Fun Blogging 7: Menguatkan Kembali Niat Blogging

Pas awal tahu Event keren Fun Blogging akan digelar di Surabaya, saya langsung minat banget untuk ikut. Cuma, rada galau juga, bisa enggak ya hadir? Bukan apa-apa, perjalanan Bondowoso-Surabaya cukup makan waktu. Kalau pakai travel (pilihan paling aman dan nyaman), biasa berangkat jam 5 pagi dan sampai jam 11-12 siang. Kalau acara selesai jam 4, dan travel biasanya pulang balik dari Surabaya jam 5-an sore, maka saya baru sampai kembali di rumah saat tengah malam.

Baca lebih lanjut

Taman Baca Keliling By Bondowoso Writing Community Edisi Perdana

 20150412_070825 (1)

Minggu pagi sudah biasa bagi kami sekeluarga untuk berputar-putar di sekitar alun-alun Bondowoso. Asal tidak ada acara ke luar kota, sudah biasa kami berkeliaran di sana. Ha..ha… kebetulan kawasan ini juga adalah kawasan CFD alias Car Free Day, so nyaman sekali berjalan mengelilingi alun-alun tanpa khawatir terserempet kendaraan bermotor. Biasanya kami jogging lalu lanjut olahraga ringan. Baca lebih lanjut

Bondowoso Writing Community, Sinergi Untuk Bondowoso Lebih Baik

Perjumpaan Pertama Yang Menyalakan Semangat

Perjumpaan Pertama Yang Menyalakan Semangat, Foto: Muhammad Rasyid Ridho

 

Sebenarnya sudah sekitar dua tahun terakhir saya mendengar tentang keberadaan komunitas ini di Bondowoso, kota kecil berjuluk kota tape atau kota pensiunan ini. Namun saya tidak terlalu ngeh apa kegiatannya dan juga belum pernah sekalipun bergabung dalam kegiatan-kegiatannya. Cerita tentang komunitas ini saya dapat dari suami saya yang kebetulan di sosmed berteman dengan Risky, sang founder komunitas.

Lalu tetiba beberapa minggu lalu, suami mengajak untuk join di event pertama Bondowoso Writing Community di Paseban Alun-alun Bondowoso. Kamipun menghadiri acara tersebut. Acara yang dihadiri sekitar 15 pecinta literasi itu diisi ngobrol-ngobrol santai, menceritakan aktifitas masing-masing sehubungan dengan dunia literasi, dan berbagi ide-ide ke depan. Dari situ saya jadi tahu, luar biasa potensi yang dimiliki teman-teman pecinta literasi se kota saya ini. Ada Mbak Risky, sang founder yang menulis, sekaligus menggeluti dunia penerbitan indie. Ada juga Pak Dwi, Pensiunan PNS yang pernah menjabat kepala Dinas Perikanan Bondowoso, yang hingga kini masih aktif nge-blog. Ada Mbak Pipiet yang spesialis genre horor. Dan yang keren juga nih, Mas Muhammad Rasyid Ridho yang menekuni dunia review, Beliau sangat aktif mereview di blog maupun media cetak. Ada juga rekan mantan jurnalis Jawa Pos yang memiliki program literasi untuk sekolah-sekolah di desa-desa terpencil di Bondowoso. Wahh…. saya rasanya bersemangat.

Ini yang selalu kami (saya dan suami) yakini selama ini. Bahwa, ada saatnya, orang-orang bervisi sama akan dipertemukan. Meski jujur sempat dulu kami pesimis, di kota kecil ini, dengan siapa kami bisa berjejaring. Sekarang jalan makin terlihat.

Dalam kesempatan tersebut pula disepakati pertemuan dua minggu ke depan akan diisi bedah buku terbaru saya. Wahhh saya kena dapuk pertama nih… ha..ha… gak papa, saya siap!

Perjumpaan Kedua

Perjumpaan Kedua

Nah, pada pertemuan kedua ini saya menceritakan proses penulisan hingga terbitnya buku Food Combining Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah. Suasanyanya seru banget, mungkin saking semangatnya saya berbagi bagaimana perjuangan, jungkir baliknya menerbitkan buku solo pertama ini. dan, ini juga disambut antusiasme teman-teman lainnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dibahas sedikit rencana ke depan mengenai penerbitan buku. Diskusi tentang penerbitan buku berlanjut pula di grup facebook. Rencananya dalam waktu dekat kami akan menerbikan sebuah buku tentang penulisan, yang rencananya pula buku ini akan digunakan salah satunya sebagai bahan acuan pelatihan-pelatihan kepenulisan nantinya. Semoga buku ini nanti proses penulisan hingga penerbitannya dilancarkan Allah, dan diberkahi hingga membawa kebaikan terutama bagi kemajuan dunia literasi di Bondowoso.

Oh ya, buku ini juga nantinya akan digunakan untuk membiayai kegiatan Bondowoso Writng Community, ke depannya. Kegiatan lainnya? kami masih memiliki banyak agenda ke depan. Semoga kelak satu persatu dapat terealisasi. Kalau saya pribadi sih, sangat optimis. Saya lihat teman-temanpun memiliki semangat yang sama besarnya. Insyaa Allah nantinya semua akan berjalan baik, ya teman. Bondowoso Writing Community, BISA!!

*BISA saya kapital semua, sebagai penekanan dan pengingat khususnya bagi diri saya sendiri

 

 

Pengalaman Pertama Bersama Kawan Pustaka

Sebelumnya saya enggak pernah bermimpi, bahwa buku solo perdana saya akan bisa diterbitkan penerbit mayor sekelas kawan pustaka. Sungguh. Saat pertama menulis naskah food combining, saya sudah menyiapkan mental jika naskah ini akhirnya harus saya terbitkan sendiripun maka akan saya upayakan. Segitunya ya.

Sampai pada suatu sore saya membaca pesan dari Chika Ananda, editor Indscript,  agency naskah yang saya percaya untuk membantu mewujudkan mimpi saya menjadi penulis buku. Chika yang baik hati mengabarkan bahwa ada penerbit mayor yang berminat menerbitkan naskah food combining saya yang tadinya saya beri judul : FOOD COMBINING FUNKY AND EASY.

Sayapun mulai kepo, browsing dan juga ke toko buku dan mencari-cari diinternet buku seperti apa yang diterbitkan kawan pustaka. Ternyata seorang kawan di IIDN juga menerbitkan buku di Kawan Pustaka. Maka coba saya beli bukunya. Dan, wow…. Buku-buku KP itu ternyata kaya warna. Soo colourfull. Asyik lah pokoknya. Sayapun mulai mereka-reka seperti apa nanti wajah buku Food Combining saya.

COVER FOOD COMBINING all

Proses penerbitan buku ini termasuk cepat menurut saya. September 2014 outline saya di ACC, November saya selesaikan penulisannya, desember buku naik cetak dan Januari 2015 buku beredar. Mudah dan lancar? Iya, rasanya setelah melaluinya saya merasakan semua upaya berjalan sangat lancar. Apalagi tim Kawan Pustaka juga sangat kooperatif.

Oya. Ada bagian yang rada lucu dan seru menjelang buku ini naik cetak. Saat itu saya sedang backpacker dari Solo-Semarang-Jogja. Saat saya sedang hepi-hepi itulah, Mba Lidya Irawati, editor Kawan Pustaka bersama rekan lainnya tentu, sedang berjibaku mempersiapkan buku ini naik cetak. Maka kontak-kontak kami lakukan lewat WA atau telepon seluler. Waduhh… thanks a bunch lo Mba Editor dan tim lainnya. Maapkeun kalau masa-masa gawat itu justru saya kebetulan lagi halan-halan dan terkadang agak slow respon. Maklumlah, sinyal tak bisa saya beli sepaket dengan ponselnya. Ha..ha…

Overall, saya saaaaangat senang bisa bekerjasama dengan kawan pustaka. Timnya kompak dan kerjanya cakcek (bahasa jawa, artinya cepat). Oya, Kawan Pustaka juga mensupport saya dalam Giveaway yang saya adakan sebagai syukuran terbitnya buku pertama ini. Baca: Giveaway Syukuran Buku Food Combining

Berdamai Dengan Mood

Sekitar tahun 2008, awal saya belajar menulis dan mulai ngeblog, saya pikir saya hanya bisa menulis jika sedang dalam mood yang baik. Maka kegiatan menulis menjadi tidak konsisten, sangat kenceng ketika good mood, lalu kendor bahkan berhenti saat merasa bad mood. Apalagi jika mood yang kurang oke pas bertemu dengan saat sibuk di kantor. Ya sudah, menulis bisa libur berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Buseeeet….cuti bersalin aja kalah!

Lalu kemudian saya mulai mencoba mendisiplinkan diri, menulis setiap hari. Sesibuk apapun se-bad mood  apapun tetap menulis. Nah, sekarang repotnya, pada saat badmood itu menulis jadi enggak asyik, tulisan juga pasti jadi garing. Tantangannya adalah, bagaimana berdamai dengan mood. Artinya saya harus dapat tetap produktif dalam berbagai mood. Lalu saya mendapatkan inspirasi dari salah satu bukunya Mbak Jennie S Bev, WNI yang terbilang cukup sukses di US sana, bahkan dijuluki queen of research. Dalam bukunya itu Jennie memaparkan berbagai kondisi mood dan bagaimana memenej kegiatan kita sejalan dengan berbagai mood tersebut. Dan di situ pula disebutkan, mood bukan hanya terklasifikasi menjadi bad mood dan good mood, tetapi ada beberapa lagi. Boleh ya, saya bagi buat Anda.

Super smart mood – Ahhh… ini kondisi mood yang sangat asyik. Kita dapat mengerjakan pekerjaan berat yang membutuhkan pemikiran dan ide-ide segar bahkan dapat dilakukan dengan bermultitasking. Nah, kenali saat-saat seperti ini dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan bagian dari aktifitas menulis yg Anda rasa paling sulit. Kalau buat saya, saat begini paling pas membuat outline, mengembangkan ide-ide mentah menjadi outline yang akan membimbing pekerjaan menulis selanjutnya.

Smart but not super smart – Dalam mood ini, Anda masih bisa mengerjakan pekerjaan sulit dengan ok, namun biasanya tidak terlalu ok untuk bermultitasking. Biasanya kalau berada dalam mood ini, saya tetap bisa mengerjakan pekerjaan sulit meski perlu upaya lebih.

 

Smart mood – Nah, kalau dalam mood yang ini, Anda masih bisa produktif. Hanya saja biasanya pekerjaan yg bisa dilakukan dalam kondisi ini adalah pekerjaan yang melanjutkan saja, bukan hal-hal yang baru atau membutuhkan ide-ide segar.

 

Mediocre mood – Masih bisa bekerja di mood ini? Bisa sih, tapi biasanya pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran mendalam, misalnya mengedit blogpost, membalas komen, dll. Terus saja menulis.

 

Super lame – Wah, Anda mulai lemot dalam mood ini, lalu bagaimana? Libur menulis? Wah… kalau buat saya itu terlalu “mewah”, masih banyak pilihan yang bisa dilakukan daripada benar-benar berhenti menulis gegara mood ini. blogwalking, nimbrung di grup-grup menulis atau grup lain yang sesuai minat dan sarat info bergizi, membaca, dll. Semua masih berkaitan dengan aktifitas menulis bukan? Terlalu lemot untuk menulis artikel? Coba tulis saja status atau note di social media Anda. Meski singkat, tulisan tetap upayakan bergizi.

 

Totally blank – Priiit… wah Anda benar-benar blank kali ini. coba saja berjalan-jalan ke luar mencari udara segar. Ke taman kota misalnya, atau cukup ke halaman rumah saja. Tak sempat keluar? Biasanya saya menata ulang pojok menulis saya. Ganti taplak, ganti bunga, atur ulang. Dan taraaa…. Saya siap menulis kembali.

 

Ada banyak hal yang terkadang dapat memperbaiki suasana hati, membuat kita yang tadinya ogah-ogahan menjadi bersemangat. Ada yang menjadikan pakaian dan berbagai pernak-pernik fashion sebagai mood booster. Ini terkadang juga saya lakukan, misalnya dengan mengenakan kerudung kesukaan berwarna cerah dan motif apik, atau saya pakai bros dan asesoris lain yang membuat saya merasa lebih bersemangat. Meski Anda menulis di rumah saja, mandi, berhias dan berpakaian yang dengan apik, sangat penting. Rasa segar dan perasaan oke akan membuat mood juga lebih baik.

Makanan dan minuman tertentu juga bisa menjadi mood booster. Kopi atau teh biasanya dikonsumsi untuk memperoleh efek bersemangat. Tapi hati-hati, jangan berlebihan mengkonsumsinya, Anda bisa-bisa kecanduan. Kalau buat saya, air jeruk nipis hangat bisa menjadi mood booster si pagi hari. Atau secangkir teh rempah sebagai penyemangat di sore hari. Nah, apa mood booster Anda? Share yuuuk

 Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong

banner giveaway 2

KEB: Rumah Yang Hangat Buat Emak Blogger

27 Januari 2014 ….

Saya membuka beberapa pesan lama untuk menelusurinya. Eh, ternyata memang belum terlalu lama. Saya menemukan tanggal di atas di sebuah pesan lama Mak RT KEB yang cantik dan imut, siapa lagi kalau bukan Mak Sary Melati.

Entah bagaimana awalnya saya tertari bergabung dengan dalam KEB alias Kumpulan Emak-emak Blogger. Tadinya saya ini kan blogger angin-anginan. He..he… kadang ngeblog, kadang males. Terutama untuk personal blog, dari tahun 2008 ya begitu-begitu aja ngeblog kalo lagi semangat, lalu lamaaaa sekali enggak menulis. Enggak pernah BW, jarang banget balesin komen. Dsb. Apalagi yang namanya blog kontes, GA dan sebangsanya, hedeuuuhh jangan tanya deh! Blank banget!

Baru Kenal Blog Kontes

Memang saat saat bergabung dengan KEB saya sudah mengelola beberapa blog bisnis bersama suami saya. Ya sudah begitu aja, jualan. Saya belum tahu bagaimana caranya blog-blog lain di luar blog bisnis itu bisa lebih bermanfaat. Bukan hanya untk menghasilkan uang, tetapi lebih dari itu, untuk saling menginspirasi!

Bulan pertama bergabung di KEB, saya gunakan untuk kepo maksimal, semua file yang ada saya baca, semua diskusi saya ikuti. Meski, memang sih, saya lebih sering menjadi silent reader, awalnya. Bulan kedua saya mulai tertarik mengikut blog contest, eh kebetulan temanya gue banget. Tentang hutan. Melihat ada seorang emak KEB yang ikut, yaudah pengen nyoba ikut juga. Mungkin karena temanya yang klik dengan saya, drafting sebentar, jadi deh! Daaan… kejutan besarnya adalah… saya menang! Rasanya pengen nangis dan tertawa dalam waktu bersamaan. How come?

Ini menjadi semacam titik balik yang sungguh berarti dalam sejarah ngeblog saya. Bukan, bukan sekedar lombanya. Bukan pula soal menangnya. Tapi, baru di sini saya menyadari, bahwa saya bisa mengkontribusikan sesuatu yang “lebih” dari yang saya bayangkan sebelumnya, “hanya” dengan ketak-ketik blogging. Thanks KEB 🙂

Tahu Paid Review Juga Dari KEB!

Jauh sebelum kenal KEB, saya sangat hobby ngintip blog-blog nya para beauty blogger. Diantaranya suka membaca review di sana. Namun baru saat ketemu KEB saya tahu bahwa review bisa menjadi salah satu jalan ngumpulin duit dari blog. Ya lumayan lah buat beli dawet teman segerombolan. Meski banyak BB yang saya tahu mereview tanpa honor, dengan membeli sendiri produknya dan mereview secara independen.

Saya sih, sebenarnya tidak terlalu berharap bisa dapet duit buat ngopi-ngopi cantik dari paid review, dalam wkt dekat. Saya merasa masih perlu waktu memperbaiki kualitas blog saya. Tapi memang dasarnya silaturahmi itu memperbanyak rezeki lo ya. Ngumpul-ngumpul di KEB (dan sebuah komunitas perempuan penulis) mempermudah saya dapet pekerjaan review. Meski belum dengan honor boombastis, tapi sangat layak dan memadai bagi pemula seperti saya. Tentu segalanya sangat patut disyukuri. Nah, sekali lagi saya harus berterimakasih pada KEB.

Nasib Blogger Ndeso, Susah Ngopdar!

Posisi saya yang berada di pelosok, (*halah kumat lebay) membuat agak susah bisa bertemu secara langsung dengan teman-teman KEB. Sebenarnya jauh di dalam hati, terkadang sungguh mupeng, melihat teman-teman bisa ngopdar, baik sekedar ketemu, ngerumpi cantik dan haha hihi, ataupun dalam even-even seperti seminar, launching produk, dll.

Makin mupenglah saya melihat akhir-akhir ini beberapa teman KEB yang sudah layak disebut cikgunya blogging, bikin acara-acara pelatihan. Duh..duhh…sakitnya tuh di sini (idihhhh…). Haus rasanya mencariilmu blogging, namun lokasi yang tak memungkinkan. Trus lihat KEB juga punya acara seperti Arisan Ilmu, owwww rasanya kalau punya sayap saya pengen terbang ke sana.

Harapan saya sih, mungkin KEB bisa memfasilitasi training-traing online. Perlu banget loh, apalagi buat blogger ndeso kayak saya ini. yang kalau mau ke kota mesti duduk di bus atau kereta lebih dari 6 jam. Ha..ha…

Last…

Saya mengucapkan selamat ulang tahun buat KEB. Smoga makin bisa menginspirasi dan tetap menjadi rumah yang hangat bagi kami para emak blogger. Saya juga mau mengucapkan terimakasih kepada founder dan para MakMin yang sudah tulus ikhlas merawat KEB, sehingga tetap menjadi rumah yang nyaman bagi kita semua. Love U KEB, Muach….muach….

0_0_KEB sauyunan

Nge-Blog Untuk Berbagi

O yeahh sekarang ternyata hari blogger yak? Astaga, lihat sekilas share link teman-teman blogger se sosmed, ternyata pada posting untuk hari intimewa ini.

Well, meski tak harus juga posting di hari ini, tapi kebetulan rasanya pingin nulis dan harus nulis! Buka blog dan ternyata… Omaigattt! Posting terakhir di tgl 30 bulan lalu. Huh blogger macam apa aku? *intonasi ala sinetron.

He..he..semoga bukan apologi, bahwa belakangan tak posting karena memang sedang ada pekerjaan yang sangat menyita waktu dan energi saya. Sesuatu yang tak dapat saya sampaikan sekarang, namun insyaallah kelak akan saya ceritakan, jika sudah selesai. Uuu lala… beginilah dinamika blogger paruh waktu.

Di hari istimewanya para blogger ini, saya hanya ingin bercerita mengapa saya blogging dan  hal-hal asyik yang bisa saya dapatkan melalui kegiatan nge-blog.

Kembali surut ke masa beberapa waktu silam. Sebenarnya blog ini, ya blog yang sedang Anda baca ini adalah blog pertama saya, adalah hasil “pemaksaan” suami. Awalnya blogging hanya di niatkan untuk menjadi semacam catatan aktifitas saya di kantor. Terlebih masa itu, tahun 2008-an saya bersama beberapa orang sedang menjalani misi yang super heboh di instansi kami.

Ya, masa itu saya ditugaskan merintis sebuah unit baru, dengan di bekali beberapa rekan sebagai partner kerja. Suasana kerja yang super rempong, terkadang stress, menangis bersama-sama, kadang marah, dsb, kemudian dinilai oleh suami sebagai sesuatu yang perlu terarsip.

Apalagi di tengah santernya stigma negatif PNS. Rasanya ingin memberi angin segar dengan menunjukkan cerita kami pada dunia :  “Ini lho, ada PNS yang kerjanya bener, kok!”. Ha…ha, norak? yo wis ben!

Singkatnya, lahirlah blog ini yang lalu diikuti beberapa blog saya yang lain di kemdian hari, setelah saya sudah lebih ngeh, bahwa blog memang sungguh multifungsi.

Di antara berbagai manfaat blogging yang saya rasakan adalah, blogging membuat saya menemukan teman-teman baru. Bahkan lebih dari itu, boleh dibilang, ngeblog menolong saya menemukan keluarga baru.

Seperti semalam misalkan ketika pagi hari sebelumnya tiba-tiba Mbak Prit, blogger Jember mengajak saya on-air di RRI Jember. Sebuah acara ngobrol santai yang kalau saya boleh bilang kayak sudah menjadi brandnya Prit dan suami, cs. Memang sih, saya sudah berkali on air di RRI jember, tetapi menjadi “berbeda” ketika yang mengundang adalah teman sesama blogger.

Obrolan santai namun gayeng seolah tak ada jarak di antara kami. Padahal saya sedang duduk di kursi  teras belakang rumah kami. Prit cs di studio RRI. Hangat dan akrab.

Kebahagiaan lain dari nge-blog adalah saat tahu bahwa apa yang kita bagi ternyata bermanfaat buat orang lain. Misalnya, satu-dua tahun terakhir saya aktif menulis tentang food combining, pola makan sehat, penyembuhan alami, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bagaimana mengembalikan “kodrat” tubuh sesuai kondisi alaminya.

Senangnya ketika ada teman yang bilang, bahwa apa yang say tulis telah mereka coba praktekkan dan mereka mendapatkan manfaat darinya.Bagi saya, hal-hal demikian bisa dibilang kebahagiaan melampaui mendapat duit juta-juta dari blog. Ya!

Begitulah, blogging tak hanya memberikan materi lewat beberapa blog bisnis yang saya kelola, juga bukan sekedar hadiah-hadiah lomba blog berupa benda atau rupiah, lebih….lebih dari sekedar itu.

Jadi, bagaimana saya bisa berhenti blogging? Di tengah berbagai kesibukan sebagai PNS, mengurus rumah dan keluarga, mengurus bisnis bersama suami, dan bla…bla…bla…, maka blogging tetaplah sesuatu yang tak dapat saya tinggalkan.

Akhirnya, Selamat Hari Blogger para sahabat blogger. Yuk terus ngeblog, menginspirasi, berbagi dan menggoreskan karya untuk semesta.

Jember Suatu Siang : Kisah Perjuangan Pak Sroedji dan Emosi Yang Teraduk-Aduk

0_thenovel2

Saya mendengar nama Sroedji beberapa tahun lalu pada masa-masa awal saya berada di Bondowoso. Tetapi, ya hanya sekedar tahu nama dan informasi bahwa beliau seorang pahlawan. Sudah, titik begitu saja informasi yang saya tahu.*please jangan bilang, ter la lu!

Eh, tiba-tiba beberapa bulan lalu, di kalangan teman-teman komunitas blogger beredar informasi, bahwa ada seorang teman blogger juga yang menulis buku tentang kisah kepahlawanan Pak Sroedji ini dalam bentuk novel. Lalu, muncul pula informasi tentang lomba resensi novel tersebut. Saya sangat tertarik, sayangnya untuk mendapatkan novel itu berarti saya harus ke Jember, karena pasti tak ada di toko buku manapun di Bondowoso. Ha… ha… nasib wong ndeso.Dan lagi, saat itu saja sedang sibukkejar beberapa deadline.

Beberapa minggu kemudian, satu demi satu teman blogger memposting liputan acara bedah novel tersebut. Waduh… saya ngiri tingkat dewa. Kapan saya bisa hadir di acara serupa. Pasalnya di Bondowoso, mana ada acara begituan.

Namun saya berharap dan saya yakin, bedah novel Sang Patriot pasti juga bakalan diadakan di Jember. Pasalnya di situlah Pak Sroedji gugur, dan menorehkan jejak perjuangannya yang demikian heroik.

Benar saja dugaan saya. Tak lama berselang, saya melihat undangan terbuka untuk menghadiri Bedah Novel Sang Patriot di RRI Jember. Langsunglah saya pesan seat ke Mak Priit Api Kecil. Meski terus terang saya galau, pasalnya acara tersebut bersamaan dengan acara kantor ke kota Malang. Yang penting dapat seat dululah, pikir saya.

Eh, dasar rejeki. Semua bisa diatur. Ternyata saya bisa menghadiri acara tersebut. Sebenarnya suami juga ingin hadir, namun siapa yang akan menjemput sekolah si sulung kemudian? Akhirnya saya harus menghadirinya sendiri.

Pukul delapan saya sudah berangkat, diantar Suami ke terminal. Bondowoso-Jember saya putuskan dengan naik bus saja. Sekalian bernostalgia, karena sudah bertahun saya tak naik bus. Perjalanan satu jam dengan bus, disambung setengah jam dengan angkot dan ganti becak, maka sampailah saya di RRI Jember.

Mak Priit dan Suami terlihat siap menyambut tetamu di pintu aula. Saya ucapkan salam dan menyapa mereka, memperkenalkan diri. Ternyata saudara-saudara, mereka berdua tak mengenali saya. Pangling kata Mak Priit. Mungkin karena kadar kecantikan saya sedang meningkat. *abaikan.

Cerita Proses Penggarapan Novel Yang Menggugah
Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam acara bedah novel ini. Pertama, tentu saja sang penulis novel itu sendiri, Mbak Irma Devita, yang cucu dari Pak Sroedji. Kedua Kang ilham, akademisi Unej dan budayawan Jember serta Pak Akhmad Hariyono yang juga seorang akademisi.

Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel "SAng Patriot"

Mbak Irma menceritakan proses penulisan novel “SAng Patriot”

Bagi saya, cerita proses penulisan novel ini menjadi sangat menarik. Bagaimana Mbak Irma yang tadinya penulis buku-buku non fiksi, bergenre Hukum, tiba-tiba menyebrang ke genre novel. Ini sangat menarik.

Saya yakin, proses penggarapan novel ini pasti tak mudah. Apalagi ini menyangkut data-data dari tahun yang lampau. Coba, di Indonesia ini mencari data yang untuk saat ini saja seringkali susah. Apalagi ini data dari peristiwa yang sudah berpuluh tahun lampau.

Dalam kesempatan tersebut Mbak Irma juga menceritakan kondisi-kondisi berat yang harus dihadapi saat penulisan. Seperti misalnya yang terkait dengan DNA memory, yaitu ingatan yang diturunkan melalui DNA. Dimana pada bagian-bagian yang mencekam, sang penulis merasa seperti benar-benar hadir dalam situasi yang diceritakan. Merasakan ketegangan, ketakutan bahkan sampai pada gejala fisik yang sama dengan yang dialami tokohnya. Ini menurut saya bukan hal mudah.

Pengakuan Marjolein
Marjolein adalah seorang perempuan muda, Asal Belanda yang turut hadir dalam kesempatan tersebut. Dia bercerita bahwa kakeknya adalah seorang marinir yang ditempatkan di jawa Timur pada masa penjajahan.

Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional

Cerita Marjoleine, terbata-bata dan sedikit emosional

Kalau saya tak salah menangkap (bahasa Indonesia marjoleine sedikit kurang jelas), dia mengungkapkan penghargaannya khususnya terhadap keluarga Mbak Irma, bahwa setelah apa yang telah dilakukan nenek moyangnya ternyata keluarga Mbak Irma masih menerimanya dengan baik tanpa dendam.

Marjolein mengungkapkan bahwa di Belanda, para pejuang kita yang di sini kita sebut pahlawan, di Belanda masih saja dikenal dengan sebutan extrimist. Dan dia benar-benar heran, bagaimana orang yang bertanggungjawab terhadap serangkaian kekejaman perang yang sungguh brutal, di Belanda sono justru mendapat medali penghargaan. Jangan nggumun Marjo, inilah SUDUT PANDANG, kata saya dalam hati.

Emosi Teraduk-aduk
Tadinya saya pikir, saya sedang cengeng, mengapa sepanjang acara ini saya harus berkali-kali membesut air mata. Padahal saya tidak sedang PMS.

Saya tak mampu menahan airmata berjatuhan, ketika Bintang,seorang anak berprestasi cemerlang yang baru saja memenangi lomba storytelling, membacakan puisi. Puisi yang ditulis Mbak Irma dan terdapat pada bagian akhir novel Sang Patriot.
Air mata saya lagi-lagi tak tertahan ketika ditayangkan Film Dokumenter tentang perjuangan pak Sroedji ini. waduh… padahal saya lupa tak bawa saputangan. Untung ada face paper, lumayanlah buat sekedar membesut air mata.

Ternyata, tidak ada yang salah dengan diri saya. Bahkan Mbak Ety, sang MC acara berkali-kali terlihat termehek-mehek. Sampai-sampai pada akhir acara sempat kehilangan kata-kata. Speechless…
Saya pribadi merasa berada dalam kondisi terkocok-kocok. Antara kengerian mendengar cerita kekejaman kaum penjajah masa itu, rasa pedih seperti ikut merasakan ketakutan dan siksaan para pendahulu masa itu, dan seperti ribuan rasa lain yang berkecamuk.

Sungguh, dibanding mereka, para syuhada … saya bukan apa-apa. Lalu pantaskah kita sekarang ini sedikit-sedikit mengeluh? Pantaskah kita bekerja setengah-setengah? Pantaskah kita…. bahkan sekedar beda pilihan ca(wa)pres saja sudah membuat kita saling hujat.
No… oh, no!

Please wake up. Banyak… amat banyak hal yang harus kita kerjakan, daripada hanya sekedar meributkan sekedar secarik kertas yang nongol dari balik jas salah seorang capres.

Bertemu Teman-teman
Salah satu alasan mengapa saya bela-belain ingin sekali datang ke acara ini, selain tentu karena novel itu sendiri adalah karena kenginan bertemu teman-teman blogger.Sebagai newbie di dua komunitas blogger (Warung Blogger dan Kumpulan Emak Blogger) saya sama sekali belum pernah kopdar dengan teman-teman. lokasi geografislah salah satu alasannya.

20140612_124244

Alhamdulillah, acara ini mempertemukan saya dengan beberapa teman blogger. Mak Priiit dan suaminya Mas RZ Hakim juga Mak Lianny. Di sini juga saya bertemu Mbak Ety, penyiar RRI yang sebenarnya sudah cukup sering on air bersama, namun karena saya via telepon, maka kami belum pernah bertemu muka.

Meski hanya beberapa teman blogger yang bisa saya temui, next time insyaa Allah bisa ketemuan yng lebih seru ya teman-teman …