Melongok Keistimewaan Ultrabook Terbaik ASUS ZenBook UX330

ASUS ZenBook UX330 adalah produk terbaru Asus yang diperuntukkan bagi pekerja mobile. Bukan hanya memiliki performa yang tinggi, ZenBook Asus ini dirancang untuk menjadi solusi bagi penggunanya. Selain itu, penampilan elegan ultrabook terbaik ini mampu mendongkrak citra dan penampilan penggunanya. ASUS ZenBook UX330 memiliki dimensi 13,3 inci, berat 1, 2 kg dan resolusi Full HD (1920 x 1080).

ultrabook Asus Zenbook UX330

ultrabook Asus Zenbook UX330

Baca lebih lanjut

Iklan

Shanti Dewi Dan Lomba-Lomba Blog Itu….

 

SAnti Dewi

Gambar diambil dari Facebook Susanti Dewi

Enggak terasa ini sudah putaran ke 9 dari Arisan Link Blogger Perempuan, dan… baru kali ini saya terlambat menuliskan review pemenang. Tak seperti putaran-putaran sebelumnya, untuk putaran 9 ini rasanya saya seperti kehabisan waktu dan energi. Ada beberapa project, sangat dadakan, namun menantang sehingga harus saya kerjakan.

santi dewi 1.png

Berselancar ke blog Santi Dewi, demikian dia biasa dipanggil, kita akan menemukan tulisan yang beranekaragam. Mulai dari postingan untuk lomba, Buah Hati, Serba-Serbi, Kesehatan, Parenting, Pendidikan, dan berbagai katagori lainnya. Namun, bagi saya, yang paling mencuri perhatian adalah ketika sampai pada bagian label/katagori. Kenapa? Melihat label teratas yaitu LOMBA BLOG. Wuihhhh…. banyak banget lomba blog yang diikutinya. Terakhir saya lihat di blog Mbak Santi Dewi, ada 144 postingan Lomba Blog. Jumlah yang banyak menurut saya, melihat usia blog ini juga belum terlalu lama. Maka kepo, sayapun langsung WA beliau.

Mau tahu obrolan kami berdua? Yukkk…

Me                         : Mba, dirimu kayaknya sering ikut lomba blog, ya? (otakkepo)

Santi Dewi           : Sering, tapi jarang menang. Hi..hi…

Me                         : Tapi pernah menang Kan? Menang lomba apa aja Mba?

Santi Dewi           : pernah juara 1 lomba blog Jamu dari Biofarmaka IPB tahun 2015, Tahun 2014 juga

                                  menang lomba yang sana, namun hanya juara favorit

Ternyata kami ikut dan memenangi lomba yang sama. Hanya di 2015 saya cuma mendapat juara harapan saja. Ini tulisan kami:

Santi Dewi : Melestarikan Jamu Indonesia Lewat Toga

Saya : Agar Jamu Indonesia Tetap Lestari

Me                         : Kenapa tetap semangat nge-lomba Mbak?

Santi Dewi           : Karena dengan mengikuti lomba-lomba melatih saya untuk terus menulis dengan

   baik dan tulisan tajam.

Me                         : Lomba apa yang paling berkesan, Mbak?

Santi Dewi           : Lomba Blog Jamu, Biofarmaka IPB itu. Karena menang, ha..ha…

Me                         : Biasanya Mbak mengikuti lomba pas mepet deadline, atau lebih suka di awal-awal?

Santi Dewi           : Tergantung idenya Mbak, tapi seringnya sih mepet DL

Me                         : Gimana rasanya ikut lomba mepet DL, Mbak?

Santi Dewi           : Deg-degan banget kalau pasa mepet DL. Begitu publish dan terdaftar, rasanya

  plong banget.

Me                         : Selain yang Biofarmaka, pernah menang lomba apalagi Mbak?

Santi Dewi           : Kalau yang Lomba blog, itu aja Mbak. Tapi kalau Giveaway sih lumayan sering.

Keren ya semangatnya. Saya aja kalau pas jarang menang, jadinya males mau ngikut lomba blog lagi. Ha..ha…

Oya, blognya Mbak Santi Dewi Bisa dikunjungi di sini: www.santidewi.com

 

Menikmati Matahari Terbenam Di Papuma, Pantai Eksotik Di Selatan Jember

Jpeg

Jpeg

Memang sudah lama Papuma menjadi salah satu destinasi yang tercatat dalam list kami. Cerita tentang pantai ini sudah banyak ditulis para traveller, lagi pula letaknya dari Bondowoso kota tempat kami tinggal juga terhitung tidak jauh.

Maka kami putuskan,liburan Idul Adha akan kami manfaatkan untuk ke sana. Kebetulan anak-anak libur sejak hari rabu, sehari sebelum Idul Adha. Namun, karena Jumat saya masih harus ngantor, maka kami putuskan berangkat hari sabtunya.

Sabtu siang kami berangkat, sekitar pukul 11. Terlambat dari rencana semula berangkat jam 9, sebab Pak Bojo harus membereskan dulu klakson Si Ijo yang ngadat. Perjalanan dari Bondowoso ke Kota Jember hanya sekitar satu jam. Namun di Jember kami ada beberapa agenda, sehingga kami baru sampai di Ambulu sekitar hampir pukul dua siang.

Ambulu adalah kota kecamatan di selatan Jember, masih masuk dalam wilayah Kabupaten Jember. Kota ini adalah kota terdekat dengan Pantai Papuma. Jadi kami memutuskan bermalam di sini, karena hari minggunya kami berencana mengunjungi seorang sahabat di kota Jember dan lanjut main ke Tiara Jember Park, sebuah tempat wisata air di Jember juga.

(Baca juga pengalaman kami menginap di Ambulu Hotel : Ambulu Hotel Akomodasi Ramah Kantong Di Dekat Jember)

Setelah Check in di Ambulu Hotel, kami beristirahat sejenak. Mandi dan sholat dhuhur lalu leyeh-leyeh sebentar. Bakda ashar baru kami berangkat ke Papuma. Jarak dari hotel ke pantai Papuma, sebenarnya tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dalam 30 menit sampai 1 jam. Namun karena jalan sekitar 5 km sebelum mencapai pantai, sebagian rusak, maka kami berjalan lambat.

Jalur menuju Papuma, jika kita datang dari arah jember, lurus saja. Nanti akan ada pertigaan sekitar 5 km menjelang masuk Papuma. Nah, di pertigaan itulah, kita ambil kanan jika akan menuju Papuma, atau lurus saja jika kita akan ke Pantai Watu Ulo.

Pantai Papuma

Pantai Papuma Terlihat Dari Kejauhan

Sampai di Pantai, matahari sudah kekuningan di barat sana. Namun, hari masih sangat terang. Kami memutuskan berhenti sejenak di bebatuan besar persis sebelum tanjakan menuju pantai. Dari tempat ini kami dapat melihat pantai dari kejauhan.

Oh ya, Tempat ini saat ini dalam pengelolaan Perum perhutani. Persis sebelum tanjakan kita akan menemukan loket petugas, di sini kita beli tiket dulu. Harga tiketnya per orang Rp.17.500,-. Harga ini berlaku sama untuk dewasa ataupun anak-anak. Plus kita bayar juga tiket parkir roda 4 kalau tidak salah Rp.5.000,-

Beberapa meter dari pintu gerbang, tempat petugas tiket tadi, ada segerombolan monyet di tepi jalan. Asa dan Raniah berteriak-teriak kegirangan. Tak terlalu banyak sih, jumlah kawanan monyetnya. Tak sebanyak monyet yang pernah kami jumpai di Baluran.

Begitu turun dari mobil di area parkir, kami disambut angin lumayan kencang. Ombaknya juga tidak santai lo, di sini. Maklum pantai selatan. Di beberapa lokasi saya melihat papan larangan bertulis: “Dilarang Mandi Di Laut”. Namun masih saja banyak orang terlihat berenang di laut. Untuk keamanan Anda, sebaiknya patuhi saja rambu ini. Masih banyak pantai yang lebih aman untuk berenang. Di sini,kita nikmati saja apa yang bisa kita nikmati.

Bukan apa-apa. Ombak laut selatan, terkadang tak bisa berdamai dengan manusia. Beberapa bulan lalu ada tiga keponakan dari staf saya di kantor, datang ke sini (meski bukan persis di lokasi ini). Dua di antaranya terjatuh saat berselfie di atas bebatuan, keduanya tertelan ombak dan meninggal dunia.

Pantai Papuma

Pasirnya Putih Bersih, Asyik Buat Bermain

Saya dan Raniah, gadis kecil kami yang tampaknya akan jadi traveler ini, bersantai sejenak di pantai. Kami bermain pasir putih, selonjoran santai, dan melihat perahu. Ahhh….. heaven! Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sini. Ayah mengajak kami cepat-cepat menuju bukit batu kecil yang ada di ujung. Kami salah memilih parkir, kami parkir di ujung yg satu sementara bukit tempat menara pandang ada di ujung lain. Saya berjalan cepat dan terkadang harus berlari, tak ingin ketinggalan momen matahari terbenam.

Sedikit ngos-ngosan, akhirnya sampai juga kami di puncak bukit. Beberapa remaja sedang berfoto dengan latar belakang sunset. Saya ngeri melihat pose mereka, mereka berpose hanya sekitar 30 cm dari tebing, beberapa posenya adalah yoga pose. Kalau terpeleset sedikit saja, ombak akan menelan mereka. Ah… dasar generasi selfie! Saya hanya ndermimil berdoa,berharap supaya tidak ada tragedi sore itu, di sini. Dalam hati saya ngomel, kalau sampai celaka, apalah gunanya foto-foto itu?

Perahu Nelayan Di Papuma

Warna-warni Perahu Nelayan

Kami menikmati sunset sepuasnya di tempat ini. memotret dari berbagai sisi. Saya sempat juga menanyakan pada Raniah, “senangkah pergi ke sini? Dan dia mengangguk malu-malu. Dan ketika saya  tanya, “maukah terus berpetualang bersama ayah-bunda? “ Dia mengangguk mantap. Yess! Keren anak bunda.

Jpeg

Matahari Terbenam Tampak Dari Balik Rumpun Pandan

Jpeg

Alhamdulillah Ada Yang Bersedia Memotretkan,Jarang-jarang Kami Bisa Punya Foto Formasi Lengkap Begini!

Hari mulai gelap ketika menuruni bukit. Kak Asa yang memang masih terlihat jejak masalah motoriknya mengeluh lelah. Langkahnya mulai diseret. “Ayo, Kak semangat!” saya menyemangatinya. Ini bukitnya tak seberapa tinggi, nanti akan lebih jauh kalau kita ke Ijen. Tapi di sana juga indah”. Saya tak henti-henti memberi support agar dia melupakan rasa payahnya.

Akhirnya sampai juga kami ke tempat parkir. Ayah mengendara santai kembali ke arah hotel. Di belakang si ijo ada beberapa kendaraan lainnya yang juga menuju ke arah kota. See you soon, papuma!

TB RESISTEN OBAT: Bisa Dicegah dan Diobati, Kok!

“Indonesia Hadapi Ancaman TB, demikian judul berita yang saya baca di sebuah portal berita dalam negeri beberapa waktu lalu. Membaca judul tersebut yang ada dalam pikiran saya adalah. Ah, masa iya? Ih, serem banget! Sebenarnya masih bisa dicegah enggak ya? Bisa diobatikah?

Lalu sayapun browsing untuk mengetahui lebih lanjut kebenaran hal tersebut. Ternyata, Indonesia adalah negara ke 8 dari 27 negara dengan TB-MDR terbanyak. Wah, jelas ini tantangan yang tidak main-main, ya.
Baca lebih lanjut

PNS, Edukasi Publik dan Indonesia Move On

Berbicara tentang stigma negatif PNS, mungkin sudah menjadi hal biasa. Bahkan ada yang mengatakan PNS itu adalah kependekan dari Pegawai Negeri Santai. Saya sebagai PNS harus menerima dan mengakui hal itu. Sudahlah, legowo saja.

Namun, legowo bukan berarti selalu nrimo mengikuti arus kemana arus membawa. Ada sebuah cita-cita untuk tetap mengabdi dengan memberikan hal terbaik, meski harus disadari seringkali kondisi seringkali tak kondusif.
Baca lebih lanjut

My Unforgettable Journey: Dengan Deg-Degan Kami Menuju Ijen ….

Saat itu, kondisi lokal di Kabupaten Bondowoso, sedikit terasa aura kegawatan. Kawah ijen yang terletak tak begitu jauh dari kota kami menunjukkan aktifitasnya. Perjalanan mendadak ini akhirnya menjadi salah satu perjalanan paling mengesankan buat saya. Bukan karena unik atau indahnya destinasi. Bukan pula karena jauhnya berperjalanan. Namun justru karena suasana tegang, antara takut tiba-tiba terjadi erupsi (parno ya) dengan kata hati untuk tetap berangkat demi sebuah amanah. Begini ceritanya …

Ijen Siaga Tiga!
Pagi itu pimpinan instansi kami mengumpulkan beberapa pejabat struktural di bawahnya, termasuk saya. Sebuah surat di tangan Bapak Pimpinan, beliau terlihat serius. Ternyata itu adalah surat perintah dari Bapak Sekretaris Daerah (Sekda).

“Kita harus naik ke ijen, ini perintah Bapak Sekda”, kata beliau.
“Hari ini juga!” Beliau menambahkan.

Sebagai pelayan masyarakat kami langsung bersiap. Ternyata Pak Sekda ingin kami memastikan kondisi segala sesuatu siap jika memang terjadi erupsi nantinya. Salah satunya saya harus mengecek kualitas sumber air yang nantinya akan menjadi sumber air bagi pengungsi. Baca lebih lanjut

Semangat Nge-Blog Dari Lomba

Blog ini saya awali pada September 2008. Posting di bulan pertama blog ini di launch adalah 17 posting. Lumayan, rata-rata berarti satu posting dalam dua hari.

Sayangnya,ini hanya terjadi pada bulan pertama. Selanjutnya aktifitas blog ini nyaris tak terlihat. Blog ini nyaris tampak seperti sedang berhibernasi. Alasannya banyak (namanya juga cari alesan), dari aktifitas di kantor yang padat, kesibukan membersamai dua anak yang benar-benar aktif, kesibukan di masyarakat dan bisnis. Alaihim…pokoknya kalau mau cari alasan memang paling gampang.

Bersyukur kemudian saya menemukan komunitas-komunitas yang sangat mensupport. Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Kumpulan Emak-Emak Blogger adalah dua komunitas yang diam-diam menumbuhkan kembali semangat menulis saya yang sudah kendor. Baik menulis di blog dan membuat naskah buku. Baca lebih lanjut