Benarkah Puasa Adalah Detoks?

Puasa Ramdan tahun ini sudah di sepuluh hari terakhir namun semoga belum terlambat untuk membahas sesuatu yang menurut saya sungguh penting ini. Jika membahas puasa dari sisi fisik, pastilah yang sering kita dengar adalah kaitan puasa dengan detoksifikasi, atau puasa sebagai upaya “mengistirahakan organ cerna. Iya kan?

Tapi tahukah kita, bahwa sebenarnya puasa tak serta merta dapat menjalankan fungsi detoksifikasinya dengan optimal?

Yuk coba kita bahas dengan gamblang. Siapa tahu setelah membaca ini Anda tergerak untuk mengoptimalkan manfaat puasa sebagai upaya detoks. Meski tentu harus tetap dipahami, bahwa tujuan utama puasa tetap adalah lillaahi ta’ala.

Banyak dibicarakan kaitan tentang puasa sebagai detoksifikasi. Sayangnya, media mainstream tidak banyak membahas bagaimana sih, mekanismenya? Juga dalam kondisi bagaimana sebenarnya fungsi tersebut dapat optimal.

“Mengistirahatkan” pencernaan
Konsep yang sering dikenal dan diyakini dalam menjelaskan hubungan puasa dan kesehatan adalah “konsep “mengistirahatkan” pencernaan. Bahwa dengan diistirahatkannya pencernaan kita selama beberapa jam saat berpuasa, bagaikan mesin maka dipahami saat itulah terjadi semacam upaya “maintenance” terhadap organ-organ kita.

Penjelasan seperti di atas, sih, masih dapat saya pahami. Namun yang saya sering tak habis pikir adalah kebiasaan umum saat berbuka dan bersahur. Sangat sering saya lihat, berbuka dilakukan bagai balas dendam. Seolah-olah orang tersebut sudah berhari-hari tak bertemu makanan. Maka saat kemudian menemukannya, mereka makan dengan kalap. Makan berbagai makanan, dalam jumlah besar, dengan sangat cepat. Bahkan seperti tak sempat lagi terkunyah.

Nah, dalam kondisi seperti itu, bagaimana bisa konsep “mengistirahatkan” pencernaan saya pahami? Benar memang kita istirahatkan, namun kalau kemudian kita paksakan untuk bekerja secara berlebihan dengan tiba-tiba saat berbuka, dimana letak sehatnya? Ini yang saya pertanyakan selama bertahun-tahun, sampai kemudian saya berkenalan dengan food combining secara luas, bukan hanya FC dalam pengertian sarapan buah, atau tak mencampur karbo dan protein hewani.

Puasa dan kesehatan versi kedokteran
Ilmu kedokteran modern memang tak banyak menyebutkan adanya hubungan antara puasa dan kesehatan.Namun demikian, Herbert M. Shelton yang dikenal sebagai ahli kesehatan natural dan penulis buku Fasting Can Save Your Live, disebut sebagai pelopor yang memanfaatkan puasa dalam upaya penyembuhan seseorang yang menderita penyakit.

Shelton mengkombinasikan terapi puasa dengan jus sayur atau jus buah segar. Sampai saat ini praktek yang dilakukan beliau masih diadopsi oleh berbagai klinik dan rumah sakit yang menggunakan konsep penyembuhan tubuh secara mandiri.

Sejalan dengan apa yang dilakukan Shelton, Maurice Bucaille, dokter pribadi keluarga Raja Faisal mengungkapkan dalam bukunya The Koran and The Science, bahwa hewan mamalia memiliki kecenderungan menahan makan bila sedang sakit. Hal ini adalah sebagai upaya untuk penyembuhan diri. Masih menurut Bucaille, manusia sebagai bagian dari mammalia juga melakukan kecenderungan yang sama.

Lalu, jika puasa memang memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan, mengapa banyak orang yang mengeluh selalu ngantuk saat berpuasa. Mengapa pula banyak yang merasa mengantuk pula saat melaksanakan ibadah-ibadah di malam ramadhan. Bahkan menjelang akhir Ramadhan dan pasca lebaran, biasanya justru banyak mengalami sakit. Adakah yang salah dengan puasa kita?

Bagaimana Puasa Berfungsi Mendetoks?
Dokter lain yang membahas keterkaitan puasa dengan kesehatan bahkan penyembuhan penyakit adalah dokter Hiromi Shinya, seorang gastroenterolog ternama. Dengan pengalaman selama 50 tahun melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap isi perut dari 350.000 pasiennya, Shinya menyimpulkan bahwa, pola makan dengan melaparkan diri sesekali, selama periode waktu tertentu mampu memicu autofagi lebih efektif. Autofagi adalah, kemampuan tubuh untuk membuang sel yang sudah tak berfungsi dengan baik dan harus digantikan.
Dari sinilah, sebagian pemahaman saya dapatkan tentang bagaimana puasa mensupport kesehatan. Tak ada yang salah dengan “puasa” nya. Hanya, yang sering salah adalah bagaimana kita berpuasa, termasuk berbuka dan bersahur.

Kebiasaan Selama Puasa, Masih Jauh dari Sehat
Terkait pola makan, apakah pola makan kita selama bulan puasa sudah mendukung untuk sehat? Nyatanya masih banyak yang berperilaku kalap saat berbuka. Demikian dengan tradisi kuliner. Sebagai bangsa yang kaya budaya, Indonesia berlimpah kekayaan kuliner terutama yang khusus banyak disajikan selama bulan puasa. Takjil atau makanan pembuka saat berbuka, rata-rata adalah makanan yang manis bersantan seperti kolak, es campur, dll.

Ditambah lagi dengan kebiasaan memperbanyak lauk hewani selama Ramadhan. Alasannya baik, mungkin untuk menjamu keluarga sebaik-baiknya selama Bulan suci. Atau membuat keluarga bersukacita dengan hidangan yang berbeda selama Ramadhan.

Lho, memangnya kenapa dengan protein hewani? Bukankah ia adalah makanan sehat bergizi? Ya, sebagian besar masyarakat sangat overestimate memandang portein hewani. Seakan-akan kalau banyak makan daging pasti sehat (dan makmur), sedang jika makan tempe-tahu akan kurang gizi (bahkan identik dengan miskin).

Faktanya, kita membutuhkan protein hewani tak sebanyak yang kita kira. Bahkan saat puasa disarankan lebih memiminimalkan lagi protein hewani. Mengapa? Protein hewani rentan kerusakan akibat lamanya proses masaknya. Memasak daging jauh lebih lama daripada memasak tahu atau jamur, bukan?

Lalu, di dalam tubuhpun, proses memecah protein hewani lalu kemudian menghasilkan kembali sel baru, rawan menghasilkan sel cacat. Artinya proses autofagi yang saya sebutkan di atas akan seperti jalan di tempat kan? karena habis di makan sejumlah sel cacat, maka kita tambahkan lagi…lagi…dan lagi.

Proses cerna portein hewani juga membutuhkan banyak energi. Jadi, logikanya jika kita terlalu banyak protein hewani, kita bisa tekor energi.

Di alam, Tuhan memberi contoh hal ini dengan binatang. Karnivora biasanya akan tidur sehabis makan besar. Bandingkan dengan herbivor yang rata-rata lincah, dan bahkan ada herbivor yang jam tidurnya sangat minim.

Puasa Ala Food Combining
Kunci mengatur makan selama puasa adalah makan dengan tepat dengan cara tepat, di saat yang tepat pula. Berpuasa dengan mengadop pola makan food combining dapat membantu tubuh tetap bugar selama puasa dan bahkan makin bugar selama dan setelah bulan puasa. Bagaiman caranya? Silahkan baca Puasa Ala Food Combining, yang pernah saya tulis sebelumnya.

Puasa Full Raw Food
Beberapa teman saya di komunitas pelaku pola makan sehat melakukan hal ini. Mereka meng “haram” kan nyala kompor selama Ramadhan di rumah mereka. Artinya? Ya, mereka makan totally raw food. Hanya makanan yang umum dimakan mentah yang akan mereka makan.

Jadi sebulan penuh mereka mencukupkan diri dengan hanya makan buah-buahan dan sayur segar, umbu-umbian yang bisa dimakan mentah (misalnya wortel dan bangkuang), biji-bijian, air kelapa dan daging kelapa muda. Pokoknya, tak ada makanan mereka yang terkena nyala api.(Baca juga: Trend Menyantap Rawfood)

Tujuannya? Selain dari sisi fisik untuk mengoptimalkan hikmah sehat dari berpuasa. Mereka juga memandang dari sisi spiritual sebagai upaya makin mendekat pada Penciptanya.

Nah, seperti apa gaya berpuasa Anda? Kalau saya masih sebatas FC saja plus sesekali cheating karena musholla dekat rumah selalu menyediakan kudapan yang menggoda, bakda Tarawih. Sempat berniat untuk 100% berpuasa dengan gaya raw food. Tapi…. Godaannya begitu besarr!

Baca Juga:
Puasa Lebih Bersahaja, Puasa Food Combining
Sehat Dengan Jus
Jatuh Cinta Pada food Combining 1
Jatuh Cinta Pada Food Combining 2
Catatan Tentang Food Combining

4 tanggapan untuk “Benarkah Puasa Adalah Detoks?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s