Belajar Dari Apa Yang Telah Dilakukan Korindo Dalam Pembangunan Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar ( 3 T )

Daerah tertinggal, terdepan dan terluar ( disingkat : 3 T )  adalah wajah depan Indonesia karena berada di area paling ujung dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama beberapa dasawarsa setelah kemerdekaan, teras rumah yang menjadi etalase negara ini, sedikit tersentuh roda pembangunan.

Kriteria daerah dinyatakan sebagai daerah 3 T didasarkan dari : perekonomian masyarakat;  sumber daya manusia;  sarana dan prasarana;  kemampuan keuangan daerah;  aksesibilitas; dan karakteristik daerah. Ironisnya, daerah – daerah ini memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Saat ini tercatat jumlah daerah 3T tersebar di 122 kabupaten dengan 187 kecamatan terluar. Dari jumlah tersebut, 67 kabupaten memiliki pulau terkecil dan terluar. Presiden menetapkannya dalam Peraturan Presiden (perpres) nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019 pada tanggal 4 November 2015 lalu. Sebagian besar daerah 3 T tersebut berada di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Peta Sebaran daerah tertinggal di Indonesia

Peta Sebaran daerah tertinggal di Indonesia (Gambar dari Bappenas)

Kendala Dan Strategi Mengentaskan Daerah 3 T

Dalam nawacita ketiga pemerintahan Jokowi-Kalla, pemerintah mempunyai visi untuk membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Beberapa kendala dalam pembangunan daerah 3 T adalah: akses ke pelayanan dasar dan kapasitas sumber daya manusia yang rendah termasuk perhatian pada karakteristik sosial dan budaya lokal.; akses ke lembaga keuangan, pasar, dan aktivitas ekonomi yang terbatas termasuk juga aksesibilitas dan konektivitas wilayah ke pusat-pusat pertumbuhan; dan minimnya informasi tentang menejemen aset.

Dari laporan yang dibuat oleh Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dijelaskan bahwa strategi pembangunan yang saat ini digunakan adalah pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), pendekatan pendekatan keamanan (security approach), dan pendekatan investasi (investment approach).  Ketiga pendekatan ini berpijak pada potensi unggulan wilayah dan karakteristik sosio-kultural yang spesifik di wilayah tersebut.

Pembangunan daerah 3 T dalam strategi yang dilakukan Kemendes PDTT melalui proses yang sesuai dengan kondisi dan perubahan lokasi daerah 3 T serta tidak bisa cepat. Cara ini ditempuh karena setiap daerah ( ataupun desa di dalamnya) memiliki keunikan sendiri. Sejalan dengan strategi Kemendesa PDTT, kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan bahwa permasalahan di daerah 3 T bersifat multisektor dan kompleks. Harus ada konsep menyeluruh dan terintegrasi seperti pada gambar di bawah ini.

Strategi pembangunan daerah tertinggal

Strategi dalam mengentaskan daerah tertinggal ( sumber gambar  : Bappenas )

Di tahun 2019 ini, pemerintah menargetkan mengentaskan 80 kabupaten tertinggal, termasuk yang terdepan dan terluar. Upaya besar ini, hanya bisa dilakukan melalui kerja sama secara sinergi dan terkoordinasi dengan berbagai instansi pemerintah, BUMN, pemerintah daerah termasuk kemitraan dengan swasta dan masyarakat setempat.

Mengungkap Peran Swasta, Belajar Dari Korindo

Seperti yang telah ditulis di atas bahwa membangun daerah 3 T tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah dan berbagai instansi pemerintah seperti BUMN, namun harus melibatkan juga swasta dan elemen masyarakat. Dalam proses pelaksanaanyapun,  filosofi dan strategi perusahaan harus ada kesesuaian dengan konsepsi dan strategi  yang telah digariskan pemerintah. 

Pada bagian di bawah akan dituliskan apa yang sudah dilakukan Korindo sebagai perusahaan swasta dalam upaya perubahan Indonesia menjadi lebih baik dengan membangun perbatasan dari terasnya Indonesia .

Profil Singkat Korindo

Korindo adalah perusahaan yang berdiri tahun 1969 dan 100 % perusahaan Indonesia. Awalnya Korindo bergerak di bidang hardwood, lantas merambah ke bidang plywood / veneer, produksi kertas koran,  hutan tanman industri dan kelapa sawit.

Dalam upaya mendukung  swasembada pangan Indonesia , di  tahun 2016, Korindo melakukan usaha yang terpadu menanam padi di wilayah Merauke dan sekitarnya.

Korindo memiliki misi meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program-program pengembangan sosial yang sistematis dan berkelanjutan . Juga, membangun kesadaran, pengetahuan dan kapasitas, dan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Serta, mendorong sinergi dalam bentuk koordinasi, integrasi, dan kolaborasi kegiatan pengembangan program sosial dengan berbagai para pemangku kepentingan.

Sebagai perusahaan global yang profesional, Korindo juga memiliki berbagai sertifikasi seperti : Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK), Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Kehutanan (FLEGT), Forest Stewardship Council, Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL),  Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Sertifikasi yang telah diperoleh Korindo

Gambar sertifikasi Yang Diperoleh Korindo ( Sumber gambar : Korindo CSR Report 2017 )

Filosofi Korindo Dan Jejak Di Asiki

Berbagai kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sudah dilakukan oleh Korindo selama 50 tahun beroperasinya. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan filosofi perusahaan untuk membangun hubungan harmonis, bermanfaat dan berkelanjutan bersama masyarakat dan stakeholders demi kemajuan dan kesejahteraan bersama melalui 5 pilar program utama.

Lima program utama ini berdiri saling melengkapi secara komprehensif. Jejak yang bisa dilihat pada yang yang sudah dilakukan Korindo di  Asiki berada di Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel yang berjarak 350 km dari kota Merauke, Papua.

Selama puluhan tahun, tidak ada perusahaan yang mau menginjakkan kakinya di Asiki karena lokasinya yang jauh dan sulit. Tahun 1993, Korindo hadir dengan bisnis penanaman pohon, kemudian bisnis kelapa sawit, kemudian berkembang dengan percobaan kultivasi padi di Merauke, Papua.

Di Asiki, Korindo telah membangun sarana ibadah seperti masjid yang mampu menampung hingga seribu jamaah dengan fasilitas lengkap, taman bermain, pasar prabu, jalan, balai latihan kerja, rumah sakit, kebun masyarakat, sekolah dan lainnya.

Kehidupan ekonomi menggeliat di Asiki dan secara bersamaan kehidupan sosial budaya tumbuh secara harmonis. Asiki berubah bukan hanya secara fisik. Asiki adalah contoh bagaimana strategi pengentasan daerah 3 T seperti yang dicanangkan pemerintah bisa bersinergi dengan strategi, visi dan misi perusahaan swasta seperti Korindo.

5 Pilar  CSR Corindo

1. Pilar Pendidikan

  • Pendidikan Anak Pedalaman

Pada 2017, KORINDO  telah berkontribusi dalam membangun berbagai sekolah dan juga menyediakan fasilitas 25 bus sekolah bagi siswa- siswa di daerah Asiki. Keberadaan transportasi ini akan memudahkan perjalanan ke sekolah.

Korindo jugamemberikan bantuan untuk guru honorer dan peralatan mengajar. Juga, bantuan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) seperti budidaya ternak, otomotif, pelatihan las, agrobisnis dan lainnya.

Baca juga tautan ini : Membangun pendidikan kepekaan lingkungan hidup

  • Dukung Pendidikan Anak Usia Dini
  • Kerja Sama dengan Universitas di Bidang Pendidikan

KORINDO  melalui Divisi Plywood  di Pangkalan Bun, Kalimantan, telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman di bidang pendidikan dengan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan pada  3 Oktober 2017 lalu. Kerja sama ini berlanjut ke tingkat riset – riset pertanian yang diperlukan.

  • Bantu Mahasiswa Indonesia Hampir Rp 2 Miliar

Korindo menyerahkan piagam beasiswa kepada 702 mahasiswa dari 5 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan total mencapai Rp 1,9 miliar

  • Donasi 10.000 Paket Alat Keterampilan

Pada pertengahan Oktober 2017, Korindo Grup telah menyumbangkan 10.000 paket alat sekolah yang berupa alat praktek menjahit untuk menunjang keterampilan siswa siswi sekolah dasar di Jakarta Selatan.

  • Workshop untuk Siswa dan Guru
Kontribusi Korindo dalam Pendidikan di daerah 3 T

Kontribusi Korindo dalam Pendidikan di daerah 3 T (Sumber gambar : Korindo)

2. Pilar Kesehatan

Pembangunan klinik modern Asiki. Klinik ini berhasil mendapat predikat klinik terbaik di tingkat Papua versi BPJS Kesehatan.

Klinik Asiki memberikan program “Mobile Service” ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua.

klinik ASIKI dipilih sebagai klinik terbaik se Papua

Kinik ASIKI dipilih sebagai klinik terbaik se Papua (Sumber gambar dari Korindo)

3. Pilar Ekonomi

KORINDO berhasil membangun investasi kondusif di daerah perbatasan, yakni di Boven Digoel dan Merauke, Papua. Korindo berhasil mengembangkan konsep industri ramah lingkungan bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit dan menyerap 10 ribu tenaga kerja. Prestasi ini dicapai di daerah yang minim infrastruktur.

Geliat ekonomi Asiki terbentuk. Pasar kian ramai dengan ratusan pedagang yang menjual hasil perkebungan dan bahan pokok lainnya.

Korindo menyediakan sebagian lahan operasional kebun sawit untuk dijadikan lahan persawahan dan kebun sayuran seluar 10 hektar, selain bantuan pupuk, traktor, program pembinaan dan alat pendukung pertanian.

Kontribusi Korindo dalam bidang ekonomi di daerah 3 T

Kontribusi Korindo dalam bidang ekonomi di daerah 3 T (Sumber gambar : Korindo)

4. Pilar Lingkungan

Korindo terlibat dalam penghijauan bukit Gendol Wonogiri dengan penanaman 7 ribu bibit pohon beringin. Upaya ini dilakukan untuk membantu pahlawan lingkungan setempat yaitu mbah Sadiman, warga sekitar bukit dan agrowisata Bulukerto, Wonogiri.

Selain di Wonogiri, Korindo juga menyumbang 5 ribu bibit pohon untuk ditanam Taman Hutan Kota Cempaka dan 3 taman hutan kota di wilayah Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Baca juga tautan ini : Bagaimana mengetahui usaha kita wajib AMDAL dan UKl – UPL

Bantuan Bibit pohon untuk penghijauan (Sumber gambar dari Korindo)

Bantuan Bibit pohon untuk penghijauan (Sumber gambar dari Korindo)

  • Membangun Pembangkit Listrik Biomassa Ramah Lingkungan di Papua

Korindo berhasil membuat pembangkit listrik biomassa di Papua sebesar 10MW dengan bahan baku dari pelet kayu. Sumber bahan baku biomassa ini dari pemanfaatan lahan seluar 7,2 ribu hektar yang ditanami Jabon dan Ecalyptus.

5. Pilar Infrastuktur

Asiki yang dulu terisolasi sekarang berkembang menjadi kota modern. Korindo memberikan sumbangan dalam pembangunan klinik Asiki, fasilitas pendidikan, membuka akses jalan dan jembatan, sarana pemukiman, penyediaan air bersih, listrik, fasilitas gedung sekolah, bus, rumah ibadah, balai pengobatan, bahkan membangun pusat ekonomi seperti pasar-pasar tradisional.

Secara khusus, di Kampung Asiki Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, telah dibangun perumahan, 10 unit sekolah, sarana prasarana sebanyak 18 tempat ibadah seperti gereja dan masjid 25 bus sekolah, pasar tradisional, sarana air bersih untuk kapasitas 1.000 keluarga, 8 sarana klinik kesehatan,  9 juta watt sarana penerangan, dan sebuah taman kota serta 1 klinik modern.

  • Pengembangan Trans Papua

KORINDO telah berkontribusi dalam pembangunan jalan Trans Papua. Pembangunan insfrastruktur jalan ini menjadi kunci mobilitas pengembangan kawasan Papua dan akan memiliki efek menyebar yang menggerakkan roda ekonomi.

Kontribusi Korindo dalam bidang infrastruktur pembangunan jalan

Kontribusi Korindo dalam bidang infrastruktur pembangunan jalan ( Sumber gambar : Korindo )

  • Pembangunan Jalan di Kalimantan Tengah

Terlibat dalam pembangunan jalan sepanjang 15.623 meter di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Penghargaan Untuk Korindo

Tahun 2018 lalu Korindo mendapatkan penghargaan Padmamitra Award dari Kementerian Sosial Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena peran Korindo dalam menangani daerah terpencil. Padmamitra Award adalah penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada pihak swasta atas kontribusinya pada pembangunan sosial masyarakat.

Penghargaan Padmamitra Award untuk Korinda

Penghargaan Padmamitra Award untuk Korindo (sumber gambar : Korindo)

Padmamitra Award adalah salah satu dari sekian penghargaan yang sudah diterima oleh Korindo. Penghargaan lain yang pernah diterima adalah CSR Program Award (BKPM), CSR Program Award Ministries Cooperatives and Small Businesses, CSR Program Award Provincial Government of Papua, CSR Program Award from the President of KOTRA, Best CSR Company Award from KOTRA and BKPM, CSR Program Award from BKPM,  CSR Program Award from BKPM, Scholarship Award from Gajah Mada University, dan lain – lain

Berbagai penghargaan yang telah diterima Korindo

Berbagai penghargaan yang telah diterima Korindo (sumber gambar : Korindo)

 

Epilog

Mengentaskan daerah 3 T adalah kerja besar yang diamanatkan oleh konstitusi. Pemerintah tidak bisa melakukan sendirian. Perusahaan swasta Korindo sudah turut mengambil peran itu. Kiranya, apa yang sudah dilakukan Korindo dengan kegiatan CSR nya, bisa menjadi contoh bagaimana dan seperti apa kita semua bisa bergerak.

Referensi :

Tautan dari media Korindo

  1. http://www.korindo.co.id ( Website Korindo )
  2. korindonews.com/border-building-to-becomes-a-terrace-of-indonesia/?lang=id (Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia)
  3. korindonews.com/change-for-indonesia/?lang=id (Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik)
  4. Korindo CSR Report 2017, Continuously Working For Better Society
  5. korindonews.com/korindo-assists-farmers-manage-farmland-papua/?lang=id (KORINDO Bantu Petani Garap Sawah Di Papua )
  6. Majalah Green Tomorrow, Volume 2 Edisi 4 – November 2018

Tautan Lainnya :

  1. Bulletin Kawasan, EDISI NOMOR 24 TAHUN 2010, Bappenas
  2. news.detik.com/berita/d-3092196/jokowi-tetapkan-122-kabupaten-ini-daerah-tertinggal-2015-2019
  3. ditjenpdt.kemendesa.go.id/index.php/view/detil/46/membangun-kawasan-3t-membangun-beranda-indonesia
  4. ekbis.sindonews.com/read/1321378/34/makna-strategis-kawasan-3t
  5. kawasan.bappenas.go.id/images/data/Produk/PemantauanEvaluasi/2016/Laporan_Akhir_2016_1.pdf

5 respons untuk ‘Belajar Dari Apa Yang Telah Dilakukan Korindo Dalam Pembangunan Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar ( 3 T )

  1. taufiq berkata:

    Indonesia memiliki wilayah pantai terpanjang di dunia, menjadi persilangan dua benua dan dua samudera. Posisi strategisnya tidak perlu diperdebatkan. Membangun daerah perbatasan dan pulau terluar adalah kewajiban yang sifatnya sudah mendesak, karena berhubungan juga dengan keamanan, kedaulatan dan mengamankan kekayaan alam. Jadi semua pihak harus berperan, menginformasikan hal – hal baik yang berkaitan dengan pembangunan daerah tertinggal, terluar dan terdepan.

    Suka

  2. wyuliandari berkata:

    Idealnya seperti itu. Sayangnya, peran swasta dalam pembangunan insfrastruktur dari tahun ke tahun turun. Coba baca tautan ini : nasional.kontan.co.id/news/peran-swasta-dalam-pembangunan-infrastruktur-turun-dari-tahun-ke-tahun.

    Kalau sebagai blogger sih, perannya lebih meng-gema-kan hingga terdengar dan makin banyak yang terlibat, bahwa ada daerah 3 T yang membutuhkan prioritas pembangunan. CMIIW

    Suka

  3. abdurrachim berkata:

    Tulisannya berbobot banyak rujukan. Semoga sj ke dpn bnyk swsta yg terlibat mmbangun daerah trtinggal spt Korindo. Syangnya, sringkali di birokrasi sndiri punya aturan dan program yg tumpng tindih. 😦

    Suka

  4. wyuliandari berkata:

    Kalau saya melihat pemerintah sekarang banyak melakukan kebijakan untuk menyederhanakan birokrasi dan fokus ke hasil. Kita optimis saja, bahwa persoalan 3 T bisa diselesaikan asalkan ada sinergi semua pihak. tks, kunjungannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s