Menikmati Matahari Terbenam Di Papuma, Pantai Eksotik Di Selatan Jember

Jpeg
Jpeg

Memang sudah lama Papuma menjadi salah satu destinasi yang tercatat dalam list kami. Cerita tentang pantai ini sudah banyak ditulis para traveller, lagi pula letaknya dari Bondowoso kota tempat kami tinggal juga terhitung tidak jauh.

Maka kami putuskan,liburan Idul Adha akan kami manfaatkan untuk ke sana. Kebetulan anak-anak libur sejak hari rabu, sehari sebelum Idul Adha. Namun, karena Jumat saya masih harus ngantor, maka kami putuskan berangkat hari sabtunya.

Sabtu siang kami berangkat, sekitar pukul 11. Terlambat dari rencana semula berangkat jam 9, sebab Pak Bojo harus membereskan dulu klakson Si Ijo yang ngadat. Perjalanan dari Bondowoso ke Kota Jember hanya sekitar satu jam. Namun di Jember kami ada beberapa agenda, sehingga kami baru sampai di Ambulu sekitar hampir pukul dua siang.

Ambulu adalah kota kecamatan di selatan Jember, masih masuk dalam wilayah Kabupaten Jember. Kota ini adalah kota terdekat dengan Pantai Papuma. Jadi kami memutuskan bermalam di sini, karena hari minggunya kami berencana mengunjungi seorang sahabat di kota Jember dan lanjut main ke Tiara Jember Park, sebuah tempat wisata air di Jember juga.

(Baca juga pengalaman kami menginap di Ambulu Hotel : Ambulu Hotel Akomodasi Ramah Kantong Di Dekat Jember)

Setelah Check in di Ambulu Hotel, kami beristirahat sejenak. Mandi dan sholat dhuhur lalu leyeh-leyeh sebentar. Bakda ashar baru kami berangkat ke Papuma. Jarak dari hotel ke pantai Papuma, sebenarnya tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dalam 30 menit sampai 1 jam. Namun karena jalan sekitar 5 km sebelum mencapai pantai, sebagian rusak, maka kami berjalan lambat.

Jalur menuju Papuma, jika kita datang dari arah jember, lurus saja. Nanti akan ada pertigaan sekitar 5 km menjelang masuk Papuma. Nah, di pertigaan itulah, kita ambil kanan jika akan menuju Papuma, atau lurus saja jika kita akan ke Pantai Watu Ulo.

Pantai Papuma
Pantai Papuma Terlihat Dari Kejauhan

Sampai di Pantai, matahari sudah kekuningan di barat sana. Namun, hari masih sangat terang. Kami memutuskan berhenti sejenak di bebatuan besar persis sebelum tanjakan menuju pantai. Dari tempat ini kami dapat melihat pantai dari kejauhan.

Oh ya, Tempat ini saat ini dalam pengelolaan Perum perhutani. Persis sebelum tanjakan kita akan menemukan loket petugas, di sini kita beli tiket dulu. Harga tiketnya per orang Rp.17.500,-. Harga ini berlaku sama untuk dewasa ataupun anak-anak. Plus kita bayar juga tiket parkir roda 4 kalau tidak salah Rp.5.000,-

Beberapa meter dari pintu gerbang, tempat petugas tiket tadi, ada segerombolan monyet di tepi jalan. Asa dan Raniah berteriak-teriak kegirangan. Tak terlalu banyak sih, jumlah kawanan monyetnya. Tak sebanyak monyet yang pernah kami jumpai di Baluran.

Begitu turun dari mobil di area parkir, kami disambut angin lumayan kencang. Ombaknya juga tidak santai lo, di sini. Maklum pantai selatan. Di beberapa lokasi saya melihat papan larangan bertulis: “Dilarang Mandi Di Laut”. Namun masih saja banyak orang terlihat berenang di laut. Untuk keamanan Anda, sebaiknya patuhi saja rambu ini. Masih banyak pantai yang lebih aman untuk berenang. Di sini,kita nikmati saja apa yang bisa kita nikmati.

Bukan apa-apa. Ombak laut selatan, terkadang tak bisa berdamai dengan manusia. Beberapa bulan lalu ada tiga keponakan dari staf saya di kantor, datang ke sini (meski bukan persis di lokasi ini). Dua di antaranya terjatuh saat berselfie di atas bebatuan, keduanya tertelan ombak dan meninggal dunia.

Pantai Papuma
Pasirnya Putih Bersih, Asyik Buat Bermain

Saya dan Raniah, gadis kecil kami yang tampaknya akan jadi traveler ini, bersantai sejenak di pantai. Kami bermain pasir putih, selonjoran santai, dan melihat perahu. Ahhh….. heaven! Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sini. Ayah mengajak kami cepat-cepat menuju bukit batu kecil yang ada di ujung. Kami salah memilih parkir, kami parkir di ujung yg satu sementara bukit tempat menara pandang ada di ujung lain. Saya berjalan cepat dan terkadang harus berlari, tak ingin ketinggalan momen matahari terbenam.

Sedikit ngos-ngosan, akhirnya sampai juga kami di puncak bukit. Beberapa remaja sedang berfoto dengan latar belakang sunset. Saya ngeri melihat pose mereka, mereka berpose hanya sekitar 30 cm dari tebing, beberapa posenya adalah yoga pose. Kalau terpeleset sedikit saja, ombak akan menelan mereka. Ah… dasar generasi selfie! Saya hanya ndermimil berdoa,berharap supaya tidak ada tragedi sore itu, di sini. Dalam hati saya ngomel, kalau sampai celaka, apalah gunanya foto-foto itu?

Perahu Nelayan Di Papuma
Warna-warni Perahu Nelayan

Kami menikmati sunset sepuasnya di tempat ini. memotret dari berbagai sisi. Saya sempat juga menanyakan pada Raniah, “senangkah pergi ke sini? Dan dia mengangguk malu-malu. Dan ketika saya  tanya, “maukah terus berpetualang bersama ayah-bunda? “ Dia mengangguk mantap. Yess! Keren anak bunda.

Jpeg
Matahari Terbenam Tampak Dari Balik Rumpun Pandan
Jpeg
Alhamdulillah Ada Yang Bersedia Memotretkan,Jarang-jarang Kami Bisa Punya Foto Formasi Lengkap Begini!

Hari mulai gelap ketika menuruni bukit. Kak Asa yang memang masih terlihat jejak masalah motoriknya mengeluh lelah. Langkahnya mulai diseret. “Ayo, Kak semangat!” saya menyemangatinya. Ini bukitnya tak seberapa tinggi, nanti akan lebih jauh kalau kita ke Ijen. Tapi di sana juga indah”. Saya tak henti-henti memberi support agar dia melupakan rasa payahnya.

Akhirnya sampai juga kami ke tempat parkir. Ayah mengendara santai kembali ke arah hotel. Di belakang si ijo ada beberapa kendaraan lainnya yang juga menuju ke arah kota. See you soon, papuma!

8 tanggapan untuk “Menikmati Matahari Terbenam Di Papuma, Pantai Eksotik Di Selatan Jember

  1. Sebenernya gak boleh main air pantai di Papuma. Tapi karena masih di pasirnya gak apa-apa. Pantai papuma ombaknya keras, karena langsung menghadap Samudera Hindia.
    By the way, travelingnya asyik ya… si kecil kayanya mulai tumbuh jiwa traveler hihiii… nice!

    Suka

  2. Heran juga sih, kasihan banget ada papan larangan kalau akhirnya dilanggar. Sebenarnya tanpa harus mandi/nyebur, sudah banyak yg bisa dinikmati dari papuma.Ingat tulisan seorang anggota tim sar, kecelakaan dan kematian biasanya disebabkan tidak mengindahkan larangan.cmiiw

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s