Menikmati Pokak Dan Kue Kucur Di Tepian Suramadu

Situbondo awal tahun 1900-an …

Gadis itu tinggi langsing, dengan sanggul super besar. Kulitnya sawo matang dengan hidung tak mancung, khas indonesia. Dia puteri seorang pedagang asal Madura yang kemudian membuka usaha dan menetap di Situbondo, kota kecil nyaris di ujung timur pantura.

Dia kemudian dinikahkan dengan seorang perjaka yang masih berdarah Persia. Mereka hidup berbahagia dikaruniai enam orang putra-putri. Putri bungsu mereka, adalah ibu saya. So, Madura adalah tanah tumpah darah leluhur saya.

Menyambangi Tanah Leluhur

Suramadu2

Walaupun secara silsilah saya memiliki keterkaitan dengan Madura, namun sayangnya saya baru dua kali berkesempatan mengunjungi Madura, tanah leluhur saya. Pertama sekitar tahun 1999 atau 2000, waktu itu bersama beberapa teman se-kost, menghadiri

pernikahan seorang teman di kota Sampang. Sedangkan keduakalinya adalah sekitar akhir tahun lalu. Bersama beberapa rekan saya menyeberang Suramadu, tanpa rencana seusai mengikuti acara dinas di Surabaya.

Pada kunjungan pertama, tak terlalu banyak kesan yang tertinggal tentang Madura. Mungkin efek kunjungan yang memang lebih fokus untuk ikut menyaksikan kebahagiaan sahabat. Kunjungan kedua, tanpa terencana dan sebentar saja. Waktu itu sore sehabis mengikuti sebuah acara dinas, tetiba saat sudah di mobil seorang rekan nyeletuk. “Yuk nyebrang, aku pingin lihat suramadu”. Dan yang lain termasuk saya juga hayuk aja. Akhirnya nyebranglah kami ke Pulau Madura.

Sekedar menyeberang saja memang, karena kami tak punya waktu saat itu. Menikmati sensasi berkendara melintasi Suramadu, dan nggak nyangka ternyata memang cepat banget mencapai pulau madura melalui jembatan ini. Mungkin hanya lima belasan menit, kami sudah berpindah dari Pulau Jawa ke pulau Madura.

Suramadu saat saya melintasinya-dok pribadi
Suramadu saat saya melintasinya-dok pribadi

Memasuki Pulau Madura selepas Suramadu, saya lihat banyak lapak cinderamata di kiri kanan jalan. Besar dari sisi jumlah, namun masih beratakan dari sisi penataannya. Kesannya kumuh dan kurang mengundang pengunjung untuk berbelanja.

Dari Pantai, Karapan Sapi Hingga Wisata Religi

Banyak potensi wisata yang bisa dikemas menjadi magnet yang akan menarik para wisata datang ke Madura. Pertama, tentu saja pantai. Sangat wajar dan sangat potensial jika ini dikembangkan sebagai destinasi wisata. Madura dikelilingi pantai, tentu saja. Banyak juga pantainya yang menarik. Beberapa berpasir putih dan juga pantai dengan batu-batu besar.

Salah satu pantai yang sangat unik, dan konon hanya dua di dunia yang semacam itu, yakni Pantai Lombang dengan tanaman cemara udang berjejer memagarinya. Ah, kok saya jadi ingat lagu dangdut jaman baheula ya! Sebaris syairnya, seperti ini :

Dan pantai Lombangnya, berpagar pohon cemara … 

Tentu saja karapan sapi tak boleh ketinggalan. Event budaya ini seperti sudah menjadi icon wisata Madura, diselenggarakan biasanya setiap tahun sehabis musim panen tembakau, sekitar bulan September. Sangat khas, tak ditemui di daerah lain, tentu akan menjadi nilai jual yang tinggi. Oh, ya.Karapan sapi ini adalah kejuaraan memperebutkan piala presiden.

Wisata religi dan sejarah juga sangat potensial dikembangkan di Madura. Sebut saja, dari  Masjid agung sumenep, Asta tinggi, Asta Sayyid Yusuf Tlango, Makam raja-raja Bangkalan di Aermata Arosbaya, Mercusuar Sembilangan, Makam Bujuk Cendana di Kwanyar Bangkalan. Wahh…. semua menarik untuk dikunjungi.

Legenda Bebek Goreng Kaum Lelaki L-15, Bebek Sin*ay dan Potensi Wiskul

Tahun 97 hingga 2002, waktu saya masih kuliah di Jurusan Teknik Lingkungan ITS Surabaya, ada sekelompok bujang seangkatan sekitar 9 atau 10 orang saya lupa pastinya. Mereka “kaum minoritas” di angkatan kami (angkatan kami disebut L-15). He..he…maklum jurusan kami waktu itu mahasiswanya dominan cewek.

Nah di kalangan mereka ini beredar cerita bahwa Si Mbah piawai memasak bebek goreng. Yang dipanggil “mbah” adalah salah seorang dari bujang tersebut, asli Madura keturunan kyai di sana. Saya tidak tahu kebenaran ceritanya, namun yang jelas kisah ini melegenda di kalangan kami. Jyahhhh…

Kesimpulan saya, wah pasti bebek goreng itu makanan khas Madura banget. Buktinya, si mbah saja bisa memasaknya. Padahal secara umum kan, memasak bebek diperlukan trik khusus agar tak berbau dan menjadi sajian yang enak.

Ternyata kesimpulan saya ada benarnya juga. Jauh setelah legenda itu diceritakan dri mulut ke mulut, muncullah kemudian cerita tentang bebek sin*ay. Bebek goreng super ngetrend yang letaknya tak jauh dari lokasi Suramadu. Saking happeningnya bebek goreng ini, orang rela antre hanya untuk bisa mencicipinya. Sering pula, sudah antri ternyata tak kebagian.

Nah, itu baru bebek goreng. Padahal, Madura punya segudang stock makanan dan minuman khas yang menggugah selera dan belum terlalu populer. Sebut saja : nasi serpang, nasi jagung-gangan marongghi, srabi, pokak, dsb.

Suramadu Jantungnya: Kafe Pokak Hingga Wisata Belanja

Suramadu1

Suatu masa saya duduk santai di sebuah kafe. Wedang pokak panas mengepulkan aroma wangi rempah-rempah. Sepiring pisang goreng dan kue kucur menemani sang pokak dengan mesranya. Tak begitu jauh dari tempat saya duduk, Sang Suramadu berdiri kokoh, gemerlapan lampu memancar keindahkan.

Kafe ini berasitektur khas seperti rumah-rumah Madura. Sungguh santai duduk lesehan di sini, menyelonjorkan kaki yang sedikit pegal sehabis acara belanja berburu batik Madura dan berbagai kerajinan juga tak jauh dari tempat ini. eitss… tunggu dulu, ini baru ngayal kok. Mungkin belum ada kafe-kafe di sekitaran Suramadu. Setidaknya ini yang saya amati dan juga berdasar info dari Jeng Elok, kawan dari Pemkab Bangkalan yang sempat saya tanya-tanya tentang berbagai hal menyangkut wisata dan sekitara Suramadu khususnya.

Suramadu menurut saya bisa dan sangat bisa menjadi semacam jantungnya wisata Madura, meski bukan terletak di tengah ya. Maksud saya begini, Madura memang memiliki banyak objek yang potensial dikembangkan menjadi destinasi wisata. Namun jangan lupa, letak lokasinya  lumayan tersebar, dan berjauhan. Lalu bagaimana tetap bisa menggaet turis yang terkadang waktunya tak banyak? Seperti yang sering terjadi termasuk saya lakukan, menyeberang Suramadu sekedar mencari bebek goreng, bahkan hanya sekedar berfoto-foto dekat suramadu, lalu sudah! Sayang sekali.

Dalam hal ini mungkin bisa mengambil inspirasi dari Malioboro. Pernah suatu saat saya hanya menggunakan waktu sekitar dua jam di Malioboro, namun sudah cukup banyak mendapatkan hasil perburuan oleh-oleh, mulai dari batik hingga bakpia dan coklat. Mau makan? angkringan banyak kok, juga sejumlah pusat belanja menyediakan kafe biasanya di lantai atas. Mau nonton pertujukan seni, juga ada di dekat situ saja.

Nah, Suramadu juga bisa. Apalagi sekitarnya saya lihat masih banyak area kosong. Saya membayangkan, hanya dalam radius 3 kilometeran dari Suramadu sisi Madura, suatu saat akan ada sebuah pusat belanja dimana pengunjung bisa berburu batik Madura dan aneka oleh-oleh khas Madura. Di area tersebut juga ada kafe-kafe yang menyedikan aneka kuliner khas Pulau Garam. Punya waktu dan bisa menginap? Hotel-hotel murah namun layak pun tersedia. Mudah dicari, seperti mudahnya mencari penginapan di kawasan Prawirotaman atau Sosrowijayan di Jantung Jogja.

Apalagi yang bisa ditawarkan di sekitaran Suramadu. Coba dong lihat foto di atas. Foto ini saya dapatkan berkat kemurahan hati seorang sahabat. Dia bercerita, foto ini diambil dengan menggunakan perahu. Yah, dia bela-belain sewa perahu dan hasilnya…. Mengagumkan!

Jadi? Ternyata Suramadu sangat molek di senja dan malam hari. Nah, banyak hal bisa di-create dari fakta ini. Berperahu di senja hari sambil menyongsong sunset? Hmmm sepertinya asyik. Atau mau yang lebih wah? Mengapa tak coba membikin sebuah restoran terapung? Dinner sambil memandangi kerlip bintang dan cantiknya Suramadu di malam hari, tentu akan menjadi pengalaman mengesankan bukan?

pergola

Dan…

Bagaimana dengan gambar di atas? Coba bayangkan, menatap keindahan Suramadu dari tempat bernaung pergola ini. Lalu angin sepoi menyapa kita. Heaven!

Ngobrol Dengan Ahlinya, Yuk!

Saya sungguh beruntung, bahwa salah seorang dari gerombolan pemasak dan pemangsa bebek goreng bujang L-15, saat ini bekerja sebagai praktisi di bidang lingkungan dan pengembangan daerah. Sandi, nama sahabat saya ini adalah direktur PT Global Solusi Prima, setahu saya sering mengerjakan berbagai pekerjaan fisik maupun non fisik di kawasan Madura, termasuk untuk area Suramadu. Bahkan seingat saya juga dia ikut berkontribusi saat pembangunan Suramadu. Pendeknya ini sosok teman yang pas deh buat saya tanya-tanya soal pengembangan sekitar Suramadu.

Maka suatu malam, di sela-sela kesibuakannya berkeliling nusantara menyelesaikan berbagai projectnya, saya minta ijin padanya buat kepo-in segala sesuatu tentang Madura, Khususnya Suramadu. Maksud saya ingin make sure saja, bahwa angan-angan dan ide liar di kepala saya yang saya tuliskan di atas, itu feseable. Jangan-jangan hanya saya saja yang banyak maunya. Ha..ha…

Saya mengawali diskusi bersamanya dengan mengungkap ide saya tentang Suramadu. “Aku bermimpi suatu saat bisa ada Mangrove walk, lalu ada fasilitas outbond juga. Bergelantungan di antara pohon-pohon bakau tentu asyik!”

“Isu menarik! Tetapi kebanyakan pantainya adalah karang,” pungkasnya.

“Apakah itu berarti impianku itu tidak mungkin? Tanya saya lagi, setengah ngeyel

Masih bisa, tentu di beberapa bagian yang memang pantainya memungkinkan”. Jelasnya lagi.

Nah! Ternyata saya tidak sedang memimpikan hal yang mustahil sodara! Hati saya bersorak.

Lalu saya melanjutkan ocehan. “ Pasti asyik kalau sekitar Suramadu ada café-café …. Restoran terapung, bla…bla….

Lalu dia malah menambahkan , “Bagaimana dengan menara pandang, ….,…. bla..bla…bla…. !

“Aaaakkk… itu semuaa sangat menarik!”

Wah, saya makin bersemangat! Bayangan suatu hari akan mengunjungi kembali tanah moyang saya dengan berbagai pilihan objek yang menggairahkan, sungguh membuat hati saya melonjak girang.

Lalu tetiba sebuah email masuk. Dari dia! Ternyata sebuah dokumen pekerjaannya, sebuah feseability study pengembangan wisata di kawasan suramadu. Gilak! Emejing! Jadi yang sebelumnya kami bicarakan hingga berbusa-busa tentang ide kami untuk Suramadu, bukan sekedar omong kosong!

Saya melihat beberapa ide pengembangan suramadu. Misalnya dengan pembangunan sebuah kawasan wisata yang terpadu. Di mana berbagai pilihan aktifitas ada di sana. Pujasera yang menghadap persis ke laut, ke arah gagahnya jembatan suramadu. Ditambah lagi di belakangnya dibuat berketinggian dengan bukit buatan. Lalu nun di atas bukit rindang itu dibuatlah gazebo-gazebo beratap pergola dengan tanaman merambat. Di situ dibuat pula menara pandang. Wahhh… saya benar-benar terpesona! Hati saya deg-degan menunggu, kapan semua itu mewujud.

Beberapa Masukan Untuk Pengembangan

Masih penasaran soal kesiapan Madura menjadi tujuan wisata, saya mengontak teman lain dari Madura juga. Jeng Elok, dia salah seorang birokrat di Pemkab Bangkalan. Banyak yang saya tanyakan, mulai ketersediaan hotel, tempat makan, pusat informasi wisata, kondisi lingkungan dan lain sebagainya yang menurut saya akan mendukung sektor wisata.

Mencermati informasi dari kawan cantik saya ini, juga merangkum impian dan ide tentang Suramadu dan Madura pada umumnya yang sudah saya kemukakan di atas, saya mencoba merangkum semuanya.

Suramadu Jantungnya – Mengapa harus Suramadu? Suramadu adalah pintu masuk utama, banyak orang datang tak punya banyak waktu menjelajah destinasi wisata lain di Madura. Jadi mengapa tak “mencegat” mereka di sekitaran Suramadu saja. Buat mereka tinggal lebih lama dengan memberikan sebanyak mungkin pilihan yang bisa dinikmati tak jauh-jauh dari Suramadu saja, seperti yang saya kemukakan di atas.

Pengembangan Destinasi Wisata – Objek wisata yang potensial dikembangkan harus “bersolek”. Tempat-tempat wisata mesti rapi, bersih terawat dan ramah wisatawan. Artinya, wisatawan yang datang berkunjung harus bisa berplesir dengan nyaman, aman dan meninggalkan kesan yang baik.

Sarana Dan Prasarana – Tentu ini poin tak kalah penting. Mulai dari jalan dan transportasi umum, kemudiaan ketersediaan hotel serta sarana pendukung lain yang memudahkan wisatawan yang berkunjung.

Faktor Lingkungan – Wahhh, yang satu ini jangan dilupakan ya! Tempat yang bersih tertata dan hijau pasti lebih nyaman dikunjungi.

Jangan lupakan pula sustainability, misalnya soal abrasi pantai. Saya pernah mendengar berita bahwa beberapa titik di Madura telah mengalami abrasi. Ini tidak boleh dianggap remeh, lo. Rusaknya lingkungan juga dapat berakibat matinya sektor wisata, bahkan berimbas pada keseluruhan aspek kehidupan manusia.

Nah, itu dulu deh, sumbang saran saya untuk perkembangan Madura di masa mendatang khususnya sektor pariwisatanya. Semoga tak lama lagi saya dan The krucils, anak-anak kami yang sungguh berkaki gatal bisa backpackeran ke Madura, tanah kelahiran nenek moyang kami.

Catatan :

Gambar dan foto koleksi

  • Arisandi Dwiharto

Mator Saklangkong

(Terimakasih)

 Terimakasih untuk narasumber keren ku:

  • Arisandi Dwiharto
  • Elok
Iklan

12 tanggapan untuk “Menikmati Pokak Dan Kue Kucur Di Tepian Suramadu

  1. waah… kalo turunan Madura yang bicara sih pastinya ingin yang lebih baik buat tanah kelahiran nenek moyangnya… idenya mantap tuh… nangkring sambil melihat sunset dari atas pergola ini sampai malam pas lampu jembatan dinyalakan… uhuks… jadi pengen kesana sama anak-anak… 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya pernah ke Suramadu mak, waktu ada acara pelatihan dulu, sekitar 4 tahun lalu, kaget aja kalau ternyata jembatan ini belim “sempurna” toh pembangunannya, duh… mudah2n ide mak Yuli di lirik ya.. hehe

    Disukai oleh 1 orang

  3. Bener Mbak Eka, sekarang saja penataannya masih belum cukup oke. Padahal kalau melihat dr masterplannya akan keren nantinya kalo diwujudkaan.Oya, ternyata dapet kabar ada seorang teman sedang proses pembebasan lahan sekitar suramadu buat pembangunan sebuah waterboom 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s