Kado Ulang Tahun Untuk Suami

gift-264165_640

Kado Ulang Tahun Untuk Suami – Siapa yang pernah mengalami kejadian yang amat enggak banget ini, lupa ultah suami? Sayalah orangnya! Ngeselin banget emang ya.

Jadi ceritanya, sebenarnya saya sudah tahu dan sadar betul akan sifat pelupa saya, maka dari itu, di gadget saya set semua peristiwa dan agenda penting, termasuk ultah suami dan anak-anak dan anniversary kami. Unfortunately…. ternyata saat ganti gadget beberapa waktu lalu, saya lupa men setnya kembali di gadget baru tersebut. Lalu ..kejadianlah…. pagi 10 Februari lalu… tetiba suami dengan senyum-senyum lucu nyanyi-nyanyi… hepi besdei to me…. hepi besdei to me…. Ya Tuhaaaaan…. aduh…jadi ngerasa gagal menjadi istri solihah. Maafkanlah akuhhh suwamikkkk…

Segera deh lari ke dia, menghambur kasih peluk dan cium paling hangat. Aduh… ini kesalahan betul deh. Dan sampai saat ini saya belum kasih hadiah yang berupa barang. Jadi saya kepikiran melist beberapa benda yang nantinya saya jadikan hadiah buat suami paling hangat, paling support dan paling baikkkk sedunia.

Well inilah list nya. Nantinya tulisan ini akan jadi acuan buat saya untuk hadiah-hadiah buatnya ke depan. Bukan cuma buat momen ultah tapi juga momen istimewa lainnya. Toh buatnya, kasih hadiah sesering mungkin juga enggak ada ruginya. Karena dia terlalu istimewa untuk “hanya” dikasih hadiah pas ultah.

1. Benda-benda outdoor dan keperluan traveling
Siapa yang suami atau pacarnya doyan kegiatan outdoor? Suami saya salah satu pecinta kegiatan outdoor dan … beliau tergolong itchy feet. Jeda sebentar aja bisa lo ngabur ke tempat wisata, gunung, bukit, hutan di dekat rumah. Maka saya rasa, sandal gunung, tas pinggang, atau semacam pisau victorinox itu aja bisa jadi kado spesial buat suami.

2. Perlengkapan olah raga
Suami saya pecinta olah raga lari. So… mungkin sport wear bisa jadi pilihan kado yang amat berguna. Atau… kalau mau irit, kalau pas kebetulan enggak punya dana banyak, dibikinin kalender event Running selama setahun, pasti juga bisa jadi spesial buatnya. Atau bahkan sekalian aja daftarin, sekalian atur keikutsertaannya di event lari ya. Asal jangan lari dari kenyataan. Ha..ha…

3. Perlengkapan kerja
Kalau yang suaminya kerja kantoran, mungkin bisa diberikan kado berupa tas kerja pria yang keren. Beberapa waktu lalu saya browsing, wih… tas kerja lelaki itu kece-kece ya. Dan pilihannyapun banyak. Bisa banget disesuaikan buat style para lelaki masing-masing. Kalau suami saya, dijamin deh… pilihannya tetap yang berbau-bau casual gitu.

Perlengkapan kerja lainnya juga bisa lo jadi kado. Pena misalnya, atau agenda juga bisa. Bisa juga belikan jam untuk di meja kerjanya.

4. Pakaian
Biar makin kece, ide bagus juga rasanya kasih pak suami pakaian. Apa style suami teman-teman? Kalau suami saya buat sehari-hari cukup jeans dan T-shirt. Ha..ha… muda banget ya seleranya beliau meski sudah pertengahan empat puluh!

Untuk special event, suami suka batik dan wastra etnik-etnik lainnya. beliau punya koleksi batik yang lumayan. Dipakai ke aman batinnya, mengingat beliau jarang hadir ke acara formal ? Ke Mesjid untuk sholat Jum’at dan sholat Ied ! Iya! Keren banget pilihan suami eyke. Ke tempat ibadah kudu kece dan keren. Dan batik adalah pilihan pakaian yang sangat ngindonesia tetapi tetap pantas buat ibadah. Ganteng bojoku kalau ke masjid pakai batik plus peci yang juga sangat nasional kelihatannya.

5. Liburan Berdua
Aaaakkk…. ini cita-cita bangettttt … ngettt…. sejak melahirkan si sulung 2005 lampau, kami belum lagi pernah punya kesempatan vacation berdua. Suatu saat pengen deh arrange liburan buat berdua saja, untuk kejutan buat beliau. Semogaaaaa…..

Itu beberapa list persiapan saya buat kado pak suami. Silahkan banget kalau mau jadikan inspirasi kado lelaki Anda ya. Atau mau share ide lain ?? Monggoooo ….

Kak Asa Sudah Pandai Antre

Pengalaman backpacking selama liburan kemarin, saya rasakan baaaaanyak sekali memberi manfaat bagi kami. Anak-anak terutama. Salah satunya adalah belajar antre dan bersabar. Ini terutama buat Kak Asa yang pada masa lalu pernah berkali-kali menerima sangkaan hiperakitif, ADHD, ADD dsb akibat perilaku aktif dan tidak sabarannya. Meski kemudian dari hasil assesment di sebuah pusat tumbuh kembang di Jember, tak satupun tuduhan tersebut terbukti.

20141231_193004

Kak Asa, Kelelahan Sesaat Setelah Kereta Tiba Di Stasiun Jember

Satu setengan tahun lalu, “jejak” ketidak sabaran masih sangat terlihat di anak lanang saya ini. Bu Guru, waktu kelas satu melaporkan Kak Asa belum bisa antre saat membeli makanan di kantin sekolah. Dan saya sangat bersyukur bahwa persoalan ini menjadi perhatian serius pihak sekolah.  Seperti yang mereka sampaikan di awal masa sekolah, bahwa aspek karakter akan menjadi perhatian utama.Kognitif jauh lebih mudah.

Bepergian ala backpaker mau tak mau harus membuat kami berkali-kali antre dan menunggu. Antre tiket, menunggu kereta datang, menunggu bus, dsb. Dan saya sangat bersyukur, Mas Asa dan juga adiknya Raniah dapat melewatinya dengan sangat baik.

Bahkan ada cerita menarik di akhir perjalanan kami kemarin. Saat kereta mencapai stasiun jember, semua penumpang mulai bersiap turun. Kami ada di urutan paling belakang karena posisi kursi kami paling belakang. Dan kami tak ingin lewat pintu belakang sebab di sana tak tersedia tangga turun. Tinggi Bok! Saya khawatir anak-anak ada yang terjatuh.

Jadi dengan sabar berbaris dan berjalan perlahan menuju pintu. Sementara  berapa bapak-bapak, penumpang yang posisi duduknya di depan kami, justru terlihat santai, tetap di tempat duduknya dan masih mengobrol dengan sesama penumpang. Mungkin mereka mengambil giliran turun belakangan saja, pikir saya.

Eh tiba-tiba ketika kami sudah sangat dekat dengan pintu, salah seorang Bapak berdiri dan memposisikan diri di depan kak Asa. “Eh, jangan nyalib dong Pak, Gak boleh”, kata si kakak.

Wah, saat itu rasanya kepala saya membesar berali-kali lipat ukurannya. Anak ini berani mengingatkan orang dewasa yang bersikap tak semestinya. Ah, Nang. Bunda bangga!

Si Bapak dengan ekspresi rada malu menjawab, “iya nak, mestinya bapak antri ya”. Alhamdulillah, orang dewasa yang bijak, pikir saya. Saya tersenyum dan mengangguk sopan kepadanya.  Dalam hati berterimakasih, atas tanggapannya yang bijak terhadap anak saya.

Kami terus melangkah mendekati pintu. Seorang Bapak terjatuh. Ini otomatis membuat perjalanan pengantre makin lama. Tapi ini juga saat tepat mengajarkan empati. Asa terlihat sedikit resah. “Sabar ya sayang, kasihan tuh Bapak itu tejatuh, biar ditolong dulu ya”. Si Asa kembali kalem.

Banyak sekali yang kami dapatkan selama dua minggu backpacking. Harapan terbesar saya, bukan hanya membuat anak-anak kaya pengalaman, tetapi juga mengasah empati mereka. Cerita lain akan saya tulis di postingan selanjutnya.

Bermain Itu Penting!

Play is the bussiness of early childhood.

(Papalia, Olds, and Feldman, 2006). 

Siapa sih yang tak tahu, bahwa anak berkembang dengan bermain. Makin pintar dan makin banyak tahu juga lewat bermain. Bermain memang dunia anak, kok. Anak saya yang nomor dua seringkali mengatakan, “aku masih sibuk, Bun”, ketika saya memintanya mengerjakan sesuatu. Saat ditengok, ternyata yang disebutnya sibuk adalah sibuk bermain. ha..ha…. segitu pentingnya bermain bagi mereka.

Baca lebih lanjut

“Bun, Aku dicium R*fi Ahmad!”

Beberapa hari lalu, saat saya temani belajar bakda Maghrib, tetiba Rani, anak saya yang nomor dua berkata. ” Bun, tadi aku dicium R*fi Ahmad!”

 

Mak jlegerrrr…..

Langsung sejuta prasangka ada di kepala saya. *self toyor. Pernyataan si gadis yang baru beberapa minggu menikmati bangku kelas satu SD ini membuat saya terkaget-kaget.

Pertama, kami tak pernah membiarkan anak-anak nonton sinetron pun acara-acara TV yang gak jelas lainnya. Ini dari mana coba si gadis kecil tahu nama R*fi Ahmad? Belum lagi pengakuann bahwa ia telah dicium. aduh…duh..duhh!

Untunglah Rani segera menjelaskan pernyataannya. R*fi Ahmad itu temenku. Wajah dan rambutnya kayak Dik Yoga. Yang disebutnya Dik Yoga adalah anak ART kami. Jadi Si R*fi Ahmad, teman anak gadisku ini adalah bocah kecil kurus berambut njegrik.

Owalahhh….

Bundanya buru-buru tepok jidat. Lalu mewanti-wanti. “Besok lagi jangan mau dicium R*fi Ahmad ya, Dek. Trus kalau dia masih maksa, bilangin Bu Guru aja ya, Biar Bu Guru yang nasehatin”.

Duh… Gusti…

Jadi Ibu jaman sekarang, rekk! Anak masih ingusan aja udah sport jantung begini.

Bersama Ayah Adalah Kegembiraan

Ayah tunjukkan kami kegembiraan... gairah... dan impian Lokasi:Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Ayah tunjukkan kami kegembiraan… gairah… dan impian
Lokasi:Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Nak…, ayah memang bukan yang melahirkanmu.
Ayah juga tak mungkin meneteskan air susu untukmu.
Namun tahukah nak,
Tetes keringat ayahlah yang mentenagai langkahmu
Ayahlah pula yang menunjukanmu kegembiraan…
Gairah…
Dan
Impian…

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”

lomba blog cinta monumental

Persiapkan Sejak Muda, Kunci Pensiun Sejahtera


Juli 2038, pagi setengah siang yang hangat
Di sebuah pantai cantik di belahan Indonesia Timur ……

Saya sedang berjemur, menikmati matahari hangat sembari menikmati sepiring buah-buahan lokal. Gaya sarapan yang sudah kami jalani lebih dari dua puluh tahun, sebagai salah satu ikhtiar kami untuk sehat.

Sementara suami disamping saya sedang membaca berita terkini melalui gadgetnya. Kami sedang dalam perjalanan bulan madu yang kesekian, momen yang kami rencanakan untuk merayakan awal masa pensiun saya sebagai pelayan masyarakat.

Visualisasi, Orang bilang, cita-cita akan besar peluang kesampaian jika divisualisasikan-sumber dokpri dan thinkstock

Visualisasi, Orang bilang, cita-cita akan besar peluang kesampaian jika divisualisasikan-sumber dokpri dan thinkstock

Itulah salah satu visualisasi masa pensiun versi saya. Saya ingin menikmati masa pensiun dengan tenang, bahagia dan sejahtera. Saya ingin kami berdua, saya dan suami masih bertubuh sehat sehingga mampu bertualang mewujudkan segala sesuatu yang sulit dapat kami jalani dimasa produktif kami, karena berbagai alasan.

Saya juga merencanakan kondisi finansial yang baik masa itu. Bahkan, kalau bisa makin baik dari kondisi di saat kami masih bekerja. Alasannya? Kami ingin menjadi orang tua yang mandiri, yang tak merepotkan anak-anak secara finansial dan bahkan bisa dengan bebas memberikan hadiah-hadiah untuk anak dan cucu-cucu kami, tanpa kekhawatiran finansial. Baca lebih lanjut