MEMENANGKAN HATI KONSUMEN (2)

Banyak sekali pelajaran gratis namun berharga bertebaran dimana-mana, tanpa bisa saya duga. Sayang sekali jika tidak ditulis.

Minggu pagi, kami berolah raga di alun-alun kota. He..he…niatnya jalan dua putaran, tapi baru satu putaran the krucils tertarik dengan kegiatan klub pecinta musang. Jadi berhenti dan main-main sama musang-musang yang lucu.

Setelah puas bermain dengan musang, Si Kakak mengajak ke Stasiun KA, yang sebenarnya sudah tak beroperasi, hanya untuk tempat penjualan tiket saja. Setelah puas main dan tanya-tanya harga serta jadwal kereta, Si adek mulai mengeluh kelaparan. Ayah mengajak kami ke SPBU, numpang cuci tangan. Maklum, anak-anak kan habis memegang-megang musang tadi.

Beres urusan cuci tangan, kami berniat mencari sarapan. Pecel saja, usul saya. Saya pandang ini usul yg moderate. Sudahlah hanya sempat sarapan buah satu ronde, saya ogah menambah “daftar dosa” dengan sarapan yang mengandung protein hewani dan karbo dalam satu sajian. Itu “pantangan” dalam food combining.

Maka Ayah mengarahkan motor ke pasar kota. Sebenarnya di Bondowoso itu ada dua inisial “S” yang super beken untuk urusan per-pecel-an, yaitu Bu Supan dan Bu Sayik. Namun, kata Ayah, beliau tahu ada tempat lain yang (mungkin) enak.

Motor menepi, kami menjumpai gerobak penjual pecel. Usia Ibu penjualnya sudah lebih dari setengah abad, kalau menurut perkiraan saya. Saya memesan empat porsi nasi pecel.

Ibu penjual menawarkan,” yang dua, porsi anak-anak saja? Mungkin khawatir tidak habis”. Sayapun mengiyakan. Beliau ramah melayani The krucils makan. Mau lauk apa? Mau peyek apa krupuk? Kurang lauknya? bla….bla…

Singkat kata, pecelpun ludes. Saya bertanya, berapa yang harus saya bayar. Ternyata hanya Rp. 22.000, untuk 4 porsi pecel ditambah krupuk dan minum air putih. Masing-masing Rp. 5000, untuk 3 nasi pecel porsi kecil, itu untuk Bunda dan The krucils. (He…he…., Bunda makannya dikit yak?)  Dan Rp.7000 untuk 1 porsi full, untuk Ayah.

Saat bersamaan saya membayar, The krucils kompak bersamaan menambah krupuk yang bleg nya mudah mereka jangkau dan buka.

“Ini ditambah 2 krupuknya Bu. Jadi berapa semuanya?” Tanya saya

“Oh…tidak usah” katanya.

Jadi dua krupuk tambahan itu gratis. Saya membayar, Ibu memberi kembalian dan seraya berkata pada saya. “Terimakasih ya, Jeng”, dengan ramah dan tersenyum manis pula.

Nah…. itu tadi pelajaran bisnis yang diberikan Ibu penjual pecel nan sederhana, yang mangkal di depan pasar kota. Niat kami tadi hanya mengajak The Krucils makan di kaki lima pinggir jalan,agar mereka kelak tak canggung makan di mana saja. Eh, malah kami dapat pelajaran tambahan.

 

Pertama, melayani dengan ramah dan full senyum. Kedua, berikan dan jelaskan pilihan pada kastemer. Ketiga, berikan bonus.

 

Begitulah, kami pulang dengan perut kenyang dan hati gembira, karena kini kami punya tujuan pasti jika sedang ingin makan pecel kaki lima. Selamat, Bu. Panjenengan baru mendapat satu lagi pelanggan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s