Menyusuri Kampung Batik di Solo (Bagian 1)

Bagian 1: Batik Gunawan Setiawan, Batik Kampung Yang Sungguh Tak Kampungan

Tempat ini kami temukan secara tak sengaja. Siang itu bakda dhuhur, di hari pertama kami ngebolang di Solo. Kami kelelahan dan saya sedikit merasa gemes, karena aksi rewel si kakak di Kraton Surakarta yang membuat saya dan suami urung menikmati suasana dan belajar sejarah di sana. Padahal kami sudah didampingi guide.

Kami menyusuri jalan ke arah di mana kami bisa menemukan bus. Kembali ke hotel saja niatan kami. Tapi di tepi jalan (ke arah kanan dari pintu Masjid Agung Surakarta sisi kanan), entah bagaimana awalnya, suami ngobrol dengan seorang penjual emas, dan singkatnya si bapak menawari mengantar kami ke  butik batik yang sekaligus kami bisa melihat kegiatan para pembatik. Ya udah, kami oke saja. Alhamdulillah, meski kelelahan saya lihat si kakak yang tadinya rewel kini tampaknya tenang. Moodnya kembali baik.

0_0 unawan setiawan3

Diantar si bapak penjual emas, kami menyusuri sebuah gang di Kampung Batik Kauman. Lokasinya tidak begitu jauh dari Pasar Klewer, tepatnya di jalan cakra. Tak lama kami berjalan, tampaklah butik Gunawan Setiawan. “Teng ngriki batike sae”, ujar bapak tersebut. Kamipun memasuki butik. Bangunan rumah kuno yang difungsikan sebagai show room. Suasananya homy banget. Dengan lemari-lemari kuno yang didalamnya dipajang koleksi batik yang indah. Ah, saya jadi ingat lemari berukir milik mbah putri, mirip penampakannya dan fungsinyapun buat menaruh kain-kain milik si mbah.

Salah satu sudut, homy ...
Salah satu sudut, homy …

Di ruang depan ada welcome drink plus jajanan pasar, menyambut tetamu seolah kembali ke rumah sendiri. Nyaman rasanya mata memandangi koleksi di sini. Pakaian-pakaian yang kelas butik lah. Selain Pakaian, bahan batik ada juga tas berbahan batik. Cantik-cantik! Benar yang dikatakan si bapak yang mengantar kami tadi. Mahal? He…he… buat kantong saya, iya. Banget. Jadi saya hanya melihat lihat di sini. Bahan batik dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bagus di mata. Tapi belum sesuai bagi dompet saya.

Karena sudah dijanjikan untuk melihat proses membatik, maka krucils tak sabar ingin segera melihatnya. Kepada seorang petugas di sana, si kaka asa segera bertanya, “di mana aku bisa lihat membatik?”. Si mbak dengan sabar dan ramah menunjukkan kami ke arah ruang produksi. Beberapa perempuan berkutat dengan canting dan malam. Seorang bapak sepuh terlihat sedang bermesraan dengan kain dan alat cap. Dan seorang lagi sedang memandu beberapa wisatawan mancanegara yang terlihat tekun belajar membatik.

Lihatlah, ini Si Ay yang sedang mencoba menikmati bagaimana rasanya menjadi juragan batik. Duduk di kursi goyang sembari mengawasi pekerja beraktifitas. Hmmm…. Bagaimana Ay, mau beralih profesi dari juragan Tahitian Noni menjadi Juragan batik?? Ha..ha…

0_0 gunawan setiawan 2

Sebelum meninggalkan tempat ini, kami membeli beberapa batang pensil berhias wayang. He..he…rasanya enggak enak juga sudah dilayani dengan keramahan demikian rupa dan tidak membeli apa-apa. Harusnya sih, enggak perlu begitu ya. Tapi enggak nyesel juga kok beli pensilnya. Karena hiasan wayangnya bagus banget!

5 tanggapan untuk “Menyusuri Kampung Batik di Solo (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s