Serasi Dengan Alam: Menuju Enam Puluh Plus Dengan Sehat dan Bahagia

Di tangan siapakah umur jika bukan pada Sang Pemilik Hidup? Ini bukan hanya soal panjang pendeknya usia. Meski, jujur, siapa sih yang tak ingin berumur panjang. Bahkan ada ungkapan, “aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Sebagai manusia biasa, saya tentu juga ingin berumur panjang. Lebih dari enampuluh lah. Bahkan mencapai delapan puluh bahkan seratus. Itu tentu jika Tuhan mengijinkan, dan itu bukan wilayah saya.

Yang bisa saya lakukan adalah mengikhtiarkan, bagaimana mencapai usia itu, lagi-lagi jika Tuhan ijinkan, dalam kondisi sebaik mungkin. Kondisi terbaik yang biasa saya usahakan baik dalam hal fisik, mental spiritual, maupun materi.

Yuk, simak apa saja yang sudah dan ingin saya lakukan untuk mempersiapkannya.

1. Fisik

Banyak cara saya lakukan untuk memelihara kesehatan jasmani. Semua tak lepas dari keyakinan, bahwa jasad ini hanyalah pinjaman. Maka saya harus dapat mempertanggungjawabkannya kepada Sang Pemberi Pinjaman.

Jika Anda meminjam sebuah piring, maka Anda pasti tak ingin mengembalikan piring tersebut pada pemiliknya dalam kondisi gupil (cuil), retak, apalagi pecah, bukan? Nah seperti itu analoginya, mengapa saya mengencangkan ikhtiar untuk menjaga jasad ini. Seperti apa caranya? Ndak neko-neko, sederhana saja. Semua saya lakukan juga sejalan dengan keyakinan saya untuk senantiasa serasi dengan alam. Nah, ini cara saya.

Pola makan sehat – untuk pola makan, sudah hampir 3 tahun ini saya menerapkan food combining. Nah, pola makan ini dikenal sebagai pola makan yang sangat alami. Bukan hanya makan sesuatu yang alami, namun juga mengatur apa yang kita makan, kapan dan bagaimana kita makan sesuai dengan irama alami tubuh dan kebutuhan tubuh. Sederhananya, pola ini hanya memberikan tubuh apa yang dibutuhkan, bukan apa yang lidah kita inginkan.

Sarapan sehari-hari : Murah, meriah, sehat dan tak neko-neko
Sarapan sehari-hari : Murah, meriah, alami, sehat dan tak neko-neko

Berikut ini cara-cara saya mengatur makan yang saya lakukan:

  • Memperbanyak makanan hidup, artinya makanan dalam bentuk sedekat mungkin dengan aslinya. Misalnya, kalau buah ya dikonsumsi segar. Sayur sekedar dimasak sebentar atau dalam bentuk mentah sebagai lalapan mentah.
  • Membatasi protein hewani baik itu daging-dagingan, susu, keju dan produk hewani lainnya.
  • Membatasi makanan mengandung aditif, misal jajanan berpewarna dan perasa buatan.

 

Bekam– Ini sebenarnya berkaitan dengan ajaran Rasulullah yang saya yakini cukup ilmiah. Terapi bekam atau cupping ini awalnya dikenalkan oleh suami, dan tadinya saya cukup ngeri untuk mencobanya. Tapi niat kuat untuk sehat membuat saya akhirnya bernyali untuk mencoba.

Kami biasanya melakukan bekam secara bergantian. Saya membekam suami, dan beliau gantian membekam saya. Untuk sebagian orang, cara ini sekilas menakutkan. Namun ini adalah cara yang patut dicoba.

 

Yoga– untuk yang satu ini, sebenarnya saya malu-malu harus mengakui, bahwa saya masih sering malas melakukannya. Tetapi harus saya akui, bahwa yoga telah banyak membantu saya bukan hanya dalam mengatasi rasa pegal dan tak nyaman akibat bekerja terlalu keras,misalnya. Yoga juga mampu membantu saya kembali pada keseimbangan.

Saya berhaarap, ke depan, bisa ber yoga dengan lebih konsisten. Tidak angin-anginan seperti sekarang ini.

 

Berbagai Terapi Jadul – Saya ini mungkin termasuk manusia modern yang hobi terapi jadul. Minum wedang jahe atau wedang serai saat masuk angin, wedang serai jeruk nipis saat flu, atau kerokan saat pegal dan masuk angin. Biar saja dikata-katain tidak ilmiah. Yang penting raga ini sehat sentausa dengan sederhana saja.

Saya termasuk yang tidak terlalu tahan dengan obat-obatan bikinan pabrik yang mudah ditemui di pasaran. Misalnya, antinyeri, obat pusing, dsb. Ya, mungkin karena sudah terbiasa dengan ramuan-ramuan jadul tersebut. Bukan anti-obat, lho ya. Saya hanya memanfaatkannya dengan lebih bijak. Misal antinyeri tetap saya gunakan saat sakit gigi. Mungkin karena jarang meminumnya, saya biasa pakai dosis setengahnya saja dan langsung ces pleng!

Dengan ikhtiar ini, saya meyakini, ginjal dan liver saya tak perlu bekerja ekstra keras. Harapannya, mereka sehat sentausa hingga saya menua nanti. Namanya juga usaha, ya? Saya juga yakin, alam ini sudah sangat lengkap menyediakan apa yang kita butuhkan, termasuk obat-obatan. Tuhan sungguh Maha baik menyediakannya.

 

2.  Mental Spiritual

Aspek ini yang tak boleh di anggap remeh. Meski raga masih bugar, namun kemudian menjadi orang tua yang aneh dan merepotkan, sungguh bukan sebuah cita-cita. Saya ingin menua dengan bahagia. Penuh kegembiraan dan bahkan menjadi penyebar aura positif bagi orang-orang sekitar saya.

Seperti Pakde, Shohibul kontes ini misalnya. Beliau  yang tak henti menebar kebaikan dan senantiasa tak bosan-bosan “melempar” kompor panas bagi kebaikan yang siap menyulut semangat orang-orang muda di sekitar.

Untuk menua dengan bahagia, tak neko-neko pula ikhtiar yang saya lakukan. Banyak cara bertebaran, tinggal kita saja mau memanfaatkannya.

 

Penyembuh Jiwa Raga – Kita beruntung sekali, memiliki warisan sebuah penyembuh jiwa (juga raga) yang sangat klasik namun tak lekang oleh waktu. Syair Tombo Ati, adalah sebuah penyembuh yang sangat membumi. Tak neko-neko malah menghasilkan pahala bagi yang mengamalkannya.

Tombo ati

Ono limo perkarane

Moco qur’an angen-angen sak maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholih kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo dzikir wengi ingkang suwi

….

 

Petuah dalam syair di atas sekilas sederhana. Namun mengapa masih agak sulit untuk konsisten menjalankan kelimanya. Tapi, insyaa Allah, tekad itu ada. Semoga tak lama lagi saya sudah bisa menjalankan semuanya dengan konsisten. Sebagai “sangu” untuk masa tua yang berbahagia dan tetap dalam keseimbangan.

 

Menekuni Hobi – Bagi saya, hobi adalah salah satu alat pemelihara keseimbangan. Hobi adalah obat lelah dan penat setelah dua belas jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu bekerja. Maka menekuni hobi is a must!

 

Menyanyi di sela waktu break kantor
Menyanyi di sela waktu break kantor

 

Menulis dan blogging adalah salah satu hobi, hobi saya lainnya adalah membaca, menyanyi, mendengar musik dan jalan-jalan. Semua hobi mesti mendapat jatah waktu, tak peduli betapa sibuknya saya.

 

Bersyukur Setiap Saat – Buat saya pribadi, bersyukur membuat hati adem. Bersyukur juga mendatangkan energi luar biasa sebagai amunisi menjalani hidup yang keras ini.

Tak perlu menunggu momen yang terlihat wahhh untuk bersyukur. Rugi kalau begitu, dan sengsara amat harus menunggu-nunggu momen yang belum tentu datang.

 

Bersyukur itu sederhana saja

Bersyukur itu adalah saat membaui aroma asem-asem seger anak-anak kala bangun tidur

Bersyukur itu adalah saat menikmati nasi lalapan berteman tempe goreng hangat

Bersyukur itu adalah, saat melihat anak bebek berjalan geal-geol mengikuti induknya

Bersyukur itu adalah saat menang kuis dengan hadiah pulsa sepuluh ribu

Bersyukur itu adalah saat bangun pagi dengan jiwa raga yang sehat

Bersyukur itu….

 Ya, sesederhana itulah bersyukur.

Mengeratkan Silaturrahmi – Silaturrahmi memperpanjang umur. Ada pula yang menyebutkan bahwa silaturrahmi memperbanyak rejeki.      Saya meyakini keduanya benar. Meski usia kita sudah tercatat di lauful mahfudz. Namun, dengan bersilaturrahmi saya yakin, usia kita yang sudah dijatah tersebut akan jauh lebih berkualitas dan bermakna.

Terkadang, sebagai ibu bekerja, belum ditambah mengurus rumah dan keluarga, masih pula ditambah pekerjaan lain sebagai penulis, blogger dan independent product consultant di sebuah perusahaan asal USA, rasanya saya berkejaran dengan waktu. Kapan pula waktu untuk bersilaturrahmi?

Memang, jika tidak diusahakan, maka tak akan pula kita dapat melaksanakannya. Maka saya selalu berusaha menyempatkan hadir dalam acara-acara silaturrahmi baik di lingkungan tempat tinggal, komunitas, dll. Sebulan sekali, sebagai emak-emak sudah pasti buat saja wajib hukumnya menghadiri pertemuan PKK RT. Yahh… emak-emak banget ya? Biarin deh, yang penting gaul.

Arisan Alumni SMA

Sesekali juga saya sempatkan hadir di acara alumni sekolah atau kampus, komunitas blogger, dll. Semua acara yang saya hadiri, selalu menjadi semacam recharge energi buat saya. Ada kegairahan dan semangat baru seusai bertemu teman-teman.

Silaturrahmi dengan temna-teman se-angkatan
Silaturrahmi dengan teman-teman se-angkatan

Terkadang, upaya menjaga silaturrahim saya upayakan di sela-sela jadwal perjalanan dinas. Jika rapat atau acara lain ke luar kota, misalnya, saya upayakan mengontak teman yang ada di kota tersebut. Jika memang rejeki, meski hanya sepuluh menit, bertemu teman lama, sungguh kebahagiaan yang luar biasa. Atau terkadang menyempatkan bersilaturrahmi dengan teman-teman di sela waktu istirahat kantor.

 

Berbagi – Saya sangat yakin, berbagi bukannya mengurangi energi, justru makin menambahkannya. Berbagi harta, saya yakin dan sudah membuktikannya, akan mengundang lebih banyak lagi rejeki. Berbagi ilmu pun membuat ilmu yang hanya sedikit ini menjadi makin mumpuni.

Berbagi membuat kita menjadi manusia kaya arti (meminjam istilah Pakde). Blog inipun adalah salah satu upaya saya untuk berbagi. Kebahagiaan terbesar saat mengetahu bahwa apa yang kita berikan ternyata sungguh bermanfaat bagi orang lain.

Berbagi, mengukuhkan posisi kita sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya, berbagi juga mempertegas posisi sebagai Rahmatan lil aalamin. Dan itu sungguh membahagiakan, dan … keren!

3.  Materi

Last but not least, soal materi. Bukannya mau matre, enggak asyik kok kalau nanti menjadi nenek-nenek matre. Namun sungguh tak asyik juga menjadi orang tua yang merepotkan anak-anak soal finansial.

Untuk urusan persiapan materi, tetap saya upayakan. Meski saya seorang  PNS yang alhamdulillah sudah dijamin dana pensiun, namun alangkah indahnya pensiun dengan bahagia dan kaya raya. *ngarep.com

Untuk itulah, saya turut membantu bisnis suami di bidang obat-obatan herbal, tentu di luar waktu kerja saya sebagai PNS. Nge-blog ini juga bagian dari upaya mempersiapkan finansial yang baik jika pensiun kelak. Ke depan saya ingin menjadi blogger yang profesional. Meski, memang jalan ke sana tak bisa di bilang mudah, terutama kendala waktu.

Nah, teman-teman itu tadi upaya saya untuk menuju usia enam puluh plus plus dengan tetap sehat dan bahagia.

11 tanggapan untuk “Serasi Dengan Alam: Menuju Enam Puluh Plus Dengan Sehat dan Bahagia

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

  2. Ngeblog itu adalah salah satu cara untuk mempersiapkan hari tua loh mbak. Sebab nanti ketika sudah senja so pasti tulisan lama kita akan menjadi sebuah nostalgia

    sukses untuk gelaran lombanya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s