Ngopdar Berdua Makmin KEB Di House of Raminten

Sebagai blogger ndeso yang tinggal jauh dari pusat kota. **halah opo tho yo? Saya jarang sekali bisa berkesempatan kopdar dengan sesama blogger. Kesempatan ngopdar beberapa bulan lalu baru bersama beberapa blogger jember saat peluncuran Novelnya Mbak Irma Devita, praktisi hukum yang juga blogger dan penulis.

Baca lebih lanjut

Cara Memasak Paria (Pare), Si Pahit Lezat Kaya Manfaat

Paria alias pare, adalah salah satu favorit kami berdua, saya dan suami. Dimasak minimalis saja, oseng bersama bawang putih, bawang merah cabai, ditambah sedikit teri sebagai penyedap rasa alami. Hmmm… endesss…. Enak pedess. Kalau sudah makan dengan sayur ini, jadi tak terasa sudah menyentong nasi berkali-kali. Ha…ha…. Enaknya bikin ketagihan!

Pare atau Paria, Pahit Namun Lezat Berkhasiat

Pare atau Paria, Pahit Namun Lezat Berkhasiat

Baca lebih lanjut

Mbak Inez; Concern Pada Kuliner Sehat

Saya mengenal sosok cantik yang selalu terlihat bugar ini baru beberapa bulan lalu. Di awal-awal saya join dengan group Food Combining Indonesia. Saya sering terpesona dengan foto-foto beliau yang selalu terlihat endesss tur seger juga sehat pastinya.

Kudapan sederhana, di tangan Mbak Inez menjadi sangat menggoda ....

Kudapan sederhana, di tangan Mbak Inez menjadi sangat menggoda ….


Baca lebih lanjut

Yuk Bawa Bekal …

Ini Amunisi Ngantor

Ini Amunisi Ngantor

Sudah beberapa waktu enggak menulis tentang lingkungan. Padahal di folder konsep sudah menumpuk tulisan yang tinggal dipoles saja. Tapi, kali ini saya ingin menulis sesuatu yang mengusik pikiran yang saya temui pas jalan-jalan di Alun-alun kota, minggu kemarin.

Hari belum terlalu siang, ketika kami sampai di alun-alun kota. Setelah menyewa sebuah skuter untuk Rania, saya dudu di tepi. Sambil membongkar bekal. Biasalah, cemal-cemil, sembari melihat gadis kecil saya berkeliling dengan skuter sewaan.

Saya melihat kanan dan kiri tempat saya duduk. Uh… sampah berserakan. Bekas pembungkus snack, air mineral dan sampah lainnya berserakan. Saya melirik bekal kami. Untunglah kami terbiasa membawanya.

Kebiasaan membawa bekal ini sudah berlangsung lama. Kecuali memang diniati berwisata kuliner, kami selalu membawa bekal dari rumah. Bahkan meski hanya pergi tak jauh dari rumah, minimal kami membawa bekal berupa air minum dalam botol.

Banyak lo, keuntungan membawa bekal makanan sendiri. Pertama, sudah pasti lebih irit. Iya, kan? Segelas air mineral saja, minimal harganya lima ratus perak. Sedangkan kalau membawa dari rumah, gratis saja. Saya tinggal isi botol dengan air dari filter penyaring air di dapur. Beres!

Selain, irit, bawa bekal sendiri juga sehat dan aman. Sering kita mendengar adanya zat-zat berbahaya yang dicampurkan ke dalam aneka jajanan, kan? Nah, hal ini tak perlu kita khawatirkan jika membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah.

Membawa bekal juga ramah lingkungan. Kita tidak perlu menghasilkan sampah tambahan dari aktifitas makan atau mengudap kita kan?

Ribet? Enggak juga. Akali saja, jenis yang akan dijadikan bekal. Buah-buahan potong adalah jenis makanan untuk bekal yang sangat praktis penyiapannya. Atau makanan serba kukus seperti pisang kukus, ketela kukus, dsb juga pilihan yang cerdas.

Ndeso? He…he…iya kali? Saya kan emang sudah memproklamirkan diri sebagai Blogger ndeso sejak beberapa waktu lalu. Because “ndeso” is cool…. *halah!

Sarapan? Harus! Ribet? No Way!

Sejak kecil, orang tua membiasakan kami untuk sarapan. Selalu ada menu sederhana tersaji dimeja makan sebagai sarapan kami. Biasanya sih, nasi goreng-telur ceplok. Terkadang hanya nasi hangat dan tempe tahu goreng.

Saat ibu belum sempat untuk memasak, biasanya kami sarapan nasi pecel yang dibeli dari bakul pecel dekat rumah. Kebetulan kami punya seorang tetangga yang berjualan pecel di pasar, tak jauh dari rumah.

Kebiasaan sarapan membuat saya selalu “on” saat pelajaran di sekolah. Tidak pernah merasa lemas atau kurang konsentrasi. Terkadang saya heran, terhadap teman yang sering pingsan saat upacara gegara belum sarapan di rumah.
Baca lebih lanjut

Sarapan Praktis dan Sehat Ala Food Combining

Sebagian orang memulai aktifitas paginya dengan “bahan bakar” sarapan. Sebagian lagi merasa cukup hanya dengan minum secangkir kopi atau teh . Sebagian lagi beralasan, “kalau sarapan saya mudah mengantuk”. Sebenarnya pentingkah sarapan pagi itu?

Ibaratkan mesin, tubuh kita perlu bahan bakar untuk beraktifitas. Sarapanlah sumber bahan bakar tersebut, yang memberi tubuh energi dari pagi hingga siang hari, saat tiba waktu makan siang. Tubuh yang tercukupi energinya dapat beraktifitas dengan nyaman, dan penuh konsentrasi. Di lain sisi, sarapan pagi juga membuat perut kenyang, sehingga saat waktu makan berikutnya tak terpacu untuk makan dengan “kalap”. Baca lebih lanjut

Obrolan Tentang Ketimun

Banyak sekali mitos tentang makanan. Sedihnya, diantara sekian banyak mitos, sangat umum dijumpai buah dan sayur menjadi “tertuduh”. Ini contohnya.

cucumber

—————————–

Obrolan Tentang Ketimun

Timun itu buah apa sayur, hayooo?
Bentuknya buah sih, tapi kandungan didalamnya membuat dia dikatagorikan dalam kelompok sayur.

Timun itu bagus buat detoks, lo!
Ah, isinya banyakan air, enggak ada nutrisi!
Lo, emang tubuh situ apa bukan isi air?
Hi…hi…iya sih. Enam puluhan persenlah.

Aku suka makan timun.
Ihhh…apa enggak pektay?
Idih…apdet dong, wajah ajah yang di apdet. Pengetahuan juga dooong! Catat nih ya, justru kalau tubuh kurang sayur (juga buah), pH tubuh akan asam. Nah, dalam kondisi asam ini, mucullah si pektay. Bukan cuma itu, kuman penyakit lainnya juga demen lo, tinggal dalam tubuh asam. Sel kanker juga. Hiii ngeri enggak sih?

Paham deh, tapi apa tensi enggak drop kalau makan timun.
Ahhh…makanya dong, makan sayur dan buah itu yang bener!
Yang bener? Gimana maksudnya?
udah tau belom, kapan harus makan buah/sayur?
Emang kudu tau?
Ahhh, Kalau seberapa jumlah sayur dan buah yang harus dimakan dalam sehari, ngarti kagak?
Ehmmm… suka-sukalah!
Arrrrgggg………