Sekolah Impian, Sekolah Berwawasan Lingkungan Yang Ramah Siswa

Jika ditantang untuk menceritakan satu saja sekolah tempat saya pernah belajar, sebenarnya sih agak sedikit menggalau juga. Pasalnya, semua sekolah saya dari TK hingga perguruan tinggi, rasanya asyiiiikkk. Semua turut membentuk diri saya yang sekarang. Namun saya akan memilih satu saja untuk diceritakan. Yang saya pilih adalah satu-satunya sekolah dimana setidaknya tujuh dari sembilan semester di sana, saya terbebas dari pelajaran atau mata kuliah matematika. Pelajaran yang sangat saya takuti. *jujur

***

Tak ada yang istimewa pada tampilan fisiknya. Awal saya memasukinya pada tahun 1997 saya justru sedikit tak percaya, really? Inikah kampus yang saya idam-idamkan? Yang akan jadi tempat saya belajar tak kurang dari 9 semester ke depan? Bersyukur, ternyata di balik tampilan fisik yang sangat biasa-biasa saja, Gedung H, Kampus Jurusan Teknik Lingkungan ITS, tempat saya belajar banyak hal dari tahun 1997 hingga 2002, ternyata menorehkan banyak hal berharga bagi saya, dan juga banyak teman lainnya.

Tempaan Dosen Idealis

Rasanya dulu (mungkin sekarang juga masih) ngetrend sebutan dosen killer. Sempat sih, takut nanti bertemu dengan tipe begini, dan awal masuk dah mendengar cerita senior tentang dosen-dosen yang katanya “sulit”. Nyatanya, setelah dijalani… eyalahhh…. Biasa aja. Bahkan selama masa kuliah 9 semester saya sangat antusias bisa berinteraksi dengan berbagai model dosen.

Ada yang super disiplin, selalu tepat waktu pas jadwal beliau harus mengajar plus satu persatu beliau mengecek datar hadir dengan memanggil nama-nama mahasiswa yang ada di daftar. Dengan begini, tak ada satupun yang berkesempatan TA, alias titip absen. Ada pula yang nyantai, tetapi soal substansi yg diajarkan, jangan tanya. Top banget pokok e lah…

berdiskusi Santai Namun Serius Dengan SAlah Seorang Dosen Senior
Berdiskusi Santai Namun Serius Dengan Salah Seorang Dosen Senior

Saking penasarannya dengan kebenaran julukan killer, saya menantang diri sendiri untuk memilih pembimbing tugas akhir (skripsi) seorang dosen paling senior sekaligus terkenal paling killer. Eyalahhh… apanya yg killer. Orangnya baik bener. Memang sih, disiplin dan perfeksionis pake banget. Sampai-sampai kalau ada mahasiswa yang jadwal bimbingan dan tidak datang, beliau akan berkeliling sendiri mencari sang mahasiswa mangkir tersebut. Salah seorang sahabat saya adalah “korban” nya. Ha..ha…

Semua dosen turut memberikan kontribusi dalam proses mendewasanya saya (dan mahasiswa lain) selama berkuliah di sana. Bukan sekedar mengajar, namun mendidik. Itu yang saya rasakan. Hubungan mahasiswa-dosenpun terbilang santai namun tetap hormat. Pendeknya, asyik lah…

Pohon-pohon yang rindang

Meski gedung jurusan kami ini terbilang bangunan lama yang tak begitu menarik dari sisi fisiknya, setidaknya tempat ini cukup nyaman untuk belajar. Dan satu yang sangat saya rindukan, adalah pohon-pohon trembesi raksasa nan rindang. Di bawahnya kami biasa belajar bersama, mengerjakan tugas, berdiskusi, atau sekadar ngobrol kesana kemari sembari ber- haha hihi… terkadang sambil menyantap mie ayam atau meneguk segelas es sinom atau es beras kencur. Wuahh… itu pengalaman yang amat mewah bagi saya.

Berpose Di Bawah Rindangnya Pohon Trembesi, Sesaat Setelah Wisuda, Saya (baju biru) Bersama Teman-teman
Berpose Di Bawah Rindangnya Pohon Trembesi, Sesaat Setelah Wisuda, Saya (baju biru) Bersama Teman-teman

Dinamika Kegiatan Kemahasiswaan

Masa awal-awal saya kuliah, berbarengan dengan kehebohan tahun 98. Tak hanya di ibukota, di Surabayapun sangat ramai dengan berbagai demonstrasi di masa itu. Dan seingat saya, ada saja kalangan kampus yang seperti paranoid dengan kekuatan gerakan mahasiswa. Sejumlah jurusan melakukan pengawasan sangat ketat terhadap kegiatan kemahasiswaannya.

Tidak demikian dengan jurusan kami. Kegiatan kemahasiswaan di tempat kami mendapat perhatian dan dukungan yang cukup, dan tak dikekang oleh pihak jurusan. Undangan-undangan dari himpunan mahasiswa selalu direspon dengan baik. Komunikasi antara jurusan dan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan dan organisasi mahasiswa lainnya yang ada di Jurusan Teknik Lingkungan, berjalan mesra.

Dinamika kegiatan kemahasiswaan yang sangat kondusif kala itu, sungguh memberikan kontribusi besar dalam membentuk mahasiswa menjadi manusia-manusia yang sebenarnya. Bahkan dalam pengamatan saya,  sangat banyak teman alumni  Teknik Lingkungan yang sukses dalam hidupnya saat ini, dulunya adalah aktifis kegiatan kemahasiswaan. Jadi kampus bukan melulu soal akademis, tetapi juga belajar berorganisasi, belajar hidup yang sebenarnya.

Sekolah Impian, Sekolah Ideal

Akhir pekan lalu, tanpa direncanakan, saat berkunjung ke rumah kakak saya diajak untuk melihat-lihat SMA 2 Situbondo, sekolah tempat kakak ipar saya mengajar. Berkeliling kompleks sekolah yang sungguh luas itu, saya seperti berkata-kata sendiri. Ini dia! Ya, sekolah ini mendekati sekolah ideal dalam bayangan saya. Seperti apa sih wujud sekolah ideal versi saya?

Menyatu dengan alam

Mungkin karena saya di besarkan berdekatan dengan alam, dan basic pendidikan saya pun Teknik Lingkungan, rasanya seperti “harus” dilingkupi atmosfer hijau, di manapun itu. Di rumah, kantor, pun sekolah impian dan ideal versi saya.

Sekolah Hijau Membuat Siswa Nyaman Belajar
Sekolah Hijau Membuat Siswa Nyaman Belajar

Saya berkeyakinan, dilingkupi suasana hijau, siswa tak hanya akan betah dan nyaman belajar namun juga akan menjadi media pembelajaran yang sangat bermakna bagi mereka. Sekelilingnya adalah laboratorium hidup yang siap mereka eksplorasi dan kelak akan tertanam kecintaan mereka terhadap lingkungan.

Tak perlu muluk-muluk dalam menciptakan suasana hijau. Tak perlu misalnya sampai harus “memboyonng” persawahan ke tengah belantara beton perkotaan. Mengapa?  Karena pasti akan berharga mahal, dan kemudian pendidikan hanya akan menjadi komoditas yang bisa dinikmati kalangan berpunya.

Memanusiakan Siswa

Dalam pandangan saya, siswa sebaiknya jangan hanya “dicekoki” segala macam hal yang menurut guru atau sekolah atau bahkan pemerintah merupakan hal yg penting dipelajari. Siswa itu punya mau, jadi dalam batas-batas tertentu harus diakomodir apa keinginan mereka, bagaimana mereka akan belajar, kegiatan belajar bagaimana yang mereka inginkan, dan sebagainya.

Saya yakin, ketika siswa diberi kesempatan berkembang ke arah yang memang mereka inginkan, hasilnya akan bagus. Tentunya juga harus ditanamkan tanggung jawab, sehingga siswa akan konsisten dengan pilihan mereka.

Jangan Lupakan Lifeskill

Apa sih lifeskill? Saya meminjam definisi versi WHO : life skills alias keterampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku dengan adaptif dan positif sehingga seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari secara efektif.

Berikut ini beberapa kelompok keterampilan yang termasuk lifeskills menurut UNICEF dan UNESCO: Pertama  LEARNING TO KNOW: Cognitive abilities, kedua LEARNING TO BE: Personal abilities, dan ketiga LEARNING TO LIVE TOGETHER: Interpersonal abilities.

Aspek kognitif saja, jelas tidak cukup. Sudah banyak sekali kita mendengar, orang-orang yang pada masa sekolahnya menampilkan potensi akademik sangat gemilang, namun kemudian menjadi terpuruk saat berhadapan dengan kehidupan nyata. Jadi menurut saya ketiga aspek di atas harus mendapat perhatian. Bukan berat di salah satunya saja.

Dukungan Fasilitas

Tentu kemudian, dukungan ketersediaan fasilitas juga perlu untuk men-support berbagai minat siswa. Namun, perlu digarisbawahi di sini, BUKAN mutlak harus fasilitas-fasilitas mahal. Disesuaikan saja dengan kemampuan sekolah, yang terpenting adanya kreatifitas untuk menyiasati keterbatasan-keterbatasan yang ada.

Saya tidak tahu apakah sekolah ideal versi saya ini terlalu muluk atau tidak. Yang jelas saya merasa sebenarnya, pendidikan yang baik itu sederhana saja. Memanusiakan siswa dan menyiapkan siswa menjadi manusia seutuhnya. Simple kedengarannya. Namun mungkin tak terlalu sederhana juga dalam effort untuk mencapainya.



“Give Away Sekolah Impian”

4 tanggapan untuk “Sekolah Impian, Sekolah Berwawasan Lingkungan Yang Ramah Siswa

  1. setuju mak, semua siswa hanya butuh arahan saja dalam kemampuan mereka, bukan dipaksa dan dibatasi, biarkan mereka berekspresi sesuka hati, selama hal itu berkaitan dengan prestasi sekolah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s