Berdamai Dengan Mood

Sekitar tahun 2008, awal saya belajar menulis dan mulai ngeblog, saya pikir saya hanya bisa menulis jika sedang dalam mood yang baik. Maka kegiatan menulis menjadi tidak konsisten, sangat kenceng ketika good mood, lalu kendor bahkan berhenti saat merasa bad mood. Apalagi jika mood yang kurang oke pas bertemu dengan saat sibuk di kantor. Ya sudah, menulis bisa libur berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Buseeeet….cuti bersalin aja kalah!

Lalu kemudian saya mulai mencoba mendisiplinkan diri, menulis setiap hari. Sesibuk apapun se-bad mood  apapun tetap menulis. Nah, sekarang repotnya, pada saat badmood itu menulis jadi enggak asyik, tulisan juga pasti jadi garing. Tantangannya adalah, bagaimana berdamai dengan mood. Artinya saya harus dapat tetap produktif dalam berbagai mood. Lalu saya mendapatkan inspirasi dari salah satu bukunya Mbak Jennie S Bev, WNI yang terbilang cukup sukses di US sana, bahkan dijuluki queen of research. Dalam bukunya itu Jennie memaparkan berbagai kondisi mood dan bagaimana memenej kegiatan kita sejalan dengan berbagai mood tersebut. Dan di situ pula disebutkan, mood bukan hanya terklasifikasi menjadi bad mood dan good mood, tetapi ada beberapa lagi. Boleh ya, saya bagi buat Anda.

Super smart mood – Ahhh… ini kondisi mood yang sangat asyik. Kita dapat mengerjakan pekerjaan berat yang membutuhkan pemikiran dan ide-ide segar bahkan dapat dilakukan dengan bermultitasking. Nah, kenali saat-saat seperti ini dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan bagian dari aktifitas menulis yg Anda rasa paling sulit. Kalau buat saya, saat begini paling pas membuat outline, mengembangkan ide-ide mentah menjadi outline yang akan membimbing pekerjaan menulis selanjutnya.

Smart but not super smart – Dalam mood ini, Anda masih bisa mengerjakan pekerjaan sulit dengan ok, namun biasanya tidak terlalu ok untuk bermultitasking. Biasanya kalau berada dalam mood ini, saya tetap bisa mengerjakan pekerjaan sulit meski perlu upaya lebih.

 

Smart mood – Nah, kalau dalam mood yang ini, Anda masih bisa produktif. Hanya saja biasanya pekerjaan yg bisa dilakukan dalam kondisi ini adalah pekerjaan yang melanjutkan saja, bukan hal-hal yang baru atau membutuhkan ide-ide segar.

 

Mediocre mood – Masih bisa bekerja di mood ini? Bisa sih, tapi biasanya pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran mendalam, misalnya mengedit blogpost, membalas komen, dll. Terus saja menulis.

 

Super lame – Wah, Anda mulai lemot dalam mood ini, lalu bagaimana? Libur menulis? Wah… kalau buat saya itu terlalu “mewah”, masih banyak pilihan yang bisa dilakukan daripada benar-benar berhenti menulis gegara mood ini. blogwalking, nimbrung di grup-grup menulis atau grup lain yang sesuai minat dan sarat info bergizi, membaca, dll. Semua masih berkaitan dengan aktifitas menulis bukan? Terlalu lemot untuk menulis artikel? Coba tulis saja status atau note di social media Anda. Meski singkat, tulisan tetap upayakan bergizi.

 

Totally blank – Priiit… wah Anda benar-benar blank kali ini. coba saja berjalan-jalan ke luar mencari udara segar. Ke taman kota misalnya, atau cukup ke halaman rumah saja. Tak sempat keluar? Biasanya saya menata ulang pojok menulis saya. Ganti taplak, ganti bunga, atur ulang. Dan taraaa…. Saya siap menulis kembali.

 

Ada banyak hal yang terkadang dapat memperbaiki suasana hati, membuat kita yang tadinya ogah-ogahan menjadi bersemangat. Ada yang menjadikan pakaian dan berbagai pernak-pernik fashion sebagai mood booster. Ini terkadang juga saya lakukan, misalnya dengan mengenakan kerudung kesukaan berwarna cerah dan motif apik, atau saya pakai bros dan asesoris lain yang membuat saya merasa lebih bersemangat. Meski Anda menulis di rumah saja, mandi, berhias dan berpakaian yang dengan apik, sangat penting. Rasa segar dan perasaan oke akan membuat mood juga lebih baik.

Makanan dan minuman tertentu juga bisa menjadi mood booster. Kopi atau teh biasanya dikonsumsi untuk memperoleh efek bersemangat. Tapi hati-hati, jangan berlebihan mengkonsumsinya, Anda bisa-bisa kecanduan. Kalau buat saya, air jeruk nipis hangat bisa menjadi mood booster si pagi hari. Atau secangkir teh rempah sebagai penyemangat di sore hari. Nah, apa mood booster Anda? Share yuuuk

 Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong

banner giveaway 2

Iklan

7 thoughts on “Berdamai Dengan Mood

  1. hildaikka berkata:

    Tedaftar! Terima kasih sudah ikutan ya^^

    Waah… baru tau kalau mood itu ada tingkatannya. hehe Memanage mood itu emang penting banget ya, apalagi untuk pekerja seni seperti kita 😀 *eh, emang blogger pekerja seni? gatau :v

    Suka

  2. wyuliandari berkata:

    ha..ha… saya juga baru tahu pas baca bukunya 😀 btw sebenarnya manajemen mood bisa diterapin di semua aspek kehidupan kok. Gak harus melulu buat pekerja seni atau pekerjaan 2 kreatif.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s