Pola Hidup Sehat, Cegah Penyakit Jantung Sejak Dini

Beberapa hari lalu, kita dikagetkan dengan berpulangnya Yanni Libels yang menurut beberapa sumber berita terpercaya akibat masalah pada jantung. Beberapa tahun lalu, Adjie Massaid juga berpulang dalam usia relatif muda akibat masalah yang (kurang-lebih) sama.

Dulu, duluuu sekali, persepsi tentang beberapa penyakit degeneratif adalah = penyakit orang tua. Maka diri ini serasa protes ketika Bapak kami tercinta didiagnosa menderita penyakit jantung dan lalu berpulang begitu cepatnya di usia yang bahkan belum genap 50 tahun. Ikhlas memang iya. Harus! Tetapi tak dapat dimungkiri hati bertanyat-tanya, apa yang menyebabkan penyakit jantung begitu kuatnya menggerogoti kesehatan Bapak, pada usia semuda itu.

Belasan tahun kemudian, di awal menjalani profesi yang membuat saya sering berkontak dengan orang-orang yang sedang menderita penyakit, saya juga masih sering terheran-heran, kenapa di usia muda sekali kastemer saya sudah menderita penyakit jantung, diabetes dan keluhan lainnya?

Baca juga:

Sakit, Pola Makan Dan Mental

Menghadapi Breast Cancer Ala Arie Primadewi Soekamto

Keheranan tersebut baru terjawab beberapa bulan kemudian, seiring waktu saya menjalani profesi tersebut dan berkontak dengan makin banyak lagi kastemer usia muda yang sedang menderita penyakit degeneratif. Itu karena biasanya saya menanyakan bagaimana pola hidup (terutama pola makan) kastemer. Mulai dari apa makanan kesukaan atau makanan yang sering mereka konsumsi, bagaimana mereka makan (frekuensi, waktu dan keteraturan) dan saya biasa bertanya jam berapa biasa mereka tidur malam, bagaimana ritme kerja dsb. Haa..ha…hitung-hitung ini riset gampang-gampangan.

Dari situ saya simpulkan. Penyakit yang menghinggapi tubuh-tubuh belia itu seringkali berhubungan dengan:

  • Pola makan minim sayur dan buah
  • Pola makan sarat karbo dan lemak
  • Kebiasaan ngopi-teh dan nenggak softdrink minim air putih
  • Kebiasaan merokok
  • Beban kerja tinggi
  • Sering tidur larut, bahkan dini hari

Nah, kembali ke cerita almarhum bapak. Beliau adalah orang yang sangat disiplin dengan pengobatannya, selalu teratur kontrol dan minum obat, mematuhi pola makan yang dianjurkan, begitu juga saran dokter lainnya, semua dilakukan. Hanya satu yang tak dilakukan karena ketiadaan biaya waktu itu, operasi jantung! Kesimpulan saya sederhana, jauh lebih baik mencegah dari pada mengobati. Mengobati jauh lebih rumit, sakit, dan … mahal. Memang, bukan tak mungkin yang terlanjur sakit itu diobati, tapi bukankan lebih enak mencegah? Lalu bagaimana cara mencegahnya? Ini beberapa hal yang saya kumpulkan dari berbagai sumber:

Pola Makan-saya sempat berbincang dengan seorang dokter senior kebetulan beliau ayah kawan saya. Beliau mengatakan, kebanyakan orang tidak tahu makanan bagaimana yang bisa menyehatannya dan sebaliknya yg membuat sakit. Akhirnya, karena indikator dalam memilih makanan adalah soal rasa, sering kali yang dipilih adalah makanan enak namun tidak sehat.

Ah, saya mau tak mau membenarkan perkataan sang dokter.teringat saya pada pengakuan salah satu kastemer yang baru saja pulih dari serangan jantung ketika saya tanya perihal makanan favorit. ”Wah,saya suka banget sate kambing Bu, kalau udah ada sate ya enggak usah lauk lain, sama nasi aja udah enak”. Wowwww… saya melongo waktu itu. “Mie aceh saya juga suka, kalau sedang begadang, enak banget makan mie aceh”, dienkkkkk…. Saya tepok jidat mendengar pengakuan polosnya. Tak heran di usia 40an dia sudah mengalami serangan jantung dan bahkan berhari-hari koma.

Istirahat – Tubuh kita butuh istirahat. Saah satu alasannya kalau menurut Hromy Shinya yang beken dengan teory enzimnya adalah: pada saat tidur kita bisa menghemat penggunaan enzim, dan saat itu pula dibentuk enzim-enzim baru. Jadi ketika kurang tidur, tubuh akan tekor enzim, lalu sakitlah kita.

Kastemer yang saya ceritakan di atas, mengaku bahwa dia jatuh koma tepat setelah begadang habis-habisan 3 hari berturut-turut.

Olahraga – Olahraga juga berperan penting bagi jantung yang sehat. Tak harus olaraga mahal. Tak harus juga di gym berbayar lumayan. Jogging saja sudah bisa menjadi pelengkap upaya bagi jantung sehat.

Jauhi rokok – Bukan hanya perokok aktif, perokok pasifpun berisiko. Contohnya adalah bapak saya. Perkiraan dokter, bapak yang gaya hidupnya relatif sehat, mendapatkan penyakit jantung akibat sehari-hari berkumpul dengan perokok.

Terapi Pelengkap – Banyak sekali terapi ditawarkan untuk menjaga kesehatan dan membantu tubuh tetap sehat, khususnya jantung. Salah satu info menarik yang saya dapat dari internet adalah terapi ozon. Sebenarnya apa sih terapi ozon ini? Ah saya kok jadi ingat lapisan ozon. He..he…

Terapi ozon, menurut berbagai sumber adalah suatu metode terapi yang dilakukan dengan cara memasukkan gas ozon ke dalam tubuh. Tentunya dengan cara-cara tertentu, ya.Nah, terapi jantung dengan cara memasukkan ozon ke dalam tubuh ini bahkan disebut sebut oleh Louise McClean (seorang homeopatist yg bermukim di london) sebagai salah satu terapi yang mungkin paling ajaib yang saat ini tersedia..

Nah, kembali ke soal pencegahan penyakit jantung. Kalau menurut saya sih, sebaiknya bisa mengoptimalkan beberapa cara yang sudah tersebut di atas. Misalnya hanya sekadar menjaga pola makan tetapi tetap merokok, saya rasa hasilnya akan kurang optimal juga. Kalau saya saat ini ikhtiarnya dengan memperbaiki pola makan, olahraga juga, sedapatnya mengusahakan cukup istrahat dan menjauhi orang yang merokok. Nah, Anda bagaimana?

Baca juga:

Menu Food Combining

Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining

Enema Kopi 

Kapok Cheating

Hai

Ini adalah posting pertama di tahun 2015 ini. Setelah memuaskan diri dengan liburan kurang lebih dua pekan yang kami habiskan dengan berperjalanan yang bisa dibilang ala backpacker. Lelah usai liburan, tapi soal semangat, jangan ditanya. Wuahhh… luar biasa! Rasanya jiwa ini bagai baterai yang baru direcharge. Full! *lebay yo ben

Sebagai seorang food combiner, salah satu hal yang perlu disiapkan sebelum berperjalanan adalah stok makanan, atau at least kami harus merancang bagaimana agar saat travelling kami tetap bisa berpola makan setidaknya tidak terlalu jauh melenceng dari food combining. Itu sudah saya niatkan sejak awal merancang liburan ini. Baca lebih lanjut

Food Combining Bikin Kurus?

“Kalau aku FC nanti makin kurus, badanku kan udah kurus!”
Kalimat di atas termasuk statement yang sering saya dengar. Sama seringnya dengan kalimat bernada tanya:
“Badanku kan udah kurus, kalau aku FC ntar makin kurus?”
Nah, benarkah badan yang sudah kurus tidak perlu atau tidak cocok menerapkan pola makan food combining? (Baca juga: Catatan Tentang Food Combining)

ilustrasi FC

Coba kita telaah pelan-pelan ya kawan. Semoga selesai membaca ini, keraguan tentang FC dapat terjawab. Baca lebih lanjut

Sudah FC atau Hanya “Merasa” Sudah FC

Kemarin ada seorang teman menelepon. Ini adalah teleponnya yang kedua, menanyakan masalah food combining. Dia mengeluh, hampir sebulan FC dan belum menampakkan perubahan signifikan. Gangguan maag parah masih dideritanya. Katanya, kalau kambuh serasa mau pingsan! Waduduhhh, parah ini, pikir saya. Saya sebagai salah satu alumnus penderita maag (keren amat istilahnya), tahulah bagaimana rasanya tersiksa ulah si asam lambung.

Mendengar keluhannya saya teringat obrolan-obrolan di grup Food Combining Indonesia. Tentang orang yang “merasa” atau “mengaku” ber-FC, padahal pola makannya belum memenuhi prinsip-prinsip FC. (Baca Juga : Aku Cuma Makan Dikiiiit)

Maka saya menanyakan dengan rinci bagaimana dia makan mulai dari bangun tidur hingga berangkat tidur di malam harinya.

Bangun tidur, jeniper Ok Cara bikinnya? Takarannya? Cara minumnya?

Makan siang?

Nasi gak campur protein hewani kan ya?

Ngunyahnya bagaimana?

Terus, semua saya tanyakan dg rinci. Dan tidak ada masalah, semua OK kecuali dua hal: cara minum jenipernya tidak dikulum, langsung diglek-gleg aja. Mengunyah makanan juga masih sekenanya. Woooo pantas, pikir saya sambil saya sarankan cara yang lebih baik.

Tapi dalam hati saya masih bertanya, apa benar hanya karena dua hal itu saja dia mengaku sama sekali belum mendapat manfaat FC? Jangan-jangan ada lainnya yg masih salah? (Baca Juga : FC Bikin AKu Lemes)

Sampai kemudian dia bertanya, “mbak kalau habis makan nasi trus makan buah bolehkah?”  Dan dia mengaku masih melakukan kebiasaan lama ini. Makan buah sesudah makan utama. Dijeda sih, katanya. Jeda sejam.

Lah, jeda sejam, apa yakin makanan yang sebelumnya sudah melewati lambung? Apalagi kalau makannya protein hewani, daging-dagingan yang memerlukan waktu cerna hingga 4 jam bahkan lebih.

Wohhh… ya pantas kata saya. Lalu, saya menjelaskan padanya, bahwa dalam FC, buah ya harus dikonsumsi eksklusif. Makan buah hanya dalam keadaan perut kosong. Eksklusif artinya Thok! Kagak dicampur-campur. Memang sih, sesekali FC-er menambahkan bebijian semisal chia seeds, sebagai variasi dan tambahan nutrisi, namun jumlahnya sangat keciiiilll. Jadi bisa diabaikan.

Pelajarannya adalah, kuasai dahulu juklaknya dengan benar, baru terapkan dengan konsisten. Kalau belum menguasai dan sudah merasa ng-FC, jangan-jangan ya seperti ini, TIDAK ada manfaat signifikan. Bukan salah FC nya tentu…

Juklak FC Saya tuliskan di sini: Catatan Tentang Food Combining

Informasi Food Combining dengan bahasa populer bisa dibaca dibuku saya ” Food Combining, Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah “. Jumlah halaman 176. Penerbit Kawan Pustaka.

buku food combining Widyanti Yuliandari

Kesalahan Ber-Food Combining : ” Aku Cuma Makan Dikiiiiit”

Menurut saya, salah satu “enak” nya menerapkan pola makan food combining itu adalah, enggak perlu pusing mikirin berapa porsi makan. Tidak seperti beberapa diet populer lainnya yang misalnya harus menakar makan nasi sekian gram, lauk sekian gram, bla…bla..bla…

 

FC, makan boleh sampai kenyang, yang penting paduannya. Protein hewani gak boleh ketemu  karbo

FC, makan boleh sampai kenyang, yang penting paduannya. Protein hewani gak boleh ketemu karbo

Namun herannya, masih saja (sering) saya jumpai teman yang baru ber-FC dan memposting menu makannya terdiri dari nasi (putih maupun merah), sayur dan lauk nabati, disertai penjelasan: “Aku makannya nasinya dikiiiiit… banget!”

Hei, perasaan FC tak pernah mengharuskan makan hanya seiprit deh ya! Makan harus sampai kenyang. Kenyang yang nyaman bukan kekenyangan. Dan bukan pula kelaparan. Kalau makannya terlalu sedikit, itu menyiksa diri namanya. Lagipula, tubuh yang kelaparan biasanya cenderung mudah kalap. Saat bertemu makanan yang kurang ideal bahkan berbahaya bagi kesehatan, malah akan lebih susah mengendalikan diri, dalam kondisi perut keroncongan.

Seyogianya makan dengan proporsional saja. Jangan terlalu takut dengan karbohidrat lah. Yang perlu diperhatikan hanya, pilihlah karbohidrat yang masih mengandung substansi-substansi baik bagi tubuh. Perhatikan pula padu padannya. Karbohidrat JANGAN dipadukan dengan protein hewani. No…Nooo… Big NO.

Jadi, Nasi atau lontong plus satai ayam, Nasi plus rendang, Nasi rawon daging, burger, itu adalah contoh-contoh padu padan yang SALAH. Jadi kalau mau makan nasi ya PLUS sayur dan lauk nabati macam tempe-tahu, kacang-kacangan, jamur, dll.

Hanya sebagai panduan, karena Food Combining juga mempertimbangkan keseimbangan asam basa, maka sebaiknya proporsi makan diatur sehingga setidaknya sayur mendapat porsi terbanyak. Minimal begini : kalau Nasi 1/4 piring, Sayur 1/2 piring plus sedikit lauk.

Kalau masih lapar? ya tambah dong! Teteeup porsi sayurnya yang banyak. Udah, gitu aja sih. FC itu manusiawi kok. Enggak bikin kita kelaparan dan menderita.Nah, aturan lebih lengkapnya tentang FC bisa di baca di sini:

 

 

Kesalahan Ber-Food Combining : “FC Kok Bikin Aku Lemes?”

Hai Teman,

Ada di antara Anda yang ingin ber-food combining? Nah, sebelum Anda merealisasikan rencana bagus tersebut, baiknya baca dan pahami dulu seluruh juklak FC, ya. Agar tak kejadian seperti cerita berikut ini:

Kalau Buat Saya, Ini SUdah Cukup Mengenyangkan

Kalau Buat Saya, Ini Sudah Cukup Mengenyangkan

Weekend kemarin, ada seseorang menelefon. Seorang teman yang menurut ceritanya baru saja mencoba pola makan food combining. Dia mengeluhkan. “Kok saya jadi lemes banget, ya Mbak?” Katanya. Wah...sik…sik…, harus ditelusuri nih, pikir saya. Jangan-jangan nanti Food Combining  yang menjadi kambing hitam.

Harus Berulang

Karena ini sudah menjadi sebuah masalah klasik yang sering berulang, maka saya bisa menebak dimana letak kesalahannya. Lalu saya coba tanyakan bagaimana cara makannya secara detil. Sarapan dengan jus melon, katanya, lalu tak makan apa-apa lagi, dan pukul sembilanan pagi sudah merasa lemas.

Nah, benar, itu dia! Seperti dugaan saya, ternyata memang benar, sarapan buahnya tidak dilakukan secara repetitif atau berulang. Yang sangat perlu dipahami oleh pemula food combining, buah demikian mudah cerna. Artinya? Cepat dicerna, cepat diserap, cepat kosong pula lambung daaaan…. cepat pulalah kita merasa lapar.

Lebih lengkap dan jelas, bisa dibaca di tulisan ini:

Menu Food Combining

Seberapa Banyak ?

Berapa banyak saya harus makan buah? Atau, berapa kali saya harus makan buah sebagai sarapan? Ini pertanyaan yang sangat sering ditanyakan pada saya oleh sahabat-sahabat yang ingin ber-FC ataupun baru saja memulai FC.

Menurut saya, disinilah salah satu asyiknya FC. Tak harus ada porsi atau frekuensi yang terlalu diatur saklek. Yang penting menurut saya, makan dengan porsi wajar, dengan dikunyah secara baik. Lalu berhenti makan ketika perut terasa kenyang.Kenyang yang nyaman, bukan kekenyangan.

Sebagai contoh saja, foto di bagian atas tulisan ini adalah bekal sarapan buah saya ke kantor. dua buah pisang ukuran sedang dan sekotak pepaya potong. Ini biasanya saya makan dua kali. Sebelum ke kantor, di rumah saya sudah sarapan sekitar sepiring buah segar. Nah, porsi segitu cukup buat bertahan hingga pukul sebelas siang.

Pastikan juga minum air sebelum makan. Banyak yang menyarankan bahwa minum 2 atau 2,5 liter sehari sudah cukup. Tetapi banyak teman meminum hingga 3 liter air sehari. Mengapa saya sarankan cukup minum? Sebab terkadang beda antara lapar dan haus itu tipis.Kita merasa lapar, ternyata rasa lapar hilang ketika kita berikan tubuh kita minum. Berarti saat itu tubuh kita sebenarnya haus, bukan lapar.

Baca juga:

Cara Sehat Dan Langsing Dengan Food Combining

Jangan Makan Itu-itu Saja

Lalu, ada juga teman yang kesukaannya terhadap buah masih terbatas, terlalu banyak milih. Buah ini enggak suka, buah itu agak kurang demen, buah anu malah anti. Aduhh…. kalau sudah begini repot juga ya. Bagaimanapun bagus dan baik suatu jenis buah (atau makanan lain), tetapi kalu ituuuu…. itu saja yang dimakan ya, kasihan tubuhnya tak mendapat berbagai nutrien yang dibutuhkannya.

Saran saya hanya satu, belajarlah mencintai berbagai jenis buah (juga sayur). Percaya deh, selera itu bisa dibentuk. Asal pemahamannya sudah benar, niatnya buat sehat, pasti sedikit demi sedikit bisa menyukai berbagai jenis makanan yang tadinya tak disenangi.

Itu tadi sedikit info tentang aturan sarapan buah secara benar ya teman. jangan sampai salah penerapannya. Kuasai dulu seluruh juklak, baru lakukan perlahan dengan nyaman. yuk ah… yang mau ng-FC, slamat ber FC. SMoga makin sehat segar dan jauh dari penyakit ya 😀

Yang ingin nge-FC, sebaiknya baca artikel ini dulu semuanya ya. Kunyah pelan-pelan, kalau ada yang perlu didiskusikan, monggo…. di komen disini atau di sosmed saya juga bisa,lo!

Artikel FC:

Pro Kontra Food Combining

Sarapan Buah,Kenyangkah?

Cara Memasak Paria (Pare), Si Pahit Lezat Kaya Manfaat

Paria alias pare, adalah salah satu favorit kami berdua, saya dan suami. Dimasak minimalis saja, oseng bersama bawang putih, bawang merah cabai, ditambah sedikit teri sebagai penyedap rasa alami. Hmmm… endesss…. Enak pedess. Kalau sudah makan dengan sayur ini, jadi tak terasa sudah menyentong nasi berkali-kali. Ha…ha…. Enaknya bikin ketagihan!

Pare atau Paria, Pahit Namun Lezat Berkhasiat

Pare atau Paria, Pahit Namun Lezat Berkhasiat

Baca lebih lanjut

Serasi Dengan Alam: Menuju Enam Puluh Plus Dengan Sehat dan Bahagia

Di tangan siapakah umur jika bukan pada Sang Pemilik Hidup? Ini bukan hanya soal panjang pendeknya usia. Meski, jujur, siapa sih yang tak ingin berumur panjang. Bahkan ada ungkapan, “aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Sebagai manusia biasa, saya tentu juga ingin berumur panjang. Lebih dari enampuluh lah. Bahkan mencapai delapan puluh bahkan seratus. Itu tentu jika Tuhan mengijinkan, dan itu bukan wilayah saya.

Yang bisa saya lakukan adalah mengikhtiarkan, bagaimana mencapai usia itu, lagi-lagi jika Tuhan ijinkan, dalam kondisi sebaik mungkin. Kondisi terbaik yang biasa saya usahakan baik dalam hal fisik, mental spiritual, maupun materi.

Yuk, simak apa saja yang sudah dan ingin saya lakukan untuk mempersiapkannya.

1. Fisik

Banyak cara saya lakukan untuk memelihara kesehatan jasmani. Semua tak lepas dari keyakinan, bahwa jasad ini hanyalah pinjaman. Maka saya harus dapat mempertanggungjawabkannya kepada Sang Pemberi Pinjaman.

Jika Anda meminjam sebuah piring, maka Anda pasti tak ingin mengembalikan piring tersebut pada pemiliknya dalam kondisi gupil (cuil), retak, apalagi pecah, bukan? Nah seperti itu analoginya, mengapa saya mengencangkan ikhtiar untuk menjaga jasad ini. Seperti apa caranya? Ndak neko-neko, sederhana saja. Semua saya lakukan juga sejalan dengan keyakinan saya untuk senantiasa serasi dengan alam. Nah, ini cara saya.

Pola makan sehat – untuk pola makan, sudah hampir 3 tahun ini saya menerapkan food combining. Nah, pola makan ini dikenal sebagai pola makan yang sangat alami. Bukan hanya makan sesuatu yang alami, namun juga mengatur apa yang kita makan, kapan dan bagaimana kita makan sesuai dengan irama alami tubuh dan kebutuhan tubuh. Sederhananya, pola ini hanya memberikan tubuh apa yang dibutuhkan, bukan apa yang lidah kita inginkan.

Sarapan sehari-hari : Murah, meriah, sehat dan tak neko-neko

Sarapan sehari-hari : Murah, meriah, alami, sehat dan tak neko-neko

Berikut ini cara-cara saya mengatur makan yang saya lakukan:

  • Memperbanyak makanan hidup, artinya makanan dalam bentuk sedekat mungkin dengan aslinya. Misalnya, kalau buah ya dikonsumsi segar. Sayur sekedar dimasak sebentar atau dalam bentuk mentah sebagai lalapan mentah.
  • Membatasi protein hewani baik itu daging-dagingan, susu, keju dan produk hewani lainnya.
  • Membatasi makanan mengandung aditif, misal jajanan berpewarna dan perasa buatan.

Bekam– Ini sebenarnya berkaitan dengan ajaran Rasulullah yang saya yakini cukup ilmiah. Terapi bekam atau cupping ini awalnya dikenalkan oleh suami, dan tadinya saya cukup ngeri untuk mencobanya. Tapi niat kuat untuk sehat membuat saya akhirnya bernyali untuk mencoba.

Kami biasanya melakukan bekam secara bergantian. Saya membekam suami, dan beliau gantian membekam saya. Untuk sebagian orang, cara ini sekilas menakutkan. Namun ini adalah cara yang patut dicoba.

Yoga– untuk yang satu ini, sebenarnya saya malu-malu harus mengakui, bahwa saya masih sering malas melakukannya. Tetapi harus saya akui, bahwa yoga telah banyak membantu saya bukan hanya dalam mengatasi rasa pegal dan tak nyaman akibat bekerja terlalu keras,misalnya. Yoga juga mampu membantu saya kembali pada keseimbangan.

Saya berhaarap, ke depan, bisa ber yoga dengan lebih konsisten. Tidak angin-anginan seperti sekarang ini.

Berbagai Terapi Jadul – Saya ini mungkin termasuk manusia modern yang hobi terapi jadul. Minum wedang jahe atau wedang serai saat masuk angin, wedang serai jeruk nipis saat flu, atau kerokan saat pegal dan masuk angin. Biar saja dikata-katain tidak ilmiah. Yang penting raga ini sehat sentausa dengan sederhana saja.

Saya termasuk yang tidak terlalu tahan dengan obat-obatan bikinan pabrik yang mudah ditemui di pasaran. Misalnya, antinyeri, obat pusing, dsb. Ya, mungkin karena sudah terbiasa dengan ramuan-ramuan jadul tersebut. Bukan anti-obat, lho ya. Saya hanya memanfaatkannya dengan lebih bijak. Misal antinyeri tetap saya gunakan saat sakit gigi. Mungkin karena jarang meminumnya, saya biasa pakai dosis setengahnya saja dan langsung ces pleng!

Dengan ikhtiar ini, saya meyakini, ginjal dan liver saya tak perlu bekerja ekstra keras. Harapannya, mereka sehat sentausa hingga saya menua nanti. Namanya juga usaha, ya? Saya juga yakin, alam ini sudah sangat lengkap menyediakan apa yang kita butuhkan, termasuk obat-obatan. Tuhan sungguh Maha baik menyediakannya.

2.  Mental Spiritual

Aspek ini yang tak boleh di anggap remeh. Meski raga masih bugar, namun kemudian menjadi orang tua yang aneh dan merepotkan, sungguh bukan sebuah cita-cita. Saya ingin menua dengan bahagia. Penuh kegembiraan dan bahkan menjadi penyebar aura positif bagi orang-orang sekitar saya.

Seperti Pakde, Shohibul kontes ini misalnya. Beliau  yang tak henti menebar kebaikan dan senantiasa tak bosan-bosan “melempar” kompor panas bagi kebaikan yang siap menyulut semangat orang-orang muda di sekitar.

Untuk menua dengan bahagia, tak neko-neko pula ikhtiar yang saya lakukan. Banyak cara bertebaran, tinggal kita saja mau memanfaatkannya.

Penyembuh Jiwa Raga – Kita beruntung sekali, memiliki warisan sebuah penyembuh jiwa (juga raga) yang sangat klasik namun tak lekang oleh waktu. Syair Tombo Ati, adalah sebuah penyembuh yang sangat membumi. Tak neko-neko malah menghasilkan pahala bagi yang mengamalkannya.

Tombo ati
Ono limo perkarane
Moco qur’an angen-angen sak maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholih kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwi

….

Petuah dalam syair di atas sekilas sederhana. Namun mengapa masih agak sulit untuk konsisten menjalankan kelimanya. Tapi, insyaa Allah, tekad itu ada. Semoga tak lama lagi saya sudah bisa menjalankan semuanya dengan konsisten. Sebagai “sangu” untuk masa tua yang berbahagia dan tetap dalam keseimbangan.

Menekuni Hobi – Bagi saya, hobi adalah salah satu alat pemelihara keseimbangan. Hobi adalah obat lelah dan penat setelah dua belas jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu bekerja. Maka menekuni hobi is a must!

Menyanyi di sela waktu break kantor

Menyanyi di sela waktu break kantor

Menulis dan blogging adalah salah satu hobi, hobi saya lainnya adalah membaca, menyanyi, mendengar musik dan jalan-jalan. Semua hobi mesti mendapat jatah waktu, tak peduli betapa sibuknya saya.

Bersyukur Setiap Saat – Buat saya pribadi, bersyukur membuat hati adem. Bersyukur juga mendatangkan energi luar biasa sebagai amunisi menjalani hidup yang keras ini.

Tak perlu menunggu momen yang terlihat wahhh untuk bersyukur. Rugi kalau begitu, dan sengsara amat harus menunggu-nunggu momen yang belum tentu datang.

Bersyukur itu sederhana saja
Bersyukur itu adalah saat membaui aroma asem-asem seger anak-anak kala bangun tidur
Bersyukur itu adalah saat menikmati nasi lalapan berteman tempe goreng hangat
Bersyukur itu adalah, saat melihat anak bebek berjalan geal-geol mengikuti induknya
Bersyukur itu adalah saat menang kuis dengan hadiah pulsa sepuluh ribu
Bersyukur itu adalah saat bangun pagi dengan jiwa raga yang sehat
Bersyukur itu….
 Ya, sesederhana itulah bersyukur.

Mengeratkan Silaturahmi – Silaturahmi memperpanjang umur. Ada pula yang menyebutkan bahwa silaturrahmi memperbanyak rejeki.      Saya meyakini keduanya benar. Meski usia kita sudah tercatat di lauful mahfudz. Namun, dengan bersilaturrahmi saya yakin, usia kita yang sudah dijatah tersebut akan jauh lebih berkualitas dan bermakna.

Terkadang, sebagai ibu bekerja, belum ditambah mengurus rumah dan keluarga, masih pula ditambah pekerjaan lain sebagai penulis, blogger dan independent product consultant di sebuah perusahaan asal USA, rasanya saya berkejaran dengan waktu. Kapan pula waktu untuk bersilaturrahmi?

Memang, jika tidak diusahakan, maka tak akan pula kita dapat melaksanakannya. Maka saya selalu berusaha menyempatkan hadir dalam acara-acara silaturrahmi baik di lingkungan tempat tinggal, komunitas, dll. Sebulan sekali, sebagai emak-emak sudah pasti buat saja wajib hukumnya menghadiri pertemuan PKK RT. Yahh… emak-emak banget ya? Biarin deh, yang penting gaul.

Sesekali juga saya sempatkan hadir di acara alumni sekolah atau kampus, komunitas blogger, dll. Semua acara yang saya hadiri, selalu menjadi semacam recharge energi buat saya. Ada kegairahan dan semangat baru seusai bertemu teman-teman.

Silaturrahmi dengan temna-teman se-angkatan

Silaturrahmi dengan teman-teman se-angkatan

Terkadang, upaya menjaga silaturrahim saya upayakan di sela-sela jadwal perjalanan dinas. Jika rapat atau acara lain ke luar kota, misalnya, saya upayakan mengontak teman yang ada di kota tersebut. Jika memang rejeki, meski hanya sepuluh menit, bertemu teman lama, sungguh kebahagiaan yang luar biasa. Atau terkadang menyempatkan bersilaturrahmi dengan teman-teman di sela waktu istirahat kantor.

Berbagi – Saya sangat yakin, berbagi bukannya mengurangi energi, justru makin menambahkannya. Berbagi harta, saya yakin dan sudah membuktikannya, akan mengundang lebih banyak lagi rejeki. Berbagi ilmu pun membuat ilmu yang hanya sedikit ini menjadi makin mumpuni.

Berbagi membuat kita menjadi manusia kaya arti (meminjam istilah Pakde). Blog inipun adalah salah satu upaya saya untuk berbagi. Kebahagiaan terbesar saat mengetahu bahwa apa yang kita berikan ternyata sungguh bermanfaat bagi orang lain.

Berbagi, mengukuhkan posisi kita sebagai sebaik-baik ciptaan-Nya, berbagi juga mempertegas posisi sebagai Rahmatan lil aalamin. Dan itu sungguh membahagiakan, dan … keren!

3.  Materi

Last but not least, soal materi. Bukannya mau matre, enggak asyik kok kalau nanti menjadi nenek-nenek matre. Namun sungguh tak asyik juga menjadi orang tua yang merepotkan anak-anak soal finansial.

Untuk urusan persiapan materi, tetap saya upayakan. Meski saya seorang  PNS yang alhamdulillah sudah dijamin dana pensiun, namun alangkah indahnya pensiun dengan bahagia dan kaya raya. *ngarep.com

Untuk itulah, saya turut membantu bisnis suami di bidang obat-obatan herbal, tentu di luar waktu kerja saya sebagai PNS. Nge-blog ini juga bagian dari upaya mempersiapkan finansial yang baik jika pensiun kelak. Ke depan saya ingin menjadi blogger yang profesional. Meski, memang jalan ke sana tak bisa di bilang mudah, terutama kendala waktu.

Nah, teman-teman itu tadi upaya saya untuk menuju usia enam puluh plus plus dengan tetap sehat dan bahagia.