarakat terutama keluarga penderita yang kehilangan penghasilan akibat TB atau harus mengeluarkan anggaran lebih untuk mengobati TB

Dengan tingginya angka kejadian TB tersebut masih pula diperkirakan banyaknya kasus yang belum ditemukan. Sekitar sepertiga dari jumlah keseluruhan kasus diperkirakan belum ditemukan. Artinya, masih sangat besar jumlah penderita yang belum tersentuh pengobatan dan berpotensi besar untuk menularkan TB pada lebih banyak orang lagi.

Pentingnya peran masyarakat
Sejak tulisan di serial-serial awal, saya berkali-kali menuliskan bahwa mutlak diperlukan peranserta masyarakat dalam pengendalian TB. Klise? Mungkin, namun memang demikianlah nyatanya.

Peran masyarakat sangat penting sejak pencegahan, penjaringan penderita TB, pendampingan selama pengobatan (menjadi PMO) dan masih banyak lagi.

Salah satu upaya melibatkan masyarakat dalam pengendalian TB, adalah melalui wadah berupa Paguyuban TB. Dengan adanya wadah ini, partisipasi masyarakat menjadi lebih terarah dan dapat diukur dengan jelas pencapaianannya. Selain itu, dengan berkelompok, diharapkan hasil yang dicapai juga lebih optimal.

0_Seri 7_Paguyuban2

Contoh di kota saya, Bondowoso ada sebuah Paguyuban TB bernama Panjang Jiwo. Panjang Jiwo dalam Bahasa Indonesia artinya panjang umur. Sebenarnya teman saya yang bertugas di Dinas Kesehatan merekomendasikan Paguyuban yang lain, yakni di Kecamatan Maesan, alasannya “Panjang Jiwo” ternyata lagi mati suri. Namun saya tak mendapatkan informasi untuk membahas Paguyuban yang di Kecamatan Maesan tersebut. Jadi, tak apalah, Panjang Jiwo saya bahas. Siapa tahu dapat “menggelitik” pihak-pihak yang terkait untuk membangkitkan kembali “Panjang Jiwo”.

Mengapa Paguyuban?
Mengapa bentuk paguyuban? Bentuk wadah berupa paguyuban dipilih karena dipandangn mampu menampung orang-orang yang memiliki minat, latar belakang, motivasi yang sama, dan kebanyakan digunakan untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dan persaudaraan. Demikian halnya dengan paguyuban penderita dan mantan pendertia TB Paru ini.

Seperti saya katakan di atas, berpartisipasi dalam wadah paguyuban ini salah satunya adalah tujuan yang terarah. Misalnya, panjang jiwo ini memiliki tujuan jangka pendek yaitu kesembuhan 85% penderita baru yg ditemukan dan menurunkan angka drop out.

Apa sih kegiatan sebuah paguyuban TB. Wah, ternyata macam-macam.Pada dasarnya terbagi 3: penjaringan, pandampingan,dan penyuluhan. Misalnya Paguyuban Panjang Jiwo, punya kegiatan-kegiatan kreatif seperti, mencanangkan Hari TB di Puskesmas setempat, yaitu setiap hari rabu. Kegitan lain adalah pertemuan kader TB, setiap 3 bulan sekali.

Nah, kegiatan dalam pertemuanpun bisa bermacam-macam, misalnya: pemeriksaan, penyuluhan, testimoni, pemberian makanan tambahan/ PMT. Inovasi dilakukan dengan penyuluhan menggunakan gamelan kijung gaya Madura-an. Kijung (kejung) adalah kesenian masyarakat setempat yang mayoritas keturunan Madura, semacam nembang begitu.

Bentuk Peran yang lain?
Ada peran lain yang bisa dilakukan hampir semua orang yaitu, berperan sebagai penyampai informasi. Nah, saya rasa ini relatif mudah. Bisa disampaikan secara santai dalam obrolan-obrolan ringan. Bisa memanfaatkan pertemuan organisasi, arisan atau pengajian Ibu-ibu, dan lain sebagainya.

Di era social media sekarang ini, bahkan akan lebih mudah lagi mentransfer informasi tentang TB. Misalnya lewat FB bisa membuat status atau note tentang TB. Bisa juga share link info TB. Dan, yang mengaku sebagai blogger, buat dong blogpost Tentang TB.

Nah, di bawah ini artikel-artikel saya tentang TB. Jadi tidak sekedar omdo deh, meski sederhana kita juga bisa, kok, berkontribusi dalam pengendalian TB.

1. Beban Ekonomi dan Kematian Akibat TB
2. TB dan HIV Tantangan Kita Bersama
3. TB Resisten Obat Bisa Dicegah Dan Diobati, Kok
4. TB Bisa Disembuhkan
5. Obat TB Gratis, Lho
6. Temukan Dan Sembuhkan Pasien TB

Bantu Temukan!
Penjaringan penderita TB baru adalah hal yang sangat krusial. Seperti disebut di atas, diperkirakan masih sepertiga kasus yang belum ditemukan. Artinya, masih sangat banyak peenderita yang “lepas” dari upaya pengobatan, dan sangat besar risiko mengalami kematian. Di sisi lain, kasus yang tak tersentuh ini akan menjadi sumber yang berpotensi penularan.

Peran masyarakat sangat diperlukan di sini. Jadi bila menemukan kasus dengan gejala-gejala TB, sarankan untuk segera menjalani pemeriksaan. Bila perlu, temani mereka ke fasilitas-fasilitas kesehatan di mana mereka dapat memperoleh pemeriksaan yang akurat.

Jadi, banyak hal yang bisa dilakukan. Masyarakat bisa turut aktif berperan serta dalam pengendalian TB. Nah, ayo ikut berperan!

6 tanggapan untuk “Pengendalian TB: Ayo Ikut Berperan!

  1. Wah,menarik juga ya mak kalo ada paguyuban tb di kampung2. Bisa nih nanti klo bertugas di puskesmas saya usulin untuk membuat program ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s