Surat Pak Mentri Yang Bikin Ramai

Beberapa hari lalu di timeline ramai urusan surat edaran pak menteri. Penasaran, saya googling, koyo opo to SE yang bikin banyak orang bereaksi. Mulai dukungan tanda setuju, kritik ketidaksetujuan, menilai kebijakan ini bukan sesuatu yang signifikan hingga menuduh pemerintah mulai dzolim. Wadooowww. Baca lebih lanjut

Masjid Lama Prajekan: Kenangan Ramadhan Masa Kecil

20140712_162805

Menengok kembali tempat ini, seperti membuka kenangan masa kecil. Tigapuluh tahun lalu, saat aku selalu merasa hebat, setiap kali selesai mengikuti Tarawih di tempat ini. Masjid lama Prajekan, saksi betapa antusiasnya aku menjalani Ramadhan kala itu.

Kue-kue dihidangkan usai Tarawih. Putu mayang, kue apem, kue mangkok dan lainnya. Semua dihidangkan bergantian hari demi harinya. Semua buatan Mbah Putri dan saudari-saudarinya. Lalu aku dan sebayaku berebut mengambil kue-kue itu. Itulah salah satu keceriaan Ramadhan kala itu. Baca lebih lanjut

Bintang, Bersinar Dari Jember

Akhir-akhir ini, entah mengapa keinginan untuk menulis tentang hal-hal atau orang-orang di sekitar saya, begitu kuat. Saya menilai, banyak sosok yang bisa menginspirasi. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari keberhasilan orang lain.

Bintang

Bintang

Setelah bercerita tentang dua sosok anak muda Bondowoso yang sukses dengan karya batiknya, lalu juga bercerita entang seorang kawan yang sukses menjadikan hobi craftingnya sebagai sumber penghasilan, juga seorang kawan penghobi kuliner yang berdedikasi terhadap kuliner sehat, maka sosok yang akan saya ceritakan kali ini sedikit berbeda. Iya, berbeda dengan sosok-sosok sebelumnya, yang ini masih sangat belia.

Anak gadis beranjak ABG yang menggemaskan ini saya temui pada saat acara diskusi Novel Sang Patriot di Aula RRI Jember. Waktu itu dia membacakan sebuah puisi karya Mbak Irma Devita yang terdapat dalam Novel Sang Patriot di halaman-halaman akhir. Keren! Begitu kebanyakan hadirin mengomentari penampilannya. Dan menurut saya memang benar-benar keren.

Puisi yang menggetarkan itu dibawakan bintang dengan sempurna. Suara yang jernih dan lantang, serta intonasi yang pas tak berlebihan, ditambah lagi dengan penghayatan yang total, membuat sepanjang puisi itu dibacakan, menganak sungai air mata para hadirin yang menyaksikan. Termasuk saya. Baca lebih lanjut

Jember Suatu Siang : Kisah Perjuangan Pak Sroedji dan Emosi Yang Teraduk-Aduk

0_thenovel2

Saya mendengar nama Sroedji beberapa tahun lalu pada masa-masa awal saya berada di Bondowoso. Tetapi, ya hanya sekedar tahu nama dan informasi bahwa beliau seorang pahlawan. Sudah, titik begitu saja informasi yang saya tahu.*please jangan bilang, ter la lu!

Eh, tiba-tiba beberapa bulan lalu, di kalangan teman-teman komunitas blogger beredar informasi, bahwa ada seorang teman blogger juga yang menulis buku tentang kisah kepahlawanan Pak Sroedji ini dalam bentuk novel. Lalu, muncul pula informasi tentang lomba resensi novel tersebut. Saya sangat tertarik, sayangnya untuk mendapatkan novel itu berarti saya harus ke Jember, karena pasti tak ada di toko buku manapun di Bondowoso. Ha… ha… nasib wong ndeso.Dan lagi, saat itu saja sedang sibukkejar beberapa deadline.

Beberapa minggu kemudian, satu demi satu teman blogger memposting liputan acara bedah novel tersebut. Waduh… saya ngiri tingkat dewa. Kapan saya bisa hadir di acara serupa. Pasalnya di Bondowoso, mana ada acara begituan.

Namun saya berharap dan saya yakin, bedah novel Sang Patriot pasti juga bakalan diadakan di Jember. Pasalnya di situlah Pak Sroedji gugur, dan menorehkan jejak perjuangannya yang demikian heroik.

Benar saja dugaan saya. Tak lama berselang, saya melihat undangan terbuka untuk menghadiri Bedah Novel Sang Patriot di RRI Jember. Langsunglah saya pesan seat ke Mak Priit Api Kecil. Meski terus terang saya galau, pasalnya acara tersebut bersamaan dengan acara kantor ke kota Malang. Yang penting dapat seat dululah, pikir saya.

Eh, dasar rejeki. Semua bisa diatur. Ternyata saya bisa menghadiri acara tersebut. Sebenarnya suami juga ingin hadir, namun siapa yang akan menjemput sekolah si sulung kemudian? Akhirnya saya harus menghadirinya sendiri.

Pukul delapan saya sudah berangkat, diantar Suami ke terminal. Bondowoso-Jember saya putuskan dengan naik bus saja. Sekalian bernostalgia, karena sudah bertahun saya tak naik bus. Perjalanan satu jam dengan bus, disambung setengah jam dengan angkot dan ganti becak, maka sampailah saya di RRI Jember.

Mak Priit dan Suami terlihat siap menyambut tetamu di pintu aula. Saya ucapkan salam dan menyapa mereka, memperkenalkan diri. Ternyata saudara-saudara, mereka berdua tak mengenali saya. Pangling kata Mak Priit. Mungkin karena kadar kecantikan saya sedang meningkat. *abaikan.

Cerita Proses Penggarapan Novel Yang Menggugah
Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam acara bedah novel ini. Pertama, tentu saja sang penulis novel itu sendiri, Mbak Irma Devita, yang cucu dari Pak Sroedji. Kedua Kang ilham, akademisi Unej dan budayawan Jember serta Pak Akhmad Hariyono yang juga seorang akademisi.

Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel "SAng Patriot"

Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel “SAng Patriot”

Bagi saya, cerita proses penulisan novel ini menjadi sangat menarik. Bagaimana Mbak Irma yang tadinya penulis buku-buku non fiksi, bergenre Hukum, tiba-tiba menyebrang ke genre novel. Ini sangat menarik.

Saya yakin, proses penggarapan novel ini pasti tak mudah. Apalagi ini menyangkut data-data dari tahun yang lampau. Coba, di Indonesia ini mencari data yang untuk saat ini saja seringkali susah. Apalagi ini data dari peristiwa yang sudah berpuluh tahun lampau.

Dalam kesempatan tersebut Mbak Irma juga menceritakan kondisi-kondisi berat yang harus dihadapi saat penulisan. Seperti misalnya yang terkait dengan DNA memory, yaitu ingatan yang diturunkan melalui DNA. Dimana pada bagian-bagian yang mencekam, sang penulis merasa seperti benar-benar hadir dalam situasi yang diceritakan. Merasakan ketegangan, ketakutan bahkan sampai pada gejala fisik yang sama dengan yang dialami tokohnya. Ini menurut saya bukan hal mudah.

Pengakuan Marjolein
Marjolein adalah seorang perempuan muda, Asal Belanda yang turut hadir dalam kesempatan tersebut. Dia bercerita bahwa kakeknya adalah seorang marinir yang ditempatkan di jawa Timur pada masa penjajahan.

Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional

Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional

Kalau saya tak salah menangkap (bahasa Indonesia marjoleine sedikit kurang jelas), dia mengungkapkan penghargaannya khususnya terhadap keluarga Mbak Irma, bahwa setelah apa yang telah dilakukan nenek moyangnya ternyata keluarga Mbak Irma masih menerimanya dengan baik tanpa dendam.

Marjolein mengungkapkan bahwa di Belanda, para pejuang kita yang di sini kita sebut pahlawan, di Belanda masih saja dikenal dengan sebutan extrimist. Dan dia benar-benar heran, bagaimana orang yang bertanggungjawab terhadap serangkaian kekejaman perang yang sungguh brutal, di Belanda sono justru mendapat medali penghargaan. Jangan nggumun Marjo, inilah SUDUT PANDANG, kata saya dalam hati.

Emosi Teraduk-aduk
Tadinya saya pikir, saya sedang cengeng, mengapa sepanjang acara ini saya harus berkali-kali membesut air mata. Padahal saya tidak sedang PMS.

Saya tak mampu menahan airmata berjatuhan, ketika Bintang,seorang anak berprestasi cemerlang yang baru saja memenangi lomba storytelling, membacakan puisi. Puisi yang ditulis Mbak Irma dan terdapat pada bagian akhir novel Sang Patriot.
Air mata saya lagi-lagi tak tertahan ketika ditayangkan Film Dokumenter tentang perjuangan pak Sroedji ini. waduh… padahal saya lupa tak bawa saputangan. Untung ada face paper, lumayanlah buat sekedar membesut air mata.

Ternyata, tidak ada yang salah dengan diri saya. Bahkan Mbak Ety, sang MC acara berkali-kali terlihat termehek-mehek. Sampai-sampai pada akhir acara sempat kehilangan kata-kata. Speechless…
Saya pribadi merasa berada dalam kondisi terkocok-kocok. Antara kengerian mendengar cerita kekejaman kaum penjajah masa itu, rasa pedih seperti ikut merasakan ketakutan dan siksaan para pendahulu masa itu, dan seperti ribuan rasa lain yang berkecamuk.

Sungguh, dibanding mereka, para syuhada … saya bukan apa-apa. Lalu pantaskah kita sekarang ini sedikit-sedikit mengeluh? Pantaskah kita bekerja setengah-setengah? Pantaskah kita…. bahkan sekedar beda pilihan ca(wa)pres saja sudah membuat kita saling hujat.
No… oh, no!

Please wake up. Banyak… amat banyak hal yang harus kita kerjakan, daripada hanya sekedar meributkan sekedar secarik kertas yang nongol dari balik jas salah seorang capres.

Bertemu Teman-teman
Salah satu alasan mengapa saya bela-belain ingin sekali datang ke acara ini, selain tentu karena novel itu sendiri adalah karena kenginan bertemu teman-teman blogger.Sebagai newbie di dua komunitas blogger (Warung Blogger dan Kumpulan Emak Blogger) saya sama sekali belum pernah kopdar dengan teman-teman. lokasi geografislah salah satu alasannya.

20140612_124244

Alhamdulillah, acara ini mempertemukan saya dengan beberapa teman blogger. Mak Priiit dan suaminya Mas RZ Hakim juga Mak Lianny. Di sini juga saya bertemu Mbak Ety, penyiar RRI yang sebenarnya sudah cukup sering on air bersama, namun karena saya via telepon, maka kami belum pernah bertemu muka.

Meski hanya beberapa teman blogger yang bisa saya temui, next time insyaa Allah bisa ketemuan yng lebih seru ya teman-teman …

Mengenang Kembali Hutan, Air Terjun dan Jreng Jring Itu …

Jreng…jring…teknik lingkungan
Melok camp munggah nang Malang
Malang akeh coban e
Songo pitu akeh cewek e
Cewek akeh malah nyenengke
Songo pitu rak pancen oyeeee…

Terjemahan bebas:
Jreng…jring…teknik lingkungan
Ikut camp naik ke Malang
Malang banyak air terjunnya
Sembilan tujuh banyak ceweknya
Banyak cewekmalah menyenangkan
Sembilan tujuh kan memang Oyeee

Lagu itu kami sebut jreng-jring
Bukan Mars, Apalagi hymne.
Ya, jreng-jring aja!

Lagu wajibnya angkatan kami, sembilan tujuh Jurusan Teknik Lingkungan ITS. Lagu yang mengantar perjumpaan pertama dengan sebuah tempat yang disebut Coban Talun. Tempat yang jika saya diminta membayangkan “a place to remember” maka tidak bisa tidak, tempat ini yang muncul di ingatan.

Tempat Yang Lekat Denngan Jreng-Jring Itu- Sumber : www.eastjava.com

Tempat Yang Lekat Denngan Jreng-Jring Itu- Sumber : http://www.eastjava.com


Tempat yang kemudian selalu saya kunjungi bersama-sama kawan-kawan setiap tahunnya, hingga tahun terakhir saya tercatat sebagai mahasiswa. Tiap tahu? Iya. Ini bagai ritual saja.
Kebiasaan penyambutan mahasiswa bar di jurusan kami, inilah yang membawa kami setiap tahun mengunjinginya. Baca lebih lanjut

HP Pertama Yang Tertunda

Penampakan HP Pertama - Sumber : mphone.co.uk

Penampakan HP Pertama – Sumber : mphone.co.uk

Kalau harus menulis tentang HP pertama, wah jadi isin … Pasalnya saya ini termasuk orang yang sangat, sangat telat memiliki HP. Dan saat pertama memilikinya, saya sangat gagap menggunakannya. Huh dasar gaptek kowe! *ngomel sendiri.

Tahun 97-an saat awal kuliah di ITS itu pertama kalinya saya mengenal HP. Catat, mengenal thok lo ya, bukan memiliki. Masa itu di antara teman-teman seangkatan, hanya satu dua orang yang memilikinya. Hanya mahasiswa-mahasiswa dari kalangan berada yang bisa menikmati kemudahan komunikasi dengan HP.
Baca lebih lanjut

PNS, Edukasi Publik dan Indonesia Move On

Berbicara tentang stigma negatif PNS, mungkin sudah menjadi hal biasa. Bahkan ada yang mengatakan PNS itu adalah kependekan dari Pegawai Negeri Santai. Saya sebagai PNS harus menerima dan mengakui hal itu. Sudahlah, legowo saja.

Namun, legowo bukan berarti selalu nrimo mengikuti arus kemana arus membawa. Ada sebuah cita-cita untuk tetap mengabdi dengan memberikan hal terbaik, meski harus disadari seringkali kondisi seringkali tak kondusif.
Baca lebih lanjut

Anak Itu Inginkan Buku

Baca yuuuk Sumber: Shutterstock

Baca yuuuk
Sumber: Shutterstock


Setelah hari Kartini pada 21 April lalu, dilanjutkan dengan Hari Bumi 22 April kemarin, sekarang giliran Hari Buku.

Kecintaan pada buku ditanamkan oleh orangtua saya, khususnya Bapak. Bapak kutu buku, sangat! Ibu juga suka membaca, meski tak se maniak Bapak.

Bapak bacaannya buku-buku agama, pengetahuan dan majalah seperti Intisari. Ibu kegemarannya Majalah wanita dan buku-buku resep. Ha..ha…yang terakhir itu dampaknya bagus banget, karena kalau praktek,kami semua langsung menuai hasilnya.Icip-icip!
Baca lebih lanjut