Kak Asa Sudah Pandai Antre

Pengalaman backpacking selama liburan kemarin, saya rasakan baaaaanyak sekali memberi manfaat bagi kami. Anak-anak terutama. Salah satunya adalah belajar antre dan bersabar. Ini terutama buat Kak Asa yang pada masa lalu pernah berkali-kali menerima sangkaan hiperakitif, ADHD, ADD dsb akibat perilaku aktif dan tidak sabarannya. Meski kemudian dari hasil assesment di sebuah pusat tumbuh kembang di Jember, tak satupun tuduhan tersebut terbukti.

20141231_193004
Kak Asa, Kelelahan Sesaat Setelah Kereta Tiba Di Stasiun Jember

Satu setengan tahun lalu, “jejak” ketidak sabaran masih sangat terlihat di anak lanang saya ini. Bu Guru, waktu kelas satu melaporkan Kak Asa belum bisa antre saat membeli makanan di kantin sekolah. Dan saya sangat bersyukur bahwa persoalan ini menjadi perhatian serius pihak sekolah.  Seperti yang mereka sampaikan di awal masa sekolah, bahwa aspek karakter akan menjadi perhatian utama.Kognitif jauh lebih mudah.

Bepergian ala backpaker mau tak mau harus membuat kami berkali-kali antre dan menunggu. Antre tiket, menunggu kereta datang, menunggu bus, dsb. Dan saya sangat bersyukur, Mas Asa dan juga adiknya Raniah dapat melewatinya dengan sangat baik.

Bahkan ada cerita menarik di akhir perjalanan kami kemarin. Saat kereta mencapai stasiun jember, semua penumpang mulai bersiap turun. Kami ada di urutan paling belakang karena posisi kursi kami paling belakang. Dan kami tak ingin lewat pintu belakang sebab di sana tak tersedia tangga turun. Tinggi Bok! Saya khawatir anak-anak ada yang terjatuh.

Jadi dengan sabar berbaris dan berjalan perlahan menuju pintu. Sementara  berapa bapak-bapak, penumpang yang posisi duduknya di depan kami, justru terlihat santai, tetap di tempat duduknya dan masih mengobrol dengan sesama penumpang. Mungkin mereka mengambil giliran turun belakangan saja, pikir saya.

Eh tiba-tiba ketika kami sudah sangat dekat dengan pintu, salah seorang Bapak berdiri dan memposisikan diri di depan kak Asa. “Eh, jangan nyalib dong Pak, Gak boleh”, kata si kakak.

Wah, saat itu rasanya kepala saya membesar berali-kali lipat ukurannya. Anak ini berani mengingatkan orang dewasa yang bersikap tak semestinya. Ah, Nang. Bunda bangga!

Si Bapak dengan ekspresi rada malu menjawab, “iya nak, mestinya bapak antri ya”. Alhamdulillah, orang dewasa yang bijak, pikir saya. Saya tersenyum dan mengangguk sopan kepadanya.  Dalam hati berterimakasih, atas tanggapannya yang bijak terhadap anak saya.

Kami terus melangkah mendekati pintu. Seorang Bapak terjatuh. Ini otomatis membuat perjalanan pengantre makin lama. Tapi ini juga saat tepat mengajarkan empati. Asa terlihat sedikit resah. “Sabar ya sayang, kasihan tuh Bapak itu tejatuh, biar ditolong dulu ya”. Si Asa kembali kalem.

Banyak sekali yang kami dapatkan selama dua minggu backpacking. Harapan terbesar saya, bukan hanya membuat anak-anak kaya pengalaman, tetapi juga mengasah empati mereka. Cerita lain akan saya tulis di postingan selanjutnya.

Iklan

4 tanggapan untuk “Kak Asa Sudah Pandai Antre

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s