Sudahi Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB

Seorang pasien TBMDR diusir dari tempat kostnya. Pengusiran terjadi ketika sekitarnya mengetahui dia menderita TB. Badannya memang kurus, dan berkali-kali diantar becak sehabis berobat dari sebuah RS. Hari gini masih ada stigma dan diskriminasi? Nyatanya …

Credit: Scott_Flicker
Credit: Scott_Flicker

Beratnya Perjuangan Pasien TB
Perjuangan berat itu dimulai ketika dokter men-diagnosa mereka Tuberculosis. Maka hari-hari selanjutnya adalah perjuangan menelan berbagai obat dalam waktu berbulan-bulan, perjuangan menahan berbagai gejala TB nya sendiri, masih pula mungkin merasakan tak nyamannya efek samping pengobatan mereka. Masih ingat perjuangan teman saya melawan TB dalam tulisan: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB : Kasus-Kasus TB Di Sekitar Saya.

Apakah hanya sampai di situ? Oh, belum. Penderita TB selama sakitnya tentu berkurang produktifitasnya. Jika penderita adalah ibu rumah tangga, tentu berkurang kemampuannya dalam melayani keluarganya. Bahkan jika sakitnya sangat parah, dia sama sekali tak bisa melayani keluarga. Jika penderita TB adalah orang yang bertugas mencari nafkah, produktifitas bisa menurun bahkan sampai-sampai total tak bisa menghasilkan. Akhirnya,meski Obat TB Gratis, pukulan dalam hal ekonomi ini bisa dibaca di: Beban Ekonomi Dan Kematian Akibat TB.

Dengan beratnya perjuangan penderita TB beserta keluarganya tersebut,masihkah tega kita menambahkan beban lain?

Pukulan Menyakitkan Bernama Stigma
Adakah orang yang suka diberi label negatif? Saya rasa tak ada. Nah, itulah stigma. Stigma, konon berasal dari Yunani untuk menyebut bekas luka dikulit karena ditempeli besi panas yang dilakukan pada budak, penjahat atau oran-orang yang dianggap kriminal.

Sederhananya, stigma = cap buruk alias label negatif.Dalam perkembangannya penggunaan istilah stigma kemudian mengalami perubahan arti. Misalnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Stigma disebutkan sebagai: ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya; Misalnya, anak itu menjadi betul-betul nakal karena diberi stigma nakal oleh orang sekelilingnya.

Yang patut di perhatikan pada pengertian di atas adalah penyebab-nya, yakin karena lingkungannya, bukan karena sejatinya kondisinya memang demikian. Jadi di sini ada peranan luar yakni lingkungan.
Terkait dengan penyakit TB, seperti halnya beberapa penyakit lain, juga seringkali mendapatkan label atau stigma. Misalkan disebut TB sebagai penyakit orang susah/miskin, penyakit karena guna-guna, dll.

Awalnya Stigma, Lalu Diskriminasi
Munculnya stigma terhadap penderita TB, sangat boleh jadi awalnya terkait dengan belum adanya pengobatan terhadap penyakit ini, di masa lalu. Masyarakat kemudian menafsirkan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, lalu muncullah asumsi lain misalnya, TB adalah penyakit kutukan atau guna-guna.

Seiring ditemukannya obat anti TB katagori I yaitu Ethambutol, Izoniasid, Pirazinamid dan Rifampizin juga makin baiknya pelayanan kesehatan khususnya terhadap TB di seluruh puskesmas di Indonesia, tampaknya stigma ini makin berkurang.

Dari Stigma ke Diskriminasi
Berkembangnya stigma di masyarakat tentang TB, kemudian diikuti oleh diskriminasi terhadap penderita TB. Bentuk diskriminasinya bermacam-macam: diusir, dikucilkan, bahkan dipecat dari pekerjaan.

Meski saat ini diskriminasi terhadap pasien TB sudah jauh berkurang dibanding tahun 70-an, namun bukan berarti tidak ada. Beberapa waktu lalu saya menjumpai sebuah kisah penderita TB MDR yang diusir dari tempat kost-nya. Hari gini masih ada diskriminasi pada pasien TB? Nyata, ya.

Sudahi Stigma dan Diskriminasi!
Dalam upaya pengendalian TB, stigma dan diskriminasi ini adalah suatu hal yang sangat merugikan. Bahkan berbagai sumber menyebutkan bahwa stigma menyebabkan terlambatnya penanganan terhadap TB, tertundanya pengobatan, dan tidak teraturnya pengobatan. Hal-hal tersebut diperkirakan menjadi alasan korelasi antara stigma dengan tingginya angka morbiditas dan mortalitas TB.

Jadi, tidak ada pilihan, segera stigma dan diskriminasi harus disudahi. Pemerintah telah berperan dalam melakukan sosialisasi tentang TB sehingga harapannya TB dapat dipahami dengan benar oleh masyarakat sehingga tak ada lagi stigma. Nah, kita sebagai warga masyarakat dapat turut berperan dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi tersebut dengan cara-cara yang kita bisa.

Misalnya, saat ada orang yang kita kenal menunjukkan gejala-gejala TB, sarankan segera periksa, jika ada kekhawatiran tentang TB, sampaikan padanya bahwa TB bisa disembuhkan dan sudah terbukti, bahkan obatnyapun gratis. Atau jika menemui penderita TB dikucilkan masyarakat, sampaikan pada masyarakat sekitar bahwa hal tersebut tidak benar, dan bahwa pasien butuh dukungan moril untuk sembuh.

Nah, pastikan di sekitar Anda tak ada stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB ya 

4 tanggapan untuk “Sudahi Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB

  1. Huhuhu merinding baca bagian, gimana kalau ibu rumah tangga, pasti berkurang kemampuannya melayani keluarga. Jadi bersyukur banget ya mak bisa melayani keluarga dari pagi hingga pagi lagi dengan sehat walafiat. Alhamdulillah🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s